BANDUNG. Kemacetan nampaknya telah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat perkotaan, khusunya daerah Jabodetabek. Kemacetan juga terjadi di berbagai ruas jalan penghubung antar kota. Salah satunya adalah koridor tol Jakarta – Cikampek (Japek). Pemerintah melakukan berbagai upaya dalam menangani kemacetan di koridor tol Japek. Misalnya dengan membangun Light Rapid Transit (LRT) dan Kereta Api Cepat Jakarta – Bandung sehingga masyarakat dapat beralih menggunakan transportasi umum tersebut. Namun, pemerintah juga nampaknya melakukan kebijakan yang kontradiktif dengan membangun koridor tol Japek Elevated atau Jalan Tol Layang.

 

Dosen Teknik Sipil ITB yang juga merupakan Ketua Umum Masyarakat Infrastruktur (MII), Harun Al Rasyid Lubis berpendapat bahwa pembangunan ketiga proyek besar dalam waktu bersamaan ini justru akan menimbulkan side effect negatif yang besar karena kemacetan justru akan semakin parah. Ia telah melakukan pendekatan perhitungan besar kerugian yang akan ditanggung publik selama masa pembangunan jalan layang tol Japek. Ada dua jenis kerugian yang dihitung yaitu pemborosan bahan bakar dan kerugian waktu.

 

Kemacetan di Tol Jakarta

Untuk menghitung pemborosan bahan bakar ia menggunakan data arus lalu lintas bulanan tahun 2017 (Januari, Februari dan Maret) dari PT. Jasa Marga untuk koridor tol Japek. Dari data tersebut, diketahui bahwa setiap harinya terdapat sekitar 600 ribu kendaraan yang melewati koridor ini. Asumsi moderat occupancy mobil sebesar 1,67 dan average trip length 0,65 panjang tol Jakarta- Cikampek. Data lalu lintas tersebut kemudian dibagi menjadi 3 kategori, yaitu kategori peak, off-peak dan malam. Ketiga kategori ini dibedakan dengan volume lalu lintas dan lamanya waktu tempuh kendaraan pada saat melalui ruas koridor tol Japek. Kategori peak memiliki volume lalu lintas terbesar dan waktu tempuh yang paling lama, sedangkan kategori malam memiliki volume lalu lintas terkecil dan waktu tempuh terpendek (tidak terjadi kemacetan). Kategori off-peak berada diantara kedua kategori diatas.

 

Proporsi kendaraan yang digunakan untuk estimasi ini mengacu pada data dari PT Jasa Marga, yang mana 82% dari arus lalu lintas merupakan kendaraan pribadi, pick up, truk dan bus kecil (Gol I), 11% merupakan truk 2 gandar (Gol II) dan sisanya, yaitu 7% (Gol III, IV, dan V) adalah truk 3 s.d 5 gandar. Perhitungan kerugian BBM dan waktu didasarkan pada selisih antara do-nothing dan do-something scenario. Do-nothing scenario didefinisikan sebagai kondisi tidak adanya penyempitan kapasitas dikarenakan pembangunan LRT, HST dan Japek Elevated, sedangkan kondisi do-something adalah kondisi sebaliknya, yaitu dengan adanya pembangunan infrastruktur transportasi tersebut.

 

Hasilnya cukup mengejutkan, dengan menggunakan do-nothing scenario waktu tempuh perjalanan rata-rata pada saat peak adalah 70 menit sedangkan saat off-peak dan malam di angka 35 menit. Namun ternyata dengan menggunakan do-something scenario waktu tempuh rata- rata meningkat hingga 2 kali lipat menjadi 140 menit sedangkan saat off peak mencapai 100 menit dan saat malam di angka 35 menit.

 

Dengan angka-angka tersebut didapatkan hasil kerugian harian yang ditimbulkan akibat kemacetan di koridor tol Japek adalah sebesar Rp 21,45 milyar, dengan Rp 2,15 milyar merupakan kerugian BBM dan Rp 19,3 milyar merupakan kerugian nilai waktu. Sedangkan untuk kerugian tahunan diperkirakan mencapai Rp 0,77 trilyun untuk bahan bakar minyak dan Rp 7,03 trilyun untuk kerugian nilai waktu. Apabila dijumlahkan, kerugian tahunan mencapai Rp 7,8 trilyun. Sehingga selama masa pembangunan (direncanakan selama 24 bulan) tol membuang sumber daya waktu dan BBM senilai Rp 15,6 trilyun. Menurut dosen yang juga menjadi Chairman IPKC (Infrastructure Partnership & Knowledge Center) sumbangan pemborosan kemacetan diperkirakan 65% berasal dari pembangunan tol elevated, 20% dari LRT dan 5% dari Kereta Cepat Jakarta – Bandung, sedangkan 10% nya berasal dari perbaikan jalan.

 

Ia juga menuturkan bahwa kemacetan bisa diatasi jika pengguna transportasi dari pinggir kota, yang setiap hari pulang-pergi, atau biasa disebut komuter merubah perilaku dalam pilihan berkendaranya sehari-hari. “Ini hanya bisa jika pengendara mobil berpindah ke angkutan umum. Pemerintah seharusnya fokus mengembangkan jaringan dan layanan angkutan umum di perkotaan terlebih dahulu”, ujarnya. Ia pun menyayangkan kebijakan naif yang saling menihilkan sehingga pola perilaku komuter tidak berubah dan kemacetan menjadi ritual sehari-hari. “Bukankah LRT sedang dibangun dalam koridor yang sama, juga jalan tol BeCakYu (Bekasi- Cawang- Kampung Melayu red.) sedang dibangun?”ujarnya. Selain meningkatkan jaringan layangan angkutan umum, ia mengatakan keterpaduan operasi jaringan jalan dan jalan tol juga dapat mengurangi kemacetan dengan memberlakukan ramp-metering di pintu masuk jalan tol. Menurutnya perlu juga menerapkan keterpaduan transaksi tol non- tunai antar operator tol yang berbeda dan bersebelahan. “Membangun jalan tol layang menuju tengah kota jangan sampai menular ke koridor Jagorawi dan Tangerang. Bila ini terjadi, maka lengkaplah sudah jaringan jalan dan jalan tol Jabodetabek menjadi ritual harian pemborosan waktu dan pabrik karbon terbesar di dunia”, pungkasnya.