Prestasi dunia kembali ditorehkan anak negeri. Kali ini datang dari kampus pertanian di Kota Hujan, Institut Pertanian Bogor (IPB) yakni Dr.-Ing. Azis Boing Sitanggang, dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian. Dr. Aziz masuk tujuh finalis Young Scientist bidang ilmu dan teknologi pangan yang moment puncaknya akan diselenggarakan oleh International Union of Food Science and Technology (IUFoST) pada World Congress of Food Science and Technology, Mumbai-India pada 23-27 Oktober 2018. IUFoST  merupakan organisasi ilmiah global untuk ilmu dan teknologi pangan. IUFoST  beranggotakan lebih dari 65 negara yang  melibatkan lebih dari 300 ribu ahli teknologi pangan di seluruh dunia.

Dr. Azis mengungkapkan dalam nominasi ini terdapat beberapa ketentuan, yakni usia kandidat kurang dari 35 tahun serta menunjukkan kemampuan menjadi peneliti yang unggul dalam bidang ilmu dan teknologi pangan. Kandidat juga harus menyertakan abstrak presentasi pada kongres. Kandidat harus dinominasikan oleh negaranya melalui IUFoST Adhering Bodies. Pada poin ketiga, dosen yang menyelesaikan pendidikan S3 di TU Berlin bidang chemical and process engineering ini direkomendasikan oleh Prof. Purwiyatno Hariyadi (Vice Chair of Codex Alimentarius Commission (CAC) 2017-2019) dan Prof. M. Aman Wirakartakusumah (Rektor IPB periode, 1998-2002). Kedua orang tersebut merupakan Academic Fellow dari IUFoST.

Terkait kandidat, Dr. Azis mengatakan “Ketujuh kandidat tersebut akan termasuk ke dalam Early Career Scientists' Section dari IUFoST. Artinya tujuh orang tersebut merupakan peneliti muda yang akan memiliki peranan, kapasitas dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi pangan”. Dalam menyeleksi tujuh kandidat tersebut IUFoST menggunakan jasa konsultan independen (Janet Viljoen Research Consultancy) untuk menjaga kredibilitas kompetisi ini.

Ia menuturkan bahwa yang menjadi poin penting dalam kategori young scientist (peneliti) adalah track record penelitian dan peranannya dalam perkembangan ilmu dan teknologi pangan. Dosen berumur 31 tahun ini menceritakan beberapa peran dan aktivitasnya dalam ilmu dan teknologi pangan. “Sejauh ini saya aktif menjadi reviewer untuk beberapa jurnal di Elsevier Science Direct  seperti Molecular Catalysis B: EnzymaticBioresource technology dan International Dairy Journal. Lebih dari 15 artikel internasional telah saya publikasikan selama menyelesaikan pendidikan S2 dan S3, termasuk enam artikel internasional khusus topik penelitian yang saya ajukan untuk kompetisi ini,” ujarnya.

Pria yang  berasal dari Pematang Siantar ini juga menuturkan kiprahnya setelah lulus studiDr. Azis diberikan tanggungjawab sebagai Ketua Komisi Pendidikan di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, ia juga menjadi Koordinator Divisi Mutu dan Keamanan Pangan di SEAFAST Center LPPM IPB. “Tahun ini saya diberikan tugas menjadi Ketua Panitia Seminar Internasional PATPI-SEAFAST bersamaan dengan Food Ingredient Asia (FiA) 2018. Saya juga membimbing 5 mahasiswa S3, 4 mahasiswa S2 dan sarjana  sebanyak 10 mahasiswa,” tuturnya.

Untuk presentasinya di Mumbai nanti, ia telah menyiapkan suatu inovasi penelitiannya. Ia akan menyampaikan topik yang terkait dengan produksi senyawa laktulosa atau zat prebiotik yang dalam produksinya dikatalisis oleh enzim. Reaksi tersebut dilakukan di reaktor membran yang dilengkapi dengan sistem kontrol otomatis. “Reaktornya sendiri dapat dimanfaatkan hampir pada semua reaksi enzimatis yang berbasis air”. Keuntungan reaktor membran enzimatis (RME) ini yaitu ukurannya kecil dengan total volume 92 mililiter, maka penggunaannya dalam pengembangan proses menjadi sangat efisien, bersifat kontinyu, dan parameter proses bisa dikendalikan, dimonitoring dan disimpan di dalam sistem komputer. Terkait prebiotik, selama ini produksi laktulosa menggunakan katalis (logam), sehingga dalam proses separasinya menjadi kompleks dan memiliki dampak terhadap lingkungan. “Dengan memperhatikan kekurangan-kekurangan reaksi katalis (logam) tersebut, lalu potensi penggunaan membran dalam sintesis enzimatis, maka kedua hal ini mendorong saya untuk mengembangkan RME. Ini yang akan saya presentasikan,”ungkapnya.

Dengan kesempatan ini ia ingin menyampaikan ke dunia bahwa Indonesia mampu berkontribusi positif dan mampu untuk mengembangkan teknologi khususnya bidang ilmu dan teknologi pangan. (irm/ris)