Mahasiswa IPB memanfatkan koridor sebagai pusat kegiatan. Mereka memilih koridor karena gratis dan tak perlu izin. 

 

BOGOR—Ada yang menarik perhatian di Koridor Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor pada siang itu pertengahan April lalu. Dua  mahasiswa terlihat menggendong ular piton sepanjang lima meter. Satu orang melilitkan makhluk melata berwarna kuning tersebut ke lehernya, dan satu lainnya dengan luwes memegangi area dekat kepala, hingga moncong ular tersebut menghadap ke wajahnya.

 

Rupanya, atraksi dua mahasiswa tersebut adalah bagian dari Expo Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) Fakultas Kehutanan. Akibat adanya Expo tersebut, koridor yang sfungsi merupakan jalan tempat lewat, berubah menjadi destinasi yang menarik untuk dikunjungi.

 

Bukan tanpa alasan HIMAKOVA memilih menggunakan koridor ketimbang menyewa ruangan. Selain gratis, koridor tempat lalu lalang orang. Koridor FEMA merupakan tempat pertemuan mahasiswa yang datang dari arah Fakultas Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, serta mahasiswa-mahasiwa dari arah sekitar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. “Posisi ini paling strategis,” ujar Fithra, Ketua HIMAKOVA.

 

Ia dengan mudah bisa mencegat mahasiswa-mahasiswa yang datang dari segala penjuru IPB di sana. Terbukti, di hari pertama pembukaan Expo tersebut, banyak mahasiswa yang menghentikan langkahnya sejenak untuk menyambangi stand yang tersedia. Dalam gelaran Expo, pihak panitia memperkenalkan kelompok-kelompok pemerhati yang tergabung dalam himpunan.

 

Setidaknya ada tujuh kelompok pemerhati yang turut meramaikan koridor, yakni Kelompok pemerhati mamalia, burung, herpetofauna, kupu-kupu, flora, goa, ekowisata, dan  fotografi konservasi. Siang itu, suasana ramai dan banyak mahasiswa yang terbius dengan pagelaran himpunan.

 

Sebetulnya, bukan hanya koridor FEMA yang kerap dijadikan berbagai acara mahasiswa. Koridor-koridor lain di gedung Fakultas Pertanian seperti koridor media center, GKA, dan pinus kerap disulap menjadi tempat pelbagai pertunjukkan. Di tiga koridor itu kerap ada stand-stand pedagang yang menjajakkan makanan, juga mahasiswa yang mensosialisasikan agenda organisasi mereka.

 

Jika mengarahkan pandangan ke kiri dan ke kanan koridor tersebut, banyak mahasiswa yang gayeng memandangi laptop sambil duduk lesehan di selasar. Di IPB, koridor menjelma menjadi tempat yang begitu hidup. Bukan hanya sekadar jalan lalu-lalang orang, tapi koridor beralih fungsi semacam aula serbaguna mahasiswa.

 

Para aktivis kampus baik dari Badan Eksekutif Mahasiswa maupun organisasi lainnya juga kerap menggunakan sejumlah koridor di IPB. Saban hari, mereka selalu berkumpul berdiskusi tentang program di sana. Mereka lebih memilih beraktivitas dan berkumpul di koridor dibandingkan meminjam ruangan kelas, atau menggunakan sekretariat organisasi masing-masing.

Ada banyak koridor di IPB yang menjadi favorit mahasiswa berkumpul. Koridor media center, pinus, GKA, tanah, FEMA, dan FATETA. Koridor-koridor tersebut menggabungkan tiga fakultas, yakni Fakultas Pertanian, Fakultas Ekologi Manusia, dan Fakultas Teknologi Pertanian.

 

Bagi orang yang awam terhadap IPB, pasti akan kebingungan untuk membedakan nama koridor-koridor tersebut lantaran saling terhubung tanpa ada batas pemisah atau keterangan nama. Contohnya  koridor GKA dengan pinus. Nama dua koridor itu diambil dari nama ruangan yang tepat berada di depan koridor, yaitu Ruang Kelas Gedung Kuliah A (GKA) dan Ruang Kuliah Pinus 1.

 

Kedua ruangan ini berada pada garis lurus yang sama, sehingga begitu pula gambaran posisi koridornya. Hal tersebut berlaku juga untuk Koridor Media Center dan Koridor FEMA, yang hakikatnya merupakan satu lorong yang sama. Tapi jangan bingung. Tinggal tanya, semua mahasiswa IPB pasti tahu letaknya di mana.

 

Semula koridor bakal sepi akhir pekan. Rupanya malah sebaliknya. Seperti Sabtu sore akhir April lalu di koridor GKA dan pinus. Di bawah temaram lampu, terlihat lingkaran-lingkaran manusia di sana-sini. Di sisi kanan-kiri kedua koridor itu riuh oleh diskusi, juga tertawa para mahasiswa yang masih menunggu teman-temannya datang.

 

Di koridor lain, yakni di koridor media center, terlihat sejumlah mahasiswa sedang berlatih karate. Menjelang magrib, kucuran hujan membasahi pinggiran koridor, namun tak menjadikan lingkaran-lingkaran manusia itu beranjak. Mereka hanya sedikit bergeser ke tengah, kemudian kembali melanjutkan kegiatan. “Enak aja, lebih adem dan banyak lihat pepohonan,” kata Redho Saputra, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian

 

Ia pun mengungkapkan bahwa sering menggunakan koridor untuk kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang karena kondisi sekretariat organisasi yang terbatas jika harus menampung keseluruhan anggota BEM FAPERTA. Alasan senada juga diungkapkan oleh Badan Pengawas Himpunan Mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen (HIMAIKO), Syahfira Banafie, yang menambahkan bahwa lama kelamaan alasannya menggunakan koridor sebagai tempat berkumpul adalah karena faktor kebiasaan, “Emang itu tempat langganan buat kumpul, enggak ada lagi,”.

 

Selain faktor kenyamanan lokasi, kemudahan akses juga menjadi pertimbangan mahasiswa lebih memilih koridor dibandingkan ruangan kelas. Dua mahasiswa dari organisasi yang berbeda, yakni Dwi Izhaty, Sekretaris HIMAIKO dan Rista Yulia, anggota Organisasi Mahasiswa Jombang menyatakan bahwa alasan lebih memilih koridor daripada ruang kelas adalah karena faktor biaya dan perizinan.

 

Mereka mengakui bahwa perizinan peminjaman ruangan kelas lumayan merepotkan karena harus melampirkan surat dan juga karena ada perbedaan persyaratan peminjaman untuk beberapa ruangan. “Beberapa ruangan enggak cukup tanda tangan ketua, tapi harus ada tanda tangan dosen pembina,” kata Dwi.

 

Magnet koridor bukan hanya menarik mahasiswa untuk melangsungkan kegiatan organisasi di sana, tapi juga ada mahasiswa yang menjadikan koridor sebagai tempat belajar dan berdiskusi seputar mata kuliah. Salah satunya Riska Mardiana, mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman yang mengaku sering menggunakan koridor sebagai tempat belajar.

 

Riska mengatakan sebenarnya ia lebih merasa nyaman belajar di ruangan kelas atau di perpustakaan. Namun, kedua tempat tersebut terkadang tidak memungkinkan untuk dipakai. “Kalau perkuliahan sudah selesai, petugas langsung menutup ruangan kelas,” kata Riska. “Perpustakaan juga sering penuh dan jaraknya jauh.

 

Di tengah banyaknya mahasiswa yang sering menggunakan koridor untuk kegiatan organisasi, nyatanya masih ada juga sekelompok mahasiswa yang setia menjadikan sekretariat organisasi sebagai base camp mereka. Abdul Muis dari Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian (HIMATETA) dan Mohammad Nasir, Wakil Direktur Forum For Scientific Studies (FORCES) mengaku lebih sering menggunakan sekretariat organisasi untuk berdiskusi dan berkumpul. Nasir menambahkan jika dirasa sekretariatnya kurang memungkinkan untuk dipakai, ia dan teman-teman organisasinya jarang menjadikan koridor sebagai tempat alternatif. “Biasanya di ruang diskusi LSI, kalau enggak gitu di tempat makan,” kata dia.

 

Vivi Apriliyanti