Permasalahan sampah memang tidak pernah ada habisnya, salah satunya yang ada di pesisir Muara Angke. Persoalan ini perlu ditindaklanjuti mengingat Jakarta merupakan salah satu daerah yang sering terkena banjir. Kondisi sampah di Muara Angke, tepatnya di kelurahan Pluit, berasal dari masyarakat yang lalu-lalang melewati daerah tersebut. Hal ini terjadi karena minimnya tempat pembuangan sampah sehingga masyarakat membuang sampah sembarangan.

 

Berangkat dari hal itu, lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) mencoba melakukan perubahan di daerah Muara Angke. Mereka adalah Amar Ma’ruf MaulidinSalman Arib RozanAdi Nugroho,Alis Swarni, dan Aris Aprilianto. Dengan bimbingan dari Julia Eka Astarini, SPi, MSi, staf pengajar di Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, kelima mahasiswa tersebut melakukan pendekatan lingkungan ke Muara Angke.

                                       

“Lokasi yang biasanya ditemui banyak sampah ada dua yaitu: di perairan Muara Angke dan pemukiman nelayan. Sumber sampah di Muara Angke, selain berasal dari masyarakat juga berasal dari aliran muara sungai yang menuju ke Muara Angke. Adapun sampah di pemukiman nelayan Muara Angke sebagai akibat dari kurangnya kesadaran masyarakat membuang sampah di tempat sampah. Apalagi jumlah tong sampah di sana sedikit, sehingga masyarakat membuang sampah sembarangan. Ini membuat anak-anak yang berada di daerah tersebut malah mencontohnya,” ujar Amar selaku Ketua Tim.

 

Amar dan kawan-kawan melakukan pendekatan lingkungan dengan metode role play (bermain peran) kepada anak-anak di daerah tersebut. “Kami menampilkan sebuah kreativitasagar anak-anak MuaraAngke cinta terhadap lingkungan. Sebelum melakukan role play, anak-anak tersebut melakukan permainan dengan bantuan papan permainan. Dalam papan tersebut terdapat lingkaran yang dibagi menjadi beberapa penomoran. Penomoran ini menunjukkan penomoran level dan pertanyaan. Dalam setiap kenaikan level terdapat perintah bermain peran. Anak–anak bebas mengambil keputusan dan berekspresi penuh di dalam perannya. Ketika mereka berhasil menampilkan role play, mereka akan naik level dan mendapatkan reward,” jelasnya.

 

“Selain itu, kami mengajak anak-anak untuk memanfaatkan sampah menjadi prakarya yang bermanfaat. Sampah tersebut oleh mereka dibuat menjadi kerajinan tangan seperti tas dari plastik bekas sertatong sampah.” tambahnya. Amar dan kawan-kawan berharap cara ini bisa menumbuhkan sikap kepekaan, kecintaan, dan kepedulian anak-anak terhadap lingkungannya. “Kami berharap lingkungan Muara Angke nantinya akan menjadi lebih bersih dan anak-anak tahu bahwa lingkungan yang kurang bersih berpengaruh terhadap keberlanjutan perikanan, harap Amar”.

 

Program ini menjadi salah satu Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian pada Masyarakat (PKM-M) Tahun 2017 dengan judul Jawara Pesisir Pembelajaran Smart Environmental Sustainable Fisheries dengan Metode Role Play bagi Anak-anak Pesisir Muara Angke (“Jangkar”). Ketua RW 21 Kelurahan Pluit, Nunung, mengatakan bahwa warga Muara Angke sangat mendukung program ini karena dapat menanamkan sikap kepedulian terhadap lingkungan yang berkaitan dengan perikananSugianto, Ketua R01 Pluit juga menyampaikan harapan agar melalui program ini bisa terbentuk karakter anak-anak Muara Angke yang peduli terhadap lingkungannya.

 

Rencana ke depan, Amar dan tim akan membuat Komunitas Anak Bahari yang mempunyai visi dan misi mengajak anak-anak untuk mencintai, menjaga dan melindungi lingkungan agar tercipta masyarakat yang peduli dengan kebersihan lingkungan. “Kami berharap ke depan komunitas anak bahari bisa menjadi contoh bagi anak-anak di desa lain,” tambahnya. (NIRS/ris)