“Anak ibarat kaca berdebu. Jika orang tua membersihkannya terlalu keras kaca tersebut bisa retak atau pecah. Akan tetapi jika membersihkannya  terlalu lembut dan tidak bertenaga, maka kaca tersebut tidak akan bersih dengan sempurna”. (Anonim)

 

Keluarga merupakan institusi terkecil yang membentuk masyarakat. Institusi ini seringnya dianggap tidak terlalu penting dan bersifat pribadi, sehingga tidak tersentuh oleh kebijakan-kebijakan negara. Padahal, dari instiusi inilah, awal mula lahir para calon penerus bangsa. Jika demikian, bolehlah saya mengatakan bahwa keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam kemajuan sebuah bangsa dan negara.

 

Penyiapan para generasi penerus bangsa tersebut dimulai dari didikan atau pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua. Tentang bagaimana orang tua menerapkan pengasuhan yang baik kepada anak. Hal ini dimaksudkan agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik, berprestasi serta dapat menjadi “Agent Of Change” bagi negara. Pola asuh orang tua yang tepat terhadap anak sejak kecil akan berdampak sangat besar terhadap masa depannya.

 

 Tidak banyak orang yang paham mengenai gaya pengasuhan. Penting bagi orang tua untuk mengetahuinya agar dapat diterapkan sesuai dengan kepribadian anak serta keluaran yang diinginkan orang tua terhadap anak. Diana Baumrind  (1966) mengungkapkan terdapat tiga jenis gaya pengasuhan. Pertama, gaya pengasuhan yang bersifat permissive, artinya orang tua tidak memberikan batasan-batasan yang jelas mengenai apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Pengasuhan seperti ini akan membentuk anak menjadi pribadi yang sulit diatur, impulsif, dan agresif.

 

Kedua, gaya pengasuhan authoritarian, artinya orang tua terlalu keras dalam mendidik anak dan tidak banyak mencurahkan kasih sayang. Pengasuhan seperti ini akan membentuk anak menjadi pribadi yang tidak percaya diri dan tidak berani mengungkapkan pendapatnya. Ketiga, gaya pengasuhan authoritative (democratic), artinya orang tua menerapkan pola asuh kepada anak dengan cara yang bijak memberi batasan-batasan yang jelas dalam berperilaku. Pengasuhan seperti ini akan membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan anak memiliki batasan dalam berprilaku.

 

Ketiga gaya pengasuhan tersebut dapat orang tua kombinasikan secara bersamaan tergantung situasi dan kondisi anak. Perbedaan pengasuhan yang diterapkan orang tua kepada anaknya dipengaruhi oleh berbagai factor, antara lain tingkat pendidikan, pengetahuan mengenai pengasuhan, serta kesadaran orang tua mengenai pentingnya memilih pola asuh yang tepat untuk anak. 

 

Penerapan pengasuhan yang tepat pada anak akan berdampak terhadap ketahanan keluarga. Hal ini dikarenakan berbagai konflik yang muncul dalam keluarga akan berkurang, terutama hal-hal yang berkaitan dengan perilaku anak. Ketahanan keluarga merupakan salah satu faktor penting untuk membangun keluarga yang kokoh. Ketahanan keluarga bisa diartikan sebagai kondisi suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta memiliki kemampuan fisik material dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri, mengembangkan diri dan keluarganya untuk mencapai keadaan harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir batin. Rendahnya ketahanan keluarga di Indonesia bisa dilihat dari meningkatnya angka kemiskinan. Selain itu, kurangnya pengajaran orang tua kepada anak mengenai norma-norma agama juga dapat mengakibatkan  fondasi keluarga  mudah rapuh ketika datang tantangan atau hantaman dari lingkungan eksternal.

 

Pengasuhan zaman milenial seperti sekarang memang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, ditambah arus globalisasi dengan berbagai dampak positif dan negatif. Dalam hal ini orang tua bertanggung jawab untuk memberi pengarahan serta batasan yang jelas dalam menyikapi perubahan zaman. Orang tua juga perlu menanamkan dasar agama yang kuat dalam diri anak sejak kecil. Hal ini dimaksudkan agar anak memiliki prinsip atau nilai-nilai kehidupan sehingga tidak mudah terpengaruh hal negatif dari lingkungan sekitarnya. Dengan demikian  ketika anak berada di luar rumah atau di sekolah, anak akan tetap memegang nilai-nilai yang telah diajarkan. Nilai-nilai tersebut akan berpengaruh pada perilakunya dalam berhubungan dengan peer group atau orang lain.

 

Zaman milenial juga membuat kelekatan orang tua dengan anak semakin berkurang. Hal ini menyebabkan buruknya mental serta akhlak anak dalam bermasyarakat. Untuk mengatasinya diperlukan kelekatan antara orang tua dan anak. Kelekatan dapat dibangun dengan komunikasi positif serta intensif. Penggunaan Bahasa positif oleh orang tua juga cenderung akan memberikan dampak positif pada penggunaan bahasa anak.

 

Pemaparan ini bertujuan menyadarkan kita akan pentingnya peranan keluarga  dalam pengasuhan anak. Karena,  anak adalah generasi penerus yang kelak akan mengemban tugas mengelola bangsa. Sehingga, tak pelak lagi negara wajib ikut serta dan berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan keluarga dengan membuat undang-undang dan lembaga yang berfokus pada peningkatan taraf hidup keluarga. Suatu keluarga akan kokoh jika keluarga tersebut mampu mempertahankan kestabilan dalam keluarga dan anggota keluarga dapat menjalankan masing masing perannya dengan baik.

 

 

Vallerina Dwi Mulia Sari

Penulis merupakan mahasiswi program studi Ilmu Keluarga dan Konsumen

Institut Pertanian Bogor