BANDUNG. Institut Teknologi Bandung (ITB) selaku universitas yang berkomitmen untuk menjadi ITB entrepreneurial university berharap dapat mencetak entrepreneur handal. Namun menurut Dr. Atik Aprianingsih tidak semua orang bisa menjadi entrepreneur karena entrepreneur itu jiwa. “Tidak semua orang bisa dalam keadaan tanpa kepastian dan stress yang tinggi sehingga memilih untuk menjadi karyawan yang notabene ruang lingkup kerjanya sudah jelas”, ujar perempuan yang merupakan dosen Sekolah Manajemen Bisnis (SBM) ITB ini.

 

Lulusan ITB utamanya sangat diharapkan mampu menggeluti bidang technopreneur. Menurut Dr. Atik technopreneur adalah penggunaan teknologi dalam wirausaha. Penggunaan ini bisa dibagi menjadi dua kelas yaitu pemanfaatan teknologi dan penciptaan teknologi. Namun ada kecenderungan saat ini technopreneur dianggap sebagai bisnis yang memanfaatkan media online. Misalnya saja untuk sarana marketing.  Menurut dosen yang mendapat gelar doktor di St. Ambrose University, Amerika Serikat ini, salah kaprah juga banyak terjadi dalam istilah penciptaan teknologi. Inovasi teknologi baru dikatakan inovasi ketika telah mencapai tahap komersialisasi, sementara orang umumnya berpikir bahwa inovasi adalah proses penciptaan sesuatu yang baru.

 

Ia menekankan bahwa ada banyak sektor yang perlu diperhatikan dan sangat berkaitan dengan sosial terutama bidang pertanian. Ia menyoroti pentingnya peran teknologi dalam pertanian di Indonesia agar dapat berdaya saing. Dr. Atik memaparkan permasalah di bidang pertanian sangat banyak. Pertambahan jumlah penduduk Indonesia semakin besar sehingga kebutuhan pangannya semakin banyak namun produksi pangannya justru semakin menurun. “Menurut data dibutuhkan 11 juta hektar sawah dengan produksi 4 ton gabah kering per hektar untuk memenuhi kebutuhan pangan orang di Indonesia tapi kita hanya punya 6,5 juta hektar dan dari tahun ke tahun jumlah petani di Indonesia semakin sedikit”, papar Dr. Atik.

 

Banyak lahan sawah yang akhirnya berubah peruntukannya menjadi perumahan. Petani yang hidup semakin sulit inilah yang menyebabkan keturunan petani tidak mau menjadi petani karena mereka merasakan sulitnya hidup sebagai petani di Indonesia. Itulah mengapa jumlah petani semakin menurun dari tahun ke tahun dan menjadi salah satu alasan meningkatnya ketergantungan terhadap impor. 


Salah satu upaya SBM ITB untuk menyelesaikan permasalah pertanian adalah dengan membentuk Ecobiz Koperasi dan UKM (ecobiz.sbm.itb.ac.id) yang merupakan platform online yang didesain untuk menghubungkan berbagai pelaku bisnis untuk bersama-sama membangun ekosistem bisnis lokal di berbagai daerah di Indonesia. “Kami di SBM melakukan riset mengenai pertanian, khususnya holtikultura Indonesia yang memiliki kualitas yang sangat baik bahkan sudah dikenal luar negeri contohnya Kopi West Java Preanger, beras, Akar Wangi Garut, dan Mangga Gedong Gincu Cirebon atau Queen of Mango”, tutup Dr. Atik.