Apakah hari ini sudah cukupkah peranan pemuda hanya studi keluar negeri, jika dibandingkan orang-orang terdahulu mereka kuliah diluar, terus mereka menarik isu-isu dari luar untuk bisa dipergunakan perjuangan di Indonesia?

 

Sebenarnya begini, bagusnya studi diluar itu, kita dapat melihat sesuatu bukan bagian dari masalah atau sistem itu sendiri. Kita melihat dari luar masalah itu, maka kita biasanya lebih objektif atau lebih komprehensif melihat itu. Jadi ketika kita misalnya berada di Belanda atau Jerman ketika mengikuti berita perkembangan tentang Indonesia, maka kita bisa melihat dari berbagai aspek yang melingkupi masalah itu. Karena kita bukan bagian dari masalah itu sendiri. Walaupun juga kita harus cross check sumber berita.

 

Selanjutnya, studi di luar itu seharusnya tidak menghilangkan sisi kritis kita terhadap apa yang sedang terjadi sekarang. Jadi kalau kita studi di luar dan kita pulang kembali, tentunya pengamatan kita dari luar itu sampai ke dalam. Apalagi syukur kalau nanti duduk di jajaran pemerintahan atau pemimpin perusahaan atau sebagai pengambil keputusan, mungkin dapat melihat, menimbang, memilih dan kemudian memutuskan itu karena pertimbangan objektif.

 

Masalahnya banyak orang sekarang studi keluar mungkin dengan motivasi macam-macam. Jadi kalau keluar banyak juga teman kita yang tidak pulang dengan banyak alasan. Masalah itu seharusnya dikembalikan kepada negara dalam hal ini pengelola beasiswanya. Mereka harus bisa memberikan peraturan yang tegas bahwa apabila keluar negeri itu memang kembali untuk membangun negara. Kalau di perguruan tinggi saya kira ada 2n + 1 itu (2 kali masa studi + 1) masa pengabdian. Jadi misalnya saya studi di Jerman 3 tahun, 2 x 3 = 6 lalu 6 + 1 = 7, jadi setidaknya selesai studi saya kembali ke Indonesia harus mengajar atau beraktivitas di UI misalnya itu 7 tahun.

 

Bagaimana dengan asumsi bahwa ‘Di Indonesia tidak dijembatani’?

 

Begini, masalahnya orang-orang di luar itu termasuk mahasiswa kita yang baru setahun, dua tahun kadang-kadang sudah memberikan penilaian yang menurut saya tidak adil. Saya pernah bicara dengan salah satu anak PPI Leiden. Waktu itu kebetulan saya studi di Leiden. “Lihat Belanda dong ni, jalan-jalan lancar, kanal-kanal rapi, bersih” dia mengatakan itu. Saya jawab tidak bisa dibandingkan dengan Jakarta, penduduk Leiden itu berapa? Di Jakarta itu bahkan Kanselir Jerman (Angela Merkel) itu mengatakan “Saya sendiri belum tentu mampu menjadi Gubernur Jakarta, mengurusi orang banyak dengan berbagai masalah yang bukan hanya masalah DKI tapi juga perbatasan”. Masalah transformasi, sampah, dan lain sebagainya. Dan saya kira anak-anak itu kalau mau berkontribusi ke negara kita, tidak usah banyak-banyak deh, dibidangnya saja tapi konsisten. Misalnya menyelesaikan masalah sampah kemudian ada yang mempelajari betul masalah transportasi, betul-betul fokus. Karena kadang-kadang ketika pulang semua bicara politik, bukan dibidangnya ikut bicara kemudian akhirnya hanya menembah riuh perpolitikan kita. Bukan berarti kita tidak peduli dengan politik. Kalau di luar negeri, suara profesional itu didengar. Ketika orang tahu bahwa dia selama ini mendalami, jadi dia ahlinya di bidang itu. Kalau agama kan bilang serahkan kepada ahlinya.

 

Kenapa mereka tidak pulang kembali?

 

Karena menurut saya kita itu maunya instan tanpa mempersiapkan terlebih dahulu regulasi dan sistem yang benar. Jadi kalau semua sudah siap maka penerapannya tinggal mengikuti (regulasi dan sistem). Kalau kita ingin mencetak 1000 doktor maka hanya dana yang disiapkan. Padahal instrumen legalnya belum siap  dan itu yang membuat dalam perjalanannya ada istilah kekeluargaan, ada yang tidak lulus karena main-main tidak ada hukumannya. Belum ada pemantauan atau monitoring yang bagus dari pusat. Padahal kalau sekian banyak mahasiswa masing-masing peduli pada bidangnya mungkin Indonesia akan lebih baik.

 

Dan sebenarnya itu adalah investasi. Di China dan Malaysia, pemerintah itu memang menyediakan dana untuk studi keluar. Dan itu menurut saya suatu hal yang penting untuk menentukan sikap akademisi ke depan. Misalnya, saya pernah ditanya oleh profesor dari Malaysia. Dia bilang, kamu beasiswa dari mana? Saya bilang dari pemerintah Jerman. Malaysia tidak ada yang tertarik ambil dari negara lain karena negara mereka sudah siapkan. Selesai studi pulang, membangun negaranya. Kalau dari negara lain, ikatan emosional dengan negara itu menjadi berkurang. Contohnya banyak orang menjadikan negara tempat dia studi itu (karena dibiayai oleh pemerintah yang bersangkutan) menjadikan negara itu negeri kedua dia, tanah air kedua dia. Misalnya saya lulus dari Jerman, saya menjadikan dan memang ada ikatan emosional karena kita tinggal beberapa tahun disana. Kalau suatu saat saya menjadi pejabat ikut mengambil keputusan, semacam di kementerian, kemudian ada tawaran proposal untuk membangun jalan. Proposal dari jepang, Amerika, Jerman, dan Inggris, kira-kira mana yang saya pilih? Nah, Jerman saya pilih karena ada ikatan emosional di sana. Punya koneksi profesor di sana yang bisa dijadikan konsultan. Atau misalnya ketika kita menjadi utusan Indonesia untuk PBB, ada voting. Dimana kemudian kita dilibatkan untuk voting dan masalah itu berkaitan dengan negara tempat kita menimba ilmu, itu pasti akan terjadi suatu hal yang ambigu buat kita.

 

Saya sendiri sedikit banyak merasakan. Ketika misalnya orang lain menanyakan studi yang baik dimana ya? Saya akan rekomendasikan Jerman. Di Jerman itu mahasiswa dianggap seperti kaum dhuafa, jadi banyak dibantu. Itu yang membuat kita seperti semacam utang budi. Nah China dan Malaysia tidak mau seperti itu, utang budinya kepada negara, karena negara sudah menyiapkan, membiayai, sehingga nanti urusan apapun kamu harus membela negara. Kamu tidak punya utang budi ke tempat kamu tinggal studi di luar negeri.

 

Hari ini ruang untuk pemuda itu sebesar apa pak ?

 

Kalau saya melihatnya sekarang sangat terbatas, coba lihat dalam setiap seminar atau talk show di TV mereka tidak bisa lepas dari pakem ormas atau partainya. Seperti dia mendukung membabi buta yang penting partainya bilang A maka dia akan bilang A. Padahal dahulu orang-orang seperti H. Agus Salim, dia mengkritisi SI (Sarekat Islam), kalau ada yang salah dari organisasi partai yang dia ikuti dia tidak kehilangan jiwa kritis itu. Hanya masalahnya untuk punya jiwa kritis, orang harus bijak, mengkritik juga gak ngawur, dia harus punya pemahaman yang bagus, pengetahuan yang cukup untuk bisa meninjau, mereview, apa yang sedang berjalan. Sekarang tidak, banyak ketidakadilan atau ketidakberesan di pemerintahan, pemuda yang seperti apa yang bisa mengkritisi, apalagi jika sudah bagian dari parpol sendiri, tidak bisa dia mengkritisi.

 

Kalau dahulu berbeda. Basisnya adalah garis perjuangan diantaranya ideologi, biasanya saya kalau di kelas itu bilang ke mahasiswa, sejelek-jelaknya Aidit dia meninggal membawa ideologinya masuk ke liang lahatnya. Orang-orang dulu itu baik kelompok agamis, nasionalis, komunis mereka meninggal membawa ideologinya itu masuk ke liang lahat. Mau partainya menang, mau partainya jadi partai terlarang dia tetap dengan trek ideologinya itu. Tidak seperti kita, politisi sekarang partainya kalah, loncat ke partai lainnya yang punya peluang dia duduk lagi di DPR. Dulu tidak, mau kalah mau menang tetap konsisten. Itu yang tidak ada. Karakter dan idealisme yang sekarang pemuda itu sangat cair. Mungkin kalau orang-orang itu hidup zaman sekarang maka Indonesia jadi hebat sekali.

Bagaimana pendapat Bapak untuk menghadirkan para pemuda yang seperti dulu?

 

Berarti terlihat garis perjuangannya, idealismenya pun terlihat. Memang gemblengan situasi dan kondisi yang memberikan pengalaman bagi masing-masing tokoh ini itu yang membekali dia untuk kemudian menjadi seorang yang idealis. Misalnya Mr. Muh. Roem, dia seorang yang sekolah hukum tapi kemudian dia mengkritisi perlakuan orang-orang Belanda terhadap pribumi hingga ia berkelahi dengan orang Belanda. Kok bisa orang seperti Muh. Roem itu di tengah Belanda yang berkuasa ia berkelahi, ia berani. Kita lihat masa kecilnya, ia belajar dimana, buku-buku yang dia baca. Sekarang mahasiswa saja susah baca. Padahal benar itu, satu buku itu setetes pengetahuan. Coba lihat Soekarno, buku bacaannya banyak sekali sehingga ide-idenya banyak. Buku itu memberikan inspirasi untuk ke depan kira-kira apa yang akan dilakukan.

Kalau kita lihat mahasiswa di Jeman, waktunya party memang parah benar, tapi waktunya baca, waktu semester akademik itu belajar ya belajar, perpustakaan ramai penuh tapi yang terdengar hanya lembaran kertas yang sedang dibaca. Itulah mengapa orang luar itu unggul. Sama seperti anak-anak muda Indonesia tempo dulu, membacanya kuat. Seperti Muh. Hatta dan Syahrir yang mereka baca adalah hasil pemikiran-pemikiran ahli politik Eropa, Amerika yang kemudian diadaptasi dengan kondisi di Indonesia. Mereka meramu apa yang cocok dari pemahaman dan pemikiran apa yang mereka miliki. Ditambah garis perjuangannya jelas.

 

CV Narasumber

S1 Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI), Lulus 1998

S2 Jurusan Sejarah UI Kajian Wilayah Amerika, Lulus 2006

S3 Jurusan Sejarah Jacob University Bremen, Jerman, Lulus 2014

Reporter: Fuad N.M.