Salah satu tonggak sejarah yang tidak bisa dilupakan dalam sejarah panjang bangsa ini adalah momen Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Bagaimana tidak, dengan adanya sumpah tersebut, maka terjadi akselerasi upaya perjuangan untuk melepaskan diri dari penjajahan kolonialisme Belanda. Tidak bisa dipungkiri, peran pemuda sangat dominan dalam upaya mencapai kemerdekaan.

Untuk mengenang momen bersejarah itu, kali ini jurnalis Retorika Kampus, Fuad Najar Mukti berkesempatan berbincang-bincang dengan Ketua Program Pascasarjana Sejarah Universitas Indonesia (UI), Prof. Agus Setiawan, Ph.D. Ia juga memaparkan kondisi pemuda saat ini dan bagaimana seharusnya generasi muda berkontribusi untuk kemajuan bangsa.

Berikut nukilannya.

 

Dari mana asal kata sumpah dalam sumpah pemuda?

 

Sebenarnya itu (Sumpah Pemuda) satu keputusan. Kalau kita melihat aslinya, itukan keputusan kongres. Di sana kalimatnya itu tertera seperti para pemuda itu berikrar atau bersumpah. Kata sumpah sendiri pada awalnya belum dikenal saat itu. Kemudian dalam prosesnya kalimat-kalimat hasil dari kongres itu dianggap menjadi seperti orang yang berikrar untuk bertekad dan itu seolah-olah menjadi sebuah sumpah.

 

Bagaimana kronologis perjalanan sumpah pemuda?

 

Sumpah pemuda sebenarnya sebuah proses yang kita bisa lihat dari beberapa tahun sebelumnya. Kalau yang menginisiasi kongres pertama tahun 1926 adalah PPPI (Perhimpunan Para Pelajar Indonesia) yang berada di Indonesia. Padahal isme-isme kebangsaan yang berkembang saat itu adanya di luar negeri. Jika kita perhatikan pada masa kolonial, strata sosial yang terbentuk dalam masyarakat Hindia Belanda terlihat jelas sekali. Strata pertama orang Belanda, kemudian Eropa, timur jauh, orang timur, dan orang-orang pribumi. Strata sosial mengikuti irama kehidupan pada masa itu dan tingkat elit adalah kelompok priyayi. Dengan adanya strata sosial tersebut menunjukkan isme-isme semacam persatuan belum banyak digaungkan. Sampai ketika para pelajar kita yang ada di Negeri Belanda (Perhimpuan Indonesia) mereka belajar banyak saat itu.

 

Di Eropa waktu itu berkembang konsep negara bangsa. Setelah perjanjian Westfalia, ada negara-negara bangsa yang memang didirikan atas dasar kesamaan etnik bangsa. Kalau kita perhatikan, Eropa dahulu adalah benua yang hanya dikuasai oleh beberapa kerajaan. Satu kerajaan menguasai bangsa-bangsa lain dibawahnya. Hal itu yang kemudian menuntut kemerdekaan dengan basisnya adalah negara bangsa. Jadi ada sebuah negara karena ada sebuah bangsa, jadi bangsa inilah yang berhak mendirikan sebuah negara.

 

Belajar dari kaca mata itu, orang-orang Perhimpunan Indonesia akhirnya melihat bahwa begitu banyaknya perbedaan (keanekaragaman etnik) membutuhkan sebuah perekat. Kalau kita lihat Boedi Oetomo (1908) itu belum menyuarakan kebangsaan. Sepuluh tahun kemudian muncul organisasi kepemudaan, kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon dan lainnya.  Kemudian ada lagi organisasi-organisasi berbasiskan ideologi dan cinta tanah air misalnya Jong Islamiten Bond (Perkumpulan Pemuda Islam) dan Jong Katolike Bond.

 

Organisasi-organisasi tersebut awalnya masih berserakan, nah PPPI itu yang kemudian mendapatkan “pencerahan” dari Perhimpunan Indonesia yang ada di Belanda. Hal itu disebabkan Perhimpunan Indonesia membuat majalah ‘Indonesia Merdeka’, dan dikirimkan ke tanah air. Makanya mereka kemudian melihat contoh di Eropa ada negara bangsa yang kemudian berhasil memerdekakan diri. Di Indonesia, mulai diperkenalkan pada Jong-Jong ini yang masih bersifat kedaerahan. Mereka kemudian masing-masing berupaya mengeluarkan pendapatnya. Jong Java ingin dibentuk sebuah federasi saja. Namun jika konfederasi masih mudah terpecah dan rasa kedaerahannya masih kuat. PPPI malah menganjurkan adanya penggabungan dari organisasi-organisasi ini menjadi satu dan itu tidak gampang. Makanya diadakan pertemuan. Hanya memang pada tahun 1926 itu, boleh dibilang masih belum bisa meninggalkan aspek kedaerahan yang masih kuat.

 

Jadi memang itu sebuah proses yang panjang sampai akhirnya 1928 itu mereka seperti berkongres maraton sebanyak tiga kali. Pertama di gedung katolike dan di awal ada beberapa pembicara yang menjelaskan pendidikan. Kemudian dilanjutkan pertemuannya di Osjava bioskop, dimana disitu juga hadir beberapa pembicara termasuk diantaranya Ki Hajar Dewantara. Terakhir, di Indonesia Club dan  melahirkan sumpah pemuda. Ketika itu WR Soepratman pertama kali membawakan lagu Indonesia Raya dengan biola karena tidak boleh dinyanyikan karena ada kata-kata merdekanya.

 

Jadi saya lihat memang ini pertama tidak terlepas dari perjalanan perjuangan para pemuda yang berada di luar negeri. Mereka menghadiri liga anti kolonial di Brussel termasuk Muhamad Hatta dan teman-temannya. Kemudian yang dilakukan para pemuda saat itu diantaranya adalah membuat satu wadah komunikasi antar pemuda. Jadi ada kesamaan visi dan misi satu sama lain, toleransi juga ada disitu. Waktu itu yang pertama adalah persamaan visi dan misi kebangsaan.

 

Bagaimana dengan bahasa, mulai kapan bahasa menjadi alat penguat dari bangsa ini ?

 

Bahasa adalah alat komunikasi, dia berfungsi sebagai penyampai ide kita. Baik lewat tulisan atau pidato dan seterusnya. Bahasa Melayu (Indonesia) itu sendiri saya kira pemakaiannya sudah cukup meluas. Kalau digambarkan dalam kondisi sekarang, di Batavia itu koran-korannya berbahasa melayu dan orang kita sudah cukup familiar. Hanya masalahnya, pemuda yang dari daerah masih menggunakan dialek atau bahasa daerah. Tapi ketika bertemu dengan kelompok pemuda lain tidak ada lagi bahasa yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi selain Bahasa Indonesia. Nah, bahwa ketika perasaan kebangsaan sudah ada maka bahasa menjadi alat untuk menyatukan ide, dan berkomunikasi. Sehingga bahasa itu menjadi sangat penting. Jadi sebelum diikrarkan sebenarnya mereka juga sudah berkomunikasi dengan bahasa itu, dan bahkan keputusan sumpah pemuda itu tidak menggunakan bahasa daerah lain selain Bahasa Indonesia sebagai hasil kongresnya.

Kenapa pengantar kongresnya menggunakan Bahasa Belanda?

 

Bahasa Belanda mungkin karena mereka dari kelompok-kelompok intelektual yang kebanyakan studi di luar negeri. Mungkin ada istilah-istilah pemerintahan dan politik yang padanan katanya kadang susah dicari dalam Bahasa Indonesia. Ditambah mereka sudah terbiasa mengucapkan itu. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa yang hadir, dengan menggunakan Bahasa Belanda mereka sudah paham, jika meraka paham Bahasa Belanda minimal mereka sekolahnya sudah cukup tinggi.

Bagaimana peranan pemuda pada saat sumpah pemuda ?

 

Kalau kita lihat dari awal mereka sudah banyak menerima pengaruh tentang kemerdekaan nasional. Sejak masa lalu, bedanya pemuda dengan generasi tua adalah mereka memiliki jalan yang masih panjang, cita-cita tinggi dan masih butuh sebuah proses untuk bisa mencapai cita-citanya. Orang-orang tua walaupun sudah punya pengetahuan tentang pemerintahan, pentingnya sebuah kemerdekaan bagi sebuah bangsa tapi menurun semangatnya. PPPI ini dia gabungan pelajar-pelajar yang memang beraktifvitas kesehariannya dalam sebuah lingkungan atau atmosfer akademik yang dinamis. Jadi kalau kita lihat misalnya sejak Boedi Oetomo lahir saja sudah muncul intelektual-intelektual misalnya dr.Wahidin yang kemudian dia meninggalkan Boedi Oetomo karena dianggap kurang tegas menyuarakan Indonesia merdeka.

 

PPPI ini orang-orang yang dapat dikatakan tergabung atau tidak tergabung dengan kelompok-kelompok kedaerahan tapi juga mereka memahami situasi politik yang ada. Belanda berupaya membuat rendah mental orang kita. Sebagai gambaran, ada orang Belanda datang ke Batavia, terus dia jalan berdua, kemudian jarak 50 m itu ada orang pribumi yang begitu lihat orang Belanda jalannya langsung menunduk. Eropa waktu itu ada persamaan hak, bahkan gerakan feminisme di Amerika sudah mulai tahun 1920. Mereka (orang Belanda) begitu ditanya oleh temannya kenapa kamu memperlakukan orang pribumi seperti itu? Mereka menjawab, kita ini di Nusantara (Hindia Belanda) hanya 100.000 orang sedangkan mereka (orang pribumi) lebih dari 50 juta orang. Bagaimana caranya untuk mengontrol mereka itu supaya tetap patuh sama kita? Dengan cara diantaranya membuat mental itu terus dibawah. Jadi kalau melihat orang asing, mungkin sampai sekarang kita langsung rendah diri.

 

PPPI ini saya kira tidak begitu mentalnya. Sebuah proses perjalanan, proses berpikir dimana ide-ide tentang nasionalisme itu mereka terjemahkan. Mereka melihat situasi yang ada saat itu banyak organisasi kedaerahan, lalu berupaya mengkomunikasikan itu semua. Menurut saya prestasi PPPI itu bisa menyatukan mereka semua dan kemudian bisa berikrar. Mereka awalnya ada yang dari organisasi kedaerahan tapi juga ada yang bukan dari sana hanya peduli pada bagaimana perjuangan bangsa. Kalau kita perhatikan, sebenarnya orang-orang ini tidak semuanya dari kelompok priyayi. Priyayi kan pola pikirnya susah. Sudah priyayi terus diangkat menjadi amtenar itu jadi kayak kolonialis itu sendiri. Tapi ada kelompok orang-orang seperti Sutan Sahrir. Orang-orang yang memang dari kalangan menengah atas tapi peduli dengan kondisi masyarakat bawah. Kalau priyayi mungkin malah menikmati status itu. Rakyatnya tetap menurut sama dia, digaji pemerintah kolonial. Nah ada kelompok menengah, kelompok borjuis yang menyuarakan kelompok bawah bukan menyuarakan kelompok atas.

 

Melihat Indonesia hari ini dengan segudang permasalahan, bagaimana peran pemuda semestinya hari ini ?

 

Pertama, menurut saya pemuda itu sudah seharusnya memahami dulu akar masalah yang dihadapi bangsa. Masalah banyak, tapi jangan hanya melihat dipermukaan saja. Karena untuk bisa menyelesaikan dan memberi solusi itu pemuda harus melihat kronologis masalahnya itu sendiri. Karena kalau sudah diatas, sudah bercampur dengan kepentingan. Pada tataran akademik saya kira bagus untuk mempelajari semua masalah bangsa. Dalam tataran akademik pemuda akan berupaya menggunakan pengetahuannya itu untuk memahami satu masalah, bukan karena egonya terhadap kelompok tertentu atau karena keberafiliasian dia terhadap kelompok dan ideologi tertentu. Hal itu dapat membuat pemuda jadi tidak objektif.

 

Saya melihat walaupun pemuda tetapi kalau sudah bergabung dengan kelompok politik tertentu, misal partai politik (parpol) maka dia akan menyuarakan atau melihat masalah itu berdasarkan versi kepentingan kelompoknya. Bukan karena saya akademisi, bukan pula karena posisi netral, tetapi objektif. Netral itu menurut saya kadang-kadang tidak baik, sudah tahu masalahnya dia tetap netral. Kalau objektif kan bisa mengatakan, ini sebaiknya seperti ini, karena melihat jernih suatu permasalahan. Saya kira juga seharusnya pemuda itu banyak menulis. Sekarang sudah banyak medianya untuk menyebarkan pemikiran atau berita yang katakanlah objektif tadi. 


Bersambung....


Reporter: Fuad N.M.