Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2020-2030 Indonesia akan mengalami bonus demografi. Bonus demografi merupakan fenomena evolusi kependudukan, ketika tingkat ketergantungan kelompok yang tidak produktif semakin kecil. Jumlah usia angkatan kerja produktif (15-64 tahun) pada era itu akan mencapai 70%, sementara sisanya merupakan penduduk yang tidak produktif, meliputi anak-anak dan penduduk lansia.

Kata bonus dalam “bonus demografi” bisa menjadi jebakan. Bonus di sini tidak seperti ketika seseorang menerima insentif atau upah tambahan. Bonus demografi adalah peristiwa evolusi kependudukan yang membutuhkan perencanaan pembangunan jangka menengah dan jangka panjang serta kerja keras agar dampak positif dapat diraih. Fenomena evolusi kependudukan ini tidak dapat direspon dengan cara instan dan tergesa-gesa. 

Apakah bonus demografi akan menjadi bonus atau malah petaka akan sangat tergantung pada program dan respon pemerintah. Nah, berbicara demografi di periode tersebut maka mau tidak mau kita akan menyinggung tentang generasi yang akan manggung di rentang waktu tersebut. Ya, generasi Y atau generasi milenial akan menjadi pemeran utama di era tersebut.

Generasi milenial adalah generasi yang pada saat itu akan berada di usia produktif, 30 hingga 50 tahun. Artinya, untuk bisa menuai bonus demografi, pemerintah harus ekstra keras memberikan perhatian kepada mereka. 

Sayangnya, berdasarkan diskusi para ahli, pemberitaan di media hingga data dari pemerintah, generasi ini justru bisa dibilang sangat mengkhawatirkan. Sebagai generasi yang menjadikan internet dan hiburan menjadi kepentingan utama, mereka cenderung lebih akrab dengan komunitas-komunitas dunia maya dibandingkan dengan komunitas sosial di dunia nyata. Akibatnya, kepedulian mereka terhadap permasalahan-permasalahan sosial sangat minim.

Kecanduan akut terhadap internet juga membuat mereka menilai kebenaran hanya berlandaskan informasi yang beredar di media sosial (medsos) tanpa melakukan verifikasi. Bagi mereka yang terpenting adalah selalu update informasi.

Belum lagi berbicara angka kecanduan narkoba dari generasi milenial. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2017, sebanyak 75% dari pecandu narkoba di Indonesia adalah mereka dari kalangan milenial. Bisa dibayangkan bagaimana nasib bangsa ini ketika justru mayoritas usia produktif adalah para pesakitan. Tentu saja bukannya bonus melainkan petaka yang akan diterima.