Dalam mahakarya The Republic, filsuf ternama Plato asal Yunani pernah menceritakan sebuah masa dimana demokrasi sedang mengalami sebuah kondisi memprihatinkan. Saat itu para pemimpin dan elit politik sedang getol menggunakan kata-kata yang tidak berguna untuk menyerang lawan politiknya. 

Etika berpolitik juga disingkirkan demi mendeskreditkan pihak seberang. Era itu digambarkan Plato sebagai era yang merugikan masyarakat.

Setali tiga uang, peristiwa 2300 tahun yang lalu itu terjadi kembali di Republik Indonesia. Masyarakat dipertontonkan aksi lempar kata-kata dua kubu yang sedang bersaing untuk menjadi penguasa di negeri ini. Mulai dari istilah kampret, cebong, politik sontoloyo, tampang Boyolali hingga politik genderuwo keluar dari para elit dan diviralkan oleh media massa. 

Selain pemilihan katanya yang menggambarkan kualitas para elit, mereka juga seolah melupakan aksi nyata di lapangan yang jelas jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat. Ingat, masalah-masalah pokok bangsa ini jauh dari kata selesai. 

Kemiskinan, kesenjangan sosial, pengangguran hingga krisis sosial masih menghantui. Sudah selayaknya para elit politik dari dua kubu menghentikan ucapan-ucapan yang tidak berguna.

Bahkan, kondisi perpolitikan Indonesia saat ini jauh mundur dibandingkan era tahun 1950-an. Saat itu, para politikus masih bisa menjaga sopan santunnya. Ketika mendapat serangan dari lawan politiknya, mereka bisa membalasnya dengan elegan. 

Sebut saja peristiwa ketika beberapa politikus beraliran Komunis menyindir Agus Salim di sebuah forum dengan sebutan Kambing karena ciri khasnya yang berjenggot. Bukannya malah menghina kembali dengan kata-kata yang tidak berpendidikan, politikus Minangkabau itu malah bertanya kepada panitia, "Bukannya forum ini hanya dihadiri oleh manusia? Kenapa ada hewan di pojok sana?" 

Tentu saja kita semua berharap, aksi elit politik yang dipertontonkan saat ini tidak berujung dengan krisis demokrasi seperti yang dialami oleh Plato. Meski mayoritas masyarakat Indonesia konon masih kurang pandai, setidaknya kata elit yang disematkan untuk para politisi bisa menggambarkan kualitas mereka yang lebih baik dari masyarakatnya. Semoga....