Kasus perampasan lahan pertanian di beberapa desa di Kabupaten Kulon Progo telah berhasil menyita perhatian publik selama tahun 2017 ini. Persoalan itu mencuat akibat adanya rencana pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di tanah pertanian dan pemukiman milik warga. Rencana ini pun bukannya baru digulirkan, namun sejatinya telah masuk dalam agenda pemerintah sejak tahun 2011 silam, yaitu saat masih di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

 

Sejak mulai dicanangkannya, rencana pembangunan NYIA di Kulon Progo tidak pernah sepi dari aksi penolakan. Aksi penolakan pun datang dari bermacam kalangan, di antaranya para penggiat organisasi sosial, mahasiswa, dan warga Kulon Progo tentunya. Aksi semakin memanas ketika di awal Desember lalu, rumah-rumah warga sudah mulai diratakan dengan tanah.

 

Menyertai aksi penolakan warga yang terpaksa harus kehilangan tempat berteduhnya, mahasiswa dari beragam wilayah pun turut andil memberikan bantuan. Salah satunya adalah Aksi Gerakan Solidaritas Kulon Progo yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB). Aksi Solidaritas tersebut diisi dengan kegiatan penggalangan dana bagi warga korban gusuran proyek raksasa tersebut.

 

Muhammad Safikri, selaku Ketua Departemen Kajian Strategis, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (BEM FMIPA) 2018 mengamini hal tersebut. “Sudah disalurkan donasinya oleh BEM FEMA sebagai koordinator aksi,”, jelasnya. Dari hasil penggalangan dana tersebut, setidaknya terkumpul uang sebanyak Rp1.121.900.