Bogor—Pusat Pengkajian, Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Insitut Pertanian Bogor (P4W LPPM IPB) menemukan sebanyak 55 titik rawan longsor di dua desa di kawasan hulu Ciliwung, Puncak, Bogor. Kedua desa tersebut yakni Desa Tugu Utara dan Desa Tugu Selatan, salah satu daerah dengan jumlah villa yang melimpah ruah.  

 

Temuan tersebut buah kerja sama dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat seperti Forest Watch Indonesia, Kaum Telapak, Community Forest Ecosystem Services (CFES) “Ini akibat terlampauinya daya dukung lingkungan sehingga setiap tahun terus mengalami kejadian longsor,” kata Kepala P4W LPPM  Ernan Rustiadi dalam acara Ekspose Program Pemulihan Ekosistem di Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung di kawasan Agrowisata Gunung Mas, Kecamatan Cisarua, Bogor, awal April lalu.

 

Menurut Ernan, penyebab terlampauinya daya dukung lingkungan di Puncak gara-gara pemanfaatan ruang yang berlebihan, tidak sesuai dengan kemampuan lahan. Misalnya, alih fungsi lahan dari kawasan resapan air menjadi daerah permukiman, villa, serta perkebunan sayur. Walhasil, gara-gara alih fungsi lahan peluang terjadinya longsor di sana semakin tinggi. Apalagi, kata dia, ketika musim penghujan khususnya pada saat adanya kejadian cuaca-cuaca ekstrim di kawasan ini.

 

Putri Cantika, Ketua Pelaksana acara Ekspose Program Pemulihan Ekosistem di Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung menambahkan, bencana yang kerap terjadi baik di hulu maupun di hilir Ciliwung menunjukkan bahwa kawasan daerah aliran sungai telah rusak dikarenakan daya dukungnya semakin turun. “Dari tahun ke tahun pemberitaan selalu ada mengenai banjir di Jakarta,” kata dia,  Begitu pula kejadian longsor di kawasan Puncak.  

 

Karenanya, IPB bersama dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang peduli lingkungan berupaya melakukan normalisasi kawasan hulu Ciliwung. Salah satu caranya, kata Ernan, dengan menyadarkan petani-petani yang memanfaatkan kawasan hutan beralih dari tanaman semusim seperti sayuran  beralih ke budidaya kopi dan aktivitas-aktivitas yang ramah lingkungan. Apalagi, kopi kini tengah digandrungi dan menjadi komoditas terpenting.

 

Puncak adalah bagian dari area Cagar Biosfer Cibodas sebagaimana diratifikasi pemerintah  dan  United Nations Educational Scientific Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 1977. Kawasan ini dipromosikan sebagai kawasan yang dijaga keseimbangan antara manusia dan ekosistemnya karena kekayaan keragaman ekosistemnya.

 

Vivi Priliyanti