Dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional, sejumlah mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) berangkat menuju Istana Negara, Senin 25 September 2017. Keberangkatan mereka bukan tanpa maksud dan persiapan, aksi di momen Hari Tani Nasional ini sudah digagas dari jauh-jauh hari. Niatan aksi ini pun diperkuat karena belum adanya tindakan nyata atau minimal pernyataan sikap pemerintah terkait tuntutan yang dilayangkan BEM Keluarga mahasiswa IPB (BEM KM IPB) untuk Presiden Jokowi. Kala itu, pada 6 September lalu, Presiden BEM KM IPB, Panji Laksono berkesempatan menyerahkan langsung bundel kajian pertanian dan sejumlah tuntutan pertanian kepada Presiden Jokowi yang datang menghadiri Dies Natalis IPB ke-54.

 

Mulai pagi hari tadi, tepatnya jam 07.00, rombongan mahasiswa telah meninggalkan kota hujan untuk menuju ibu kota negara. Disusul rombongan berikutnya di jam 10.00 dan terakhir pada pukul 13.40 rombongan terakhir meninggalkan markas mahasiswa, Student Center IPB. Pada pukul 14.40, kumpulan agent of change yang telah lebih dulu sampai di Jakarta melakukan long march menuju istana negara sambil menunggu tambahan massa lainnya.


Memimpin orasi Aksi Hari Tani


Bersuara bersama mahasiswa Universitas Negeri Jakarta 


Dalam momen bersejarah bagi dunia pertanian ini, setidaknya inilah tuntutan BEM KM IPB selaku Koordinator Isu Pertanian BEM Seluruh Indonesia:

1.    1. Menuntut Presiden Joko Widodo untuk segera menyelesaikan konflik agraria di Indonesia yaitu Konflik Petani Kendeng, Nelayan Pulau Pari, dan menghentikan Reklamasi Teluk Jakarta. Serta segera mewujudkan janji reforma agraria.

2.     2. Mendesak Presiden Joko Widodo untuk merealisasikan janji nawacitanya dalam membangun industri pangan nasional dan tidak bergantung pada impor. Terutama impor gula, garam, dan daging yang terus menjadi polemik yang menyengsarakan petani.

3.     3. Menuntut Presiden Joko Widodo untuk berpihak kepada petani Indonesia dan serius mengelola negara.

 

1.