Sumpah pemuda adalah salah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia yang dikemukakan para pemuda terdahulu. Saat ini, setelah delapan puluh sembilan tahun ikrar itu diucapkan dengan penuh semangat, akankah semangat yang sama masih dirasakan oleh pemuda saat ini? Pasalnya, jika melihat fenomena-fenomena pemuda sekarang, yang mampu dilakukan hanya mengelus dada sambil berpikir, siapa yang harus disalahkan?

Namun, hal ini tidak terjadi pada dua mahasiswa berprestasi Institut Pertanian Bogor (IPB), yakni Achmad Solikhin dan Ilham Maulidin. Achmad Solikhin, merupakan mahasiswa S3, penerima beasiswa program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), dari Departemen Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Ia berhasil memenangkan Student AwardSchweighofer Prize 2017, di Austria. Penghargaan bergengsi di bidang kehutanan ini diperuntukkan bagi inovator muda dunia. Riset yang diangkat oleh Achmad dalam ajang tersebut adalah sebuah riset yang berupaya meningkatkan kekuatan kayu dengan impreganansi menggunakan material nano. Dalam ajang tersebut, Achmad tercatat mewakili dua negara, yakni Indonesia dan Jepang. Karena, pada saat itu ia sedang mengikuti program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI) di Shizuoka University. 


Gagasan cemerlang tersebut di latar belakangi oleh kondisi kayu cepat tumbuh di Indonesia yang memiliki sifat inferior atau tidak awet sehingga perlu ditingkatkan kekuatannya. peningkatan kekuatan kayu tersebut dilakukan dengan impregnasi menggunakan material nano. Ia mengaku bersemangat melakukan inovasi ini, karena terdorong oleh keinginan untuk membuat bangga orang tua serta nusa dan bangsa.

“Apa pun bisa selama ada niat dan usaha keras, apalagi sejatinya hanya pemudalah yang mampu melakukan ini semua,” ungkapnya dengan yakin.

Ia pun merasa bangga, karena dengan mengikuti ajang tersebut, dalam membawa nama Indonesia ke kancah internasional. Apalagi, pemuda kelahiran Jepara ini berhasil menyingkirkan saingannya yang berasal dari lima perguruan tinggi bergengsi dunia. Kelima perguruan tinggi tersebut adalah University of Sopron, Hungaria; University of Sao Paulo, Brazil; University of Ljubljana, Slovenia; Laval University, Canada; dan Pontifical Catholic University, Cili. Prestasi lainnya, selain menjadi nominator Student AwardSchweighofer Prize 2017, Achmad juga berhasil menyelesaikan 11 publikasi internasional pada jurnal bereputasi.

Sosok kedua yang menginspirasi adalah Ilham Maulidin. Mahasiswa Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB itu memang penuh dengan prestasi. Mahasiswa semester lima ini, di usianya yang masih muda, telah berhasil menorehkan prestasi dan menghasilkan karya berupa permainan edukasi adaptasi bencana, yang diberi nama Eco-Meteorology (COMET). Selain sebagai penyusun COMET, Ilham merupakan founder Generasi Cerdas IT Indonesia, yaitu sebuah gerakan yang berupaya untuk mengenalkan IT di pedesaan dengan berbasiskan kearifan lokal.

Kedua hal yang dilakukan oleh Ilham, juga apa yang dikerjakan Achmad, memiliki satu kesamaan yakni dua pemuda tersebut mengerahkan segenap pemikiran dan tenaganya demi kontribusi terhadap masyarakat luas. Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Ilham saat ditanya kunci keberhasilannya meraih prestasi, ia meyakini bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi. Masalahnya hanya pada mau atau tidak, bersedia atau tidak, untuk berusaha lebih keras dibandingkan orang lain. Jika memilih untuk berusaha dengan lebih keras, maka harus memiliki kesiapan berkorban waktu, tenaga, serta pikiran dalam menjalaninya. Namun, apalah artinya pengorbanan kita saat ini jika dibandingkan dengan pengorbanan para pemuda zaman dulu yang tertatih menghadapi kerasnya penjajahan. Seharusnya, bergerak untuk berprestasi adalah bukti syukur kita atas apa yang telah diperjuangkan generasi terdahulu.

“Lagi pula, ilmu yang kita miliki itu akan ada pertanggungjawabannya,” tegas Ilham.
Karena sang penyusun COMET sangat senang mengaplikasikan ilmunya, mari sekarang kita bahas lebih jauh tentang apa itu COMET?

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, COMET adalah permainan adaptasi edukasi bencana. Permainan ini lahir dari kekhawatiran terkait imbas dari perubahan iklim, yang salah satu imbasnya adalah bencana. Untuk sasarannya, permain COMET dikhususkan bagi anak-anak usia dini yang tinggal di wilayah rawan bencana. Banyak aspek penting yang harus diketahui soal kebencanaan. Seperti pengenalan potensi bencana yang ada di sekitar, sejarah bencana yang pernah terjadi, bentuk antisipasi, meningkatkan kesadaran tanda-tanda bencana, dampak bencana bagi individu, keluarga, komunitas, cara penanganan dalam kondisi bencana dan bagaimana cara menyelamatkan diri dari bencana.

COMET (Eco-Meteorology) dirancang dengan menarik dan edukatif, sehingga hasil dari media permainan ini dapat menjadi edukasi dini tanggap bencana. Gambaran permainannya yaitu seperti permainan ular tangga, dengan tambahan inovasi dan edukasi di dalamnya. Dengan disampaikannya info tentang kebencanaan melalui mainan, diharapkan anak-anak di daerah rawan bencana dapat beradaptasi dan tanggap terhadap bencana yang disebabkan oleh lingkungan dan iklim. 
 
Demikianlah gambaran dua sosok pemuda yang patut dijadikan sebagai panutan bagi para generasi muda, terutama dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ini. Marilah, bersama-sama kita lanjutkan perjuangan Sumpah Pemuda dengan menorehkan prestasi yang membanggakan bangsa.