Agria Swara kembali bersuara. Di awal tahun ini, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Institut Pertanian Bogor (IPB) bidang paduan suara kembali melebarkan sayapnya ke kancah internasional. Setelah berhasil meraih juara 1 di Irlandia Utara pada tahun 2016 lalu, Agria Swara akan kembali menjajal bakatnya dengan mengikuti kompetisi The 54th Montreux Choral Festival yang akan digelar di Kota Montreux pada tanggal 4 – 7 April mendatang. Montreux Choral Festival adalah kompetisi paduan suara yang diadakan di Kota Montreux, Swiss. Kompetisi ini berjalan setiap tahun dan pada gelaran yang ke-54 ini rencananya akan diikuti oleh 9 negara, termasuk Indonesia. The 54th Montreux Choral Festival juga merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian 8th IMAC (International Mission in Art and Culture).

 

Sebelum melaju ke kompetisi internasional, pada tanggal 18 Maret kemarin, Agria Swara telah sukses menggelar Pre-Competition Concert yang bertajuk Gita Narapraya. Konser awalan ini digelar di Aula Simfoni Jakarta dan turut disaksikan pula oleh Rektor IPB Dr. Arif Satria beserta jajarannya, Walikota Bogor Bima Arya, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, serta Konduktor ternama Addie MS. Tidak kalah penting dengan empat tokoh tersebut, gelaran ini juga menghadirkan sejumlah penyanyi profesional serta musisi sebagai pengisi acara, mereka yakni Putri Ayu, Maria Callista, dan Vicky Sianipar.

 

Tema konser Gita Narapraya dipilih untuk melambangkan makna dari UKM yang sarat prestasi ini. Gita memiliki arti sebuah nyanyian yang indah, dengan harapan nyanyian yang akan Agria Swara lantunkan dapat memberikan kebahagiaan bagi siapa saja yang mendengarkannya. Adapun Narapraya merupakan gabungan dari kata Narawita dan Abhipraya. Narawita merupakan bahasa sansekerta yang berarti sawah. Filosofi ini dianggap sesuai dengan Agria Swara yang bagaikan sawah, yakni sebuah tempat untuk menumbuhkan dan menempa dari mulai benih sampai siap untuk dituai. Selain itu, sawah sungguh indah dipandang, tak ubahnya Agria Swara yang menyejukkan hati melalui lantunan harmoninya. Kata kedua adalah Abhipraya yang artinya penuh harap. Dalam hal ini Agria Swara merupakan wadah bagi setiap pribadi yang mau berkembang dan sarat akan harapan  untuk menjadi paduan suara yang dicintai oleh banyak orang.

 

Konser awalan ini terbagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama, penonton disuguhkan lagu-lagu klasik dari komposer terbaik dunia yang diramu oleh Agria Swara dalam berbagai bahasa, di antaranya bahasa Inggris, Latin, Italia, Jerman dan bahasa Prancis. Beranjak dari lagu-lagu bahasa asing, kumpulan muda-mudi itu membawa penikmat musik larut dalam syahdunya lagu-lagu daerah yang mereka kemas secara apik dengan ditambah tarian-tarian khas. Lenggak-lenggok para penyanyi semakin indah untuk dinikmati terlebih karena balutan kostum nan apik yang sukses memesona setiap pribadi yang menyaksikannya. Kostum bertema etnik dengan warna-warna terang dan aneka motif menambah kesan mewah gelaran pertunjukkan yang disuguhkan. Perancang busana ternama, Raden Sirait, menjadi sosok kunci atas kesesuaian balutan busana yang dikenakan ke-44 penyanyi paduan suara.

 

Kolaborasi Agriaswara dengan penyanyi dan musisi tanah air semakin menunjukkan kelas paduan suara mahasiswa ini. Di sesi pertama gelaran konser, tepatnya pada penghujung sesi pertama, sebuah suguhan luar biasa tercipta dari kolaborasi antara Agria Swara dan Maria Callista yang membawakan soundtrack film The Greatest Showman—Never Enough. Alunan merdu tuts piano yang beradu dengan jemari musisi kenamaan Vicky Sianipar pun menambah syahdu minggu malam kala itu. Tak cukup sampai di situ, pada sesi dua, sebuah pertunjukkan berkualitas pun hadir dalam kolaborasi antara Agria Swara, Maria Callista, Putri Ayu, dan Vicky Sianipar yang membawakan lagu daerah Batak yang berjudul O Tano Batak.

 

Konser yang berhasil menghipnotis sekitar 700 orang untuk hadir ini ternyata berhasil pula menghipnotis para donator untuk membantu berjalannya pertunjukkan, pun begitu dengan kegiatan kompetisi di Montreux yang akan dilangsungkan nanti. Dari segi pembiayaan, Agria Swara sangat beruntung karena banyak pihak yang rela mensukseskan acaranya. Dalam kegiatan ini, setidaknya lebih dari lima pihak turut andil meringankan pundi-pundi rupiah yang dibutuhkan. Mereka yang baik hati tersebut adalah, pastinya pihak IPB, kemudian pemerintah Kota Bogor, organisasi lain seperti Bogor Life Science and Technology dan LIONS, serta bantuan dari kementerian, kedutaan, juga para alumni Agria Swara. Selain itu, kostum cantik yang digunakan pun merupakan pemberian cuma-cuma dari sang desainer.

 

Melimpahnya fasilitas dan terbukanya kesempatan untuk berprestasi tentunya membuat para anggota Agria Swara berbondong-bondong ingin memantaskan dirinya menjadi ke-44 orang terpilih. Namun, tidak semudah itu untuk bisa ikut terbang ke Swiss atau ikut berdiri di panggung Aula Simfoni Jakarta. Para anggota Agria Swara yang berminat mengasah kemampuannya, harus mengikuti seleksi terlebih dahulu yang hasil akhirnya akan diputuskan oleh pelatih Agria Swara. Dan, bagi anggota yang terpilih, selain berkesempatan untuk merasakan atmosfer kompetisi internasional Montreux,  mereka juga akan terlibat dalam gelaran konser budaya yang menyuguhkan lagu-lagu daerah Indonesia di negara Pegunungan Alpen tersebut. Anggota Agria Swara memang pantas berbangga diri, kerena mereka menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia yang mengikuti kompetisi berkelas ini.


Reporter: Vivi Priliyanti