Oktober memang kental sekali dengan nuansa semangat pemuda. Di bulan yang menyimpan sejarah fundamental pergerakan pemuda, seluruh lembaga kemahasiswaan di lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) tengah menunjukkan eksistensinya di ranah pergerakan. Seluruh fakultas yang ada di lingkungan kampus IPB sedang disibukkan dalam rangkaian pemilihan ketua dan wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) perode 2017-2018. Sambil memperingati Hari Sumpah Pemuda, mari kita menyelami agenda politik kampus dan berkenalan dengan para pemuda visioner yang berani mengambil risiko memegang jabatan penting.

 

Dalam kontestasi politik kampus kali ini, terlihat ada tiga fakultas yang hanya memiliki satu kandidat calon ketua. Fakultas tersebut adalah Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), lalu Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM). Entah karena alasan apa penyebab munculnya calon tunggal, apakah karena kurangnya minat partisipasi mahasiswa dalam ajang pemilihan, atau saking ketatnya persyaratan dari panitia pemilihan raya. Jikalah ternyata rendahnya minat mahasiswa yang menjadi alasan, maka kita wajib bersedih hati, bahwa di momen peringatan sumpah pemuda ini, semangat berkontribusi pemuda malah mengalami penurunan.

 

Tapi, sebagai seorang pemuda yang memegang tanggung jawab kemajuan bangsa, berkecil hati adalah sifat yang dengan tegas harus dihindari. Terlepas dari kuantitas kandidat yang tidak mencerminkan partisipasi aktif, kuliatas para calon dan segenap panitia pemilihan raya yang terlibat harapannya dapat menambal bolong ketidakidealan tersebut. Penilaian terhadap kualitas calon pemimpin kampus ini diuji dalam forum-forum Dialog Publik dan Debat Terbuka. Dalam pelaksanaannya, masing-masing fakultas mengadakan satu kali Dialog Publik dan satu kali Debat Terbuka sebelum para kontestan melaju di pertarungan pemilihan.

 

Dalam upaya melihat kualitas para mahasiswa yang terlibat dalam euforia politik kampus ini, Retorika Kampus telah mendaftar tema-tema Dialog Publik dan Debat Terbuka yang dilakukan oleh masing-masing fakultas. Tema yang diusung, pastinya mencerminkan visi, pola pikir, dan analisis mahasiswa terhadap permasalahan yang krusial diselesaikan dalam periode dekat ini.

 

Induk dari seluruh lembaga kampus IPB, BEM KM IPB, telah rampung melaksanakan Dialog Publik dan Debat Terbuka. Tema yang diusung saat Dialog Publik adalah “Optimalisasi Kemampuan BEM KM IPB Terhadap Pelayanan dan Kesejahteraan mahasiswa”, dan saat Debat Akbar, “Peran BEM KM Dalam Pergerakan Mahasiswa di Skala Nasional, Daerah, Maupun Kampus”, menjadi pilihan bahasan yang ditetapkan.

 

Beralih pada Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), para calon dokter ini menetapkan tema bagi Dialog Publik berupa seruan menolak apatisme mahasiswa dan menggaungkan cita-cita mewujudkan FKH yang prestatif dan kontributif. Adapun tema Debat Terbuka yaitu perihal “Tantangan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dalam Mengenalkan Profesi Dokter Hewan Kepada masyarakat Luas”. Sama menariknya dengan FKH, panitia pemilihan raya Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) menetapkan tema “Kualitas Sumberdaya Manusia FPIK IPB Dalam Segala Kegiatan Mahasiswa”, untuk Dialog Publik, dan tema “Kebijakan Reklamasi yang Berkepanjangan Terhadap Pertahanan Maritim dan Kesejahteraan Nelayan”, untuk Debat Terbuka.

 

Bagi Fakultas Peternakan (FAPET), urusan aktualisasi peran ketua dan wakil ketua BEM dalam pembangunan jiwa kepemimpinan dan aktivisme mahasiswa dinilai sebagai permasalahan penting yang akhirnya dijadikan sebagai tema Debat Terbuka. Hampir sama dengan FAPET, Fakultas Kehutana (FAHUTAN) pun mengusung tema kemahasiswaan dalam kegiatan Dialog Publik dan Debat Terbukanya. Untuk Dialog Publik, fakultas yang memiliki jargon ‘ASIK’ ini mengangkat tema “UKT Mencekik VS Prestasi Meredup”, sebuah realita yang memang menjadi polemik belakangan ini. Dan dalam Debat Terbuka, perihal “Pergerakan BEM dan Pelayanan Mahasiswa” menjadi tema yang digulirkan.

 

Tidak ingin kalah dengan fakultas lainnya, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menyuarakan pentingnya kolaborasi BEM FMIPA dengan Himpunan Profesi di wilayah FMIPA demi kemajuan fakultas. Lalu, sebuah tema Debat Publik yang menohok pun diangkat yakni “Masih Pentingkah BEM di FMIPA?”, mengingat fakultas yang masuk dalam daftar jumlah mahasiswa terbanyak di IPB ini hanya mengusung satu calon dalam pesta demokrasinya, sebuah ironi yang harus dijawab oleh seluruh mahasiswa FMIPA. Berbeda dengan fakultas lainnya, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), menghadirkan dosen dalam kegiatan Dialog Publik-nya. Sehingga, selain di hadapan mahasiswa, kedua pasangan calon harus mengemukakan visi dan misi serta meyakinkan pendidiknya bahwa mereka memang layak diberikan tanggung jawab untuk menakhodai lembaga kemahasiswaan terbesar di fakultas toska ini.

 

Rangkaian Dialog Publik dan Debat Terbuka sebagai upaya pencarian yang terbaik dari yang baik telah selesai dilaksanakan, dan prosesi pemilihan pun mulai dituntaskan. Kini, saatnya bagi kita untuk menunggu, siapa kiranya sosok yang dipilih oleh publik sebagai pemegang amanah pergerakan mahasiswa. Semoga, dari pribadi-pribadi tersebut, dapat mengulang kembali semangat Sumpah Pemuda dan mengulang kejayaan serta prestasi pemuda dalam upaya pembangunan bangsa.