Merasakan sensasi petualangan mencari jalan ke luar sebuah labirin memang mengasyikkan. Demi mendapatkan pengalaman tersebut, Anda tidak perlu repot-repot terbang ke Negeri Paman Sam sambil merogoh kocek yang dalam. Cukup datangi sebuah kampus yang berada di kawasan Dramaga, Kabupaten Bogor, Anda sudah dapat menikmati sensasi berpetualang layaknya menyusuri labirin Cool Patch Pumpkins Corn yang mendunia. Walaupun, mungkin perbandingan dua tempat tersebut terkesan berlebihan, tapi tak bisa dipungkiri bahwa desain bangunan kampus yang bernama Institut Pertanian Bogor (IPB) memang selalu sukses membuat pengunjungnya kebingungan menentukan arah.

 

Bagi orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kampus pertanian ini, desain bangunan yang berbentuk serba segitiga kerap kali mengelabui mata. Mata kita sering terkecoh karena semua tempat terlihat sama. Sekalipun di beberapa dinding tertempel denah lokasi, namun sulit sekali untuk bisa memahami petunjuk yang dimaksud. Istilah-istilah seperi Level, Wing, dan banyaknya koridor juga selasar menambah parah kebingungan yang melanda.

 

Selain kebingungan akibat desain bangunan yang berbentuk segitiga, kondisi bangunan yang berundak pun menyulitkan pengunjung untuk menentukan posisi lantai. Hal tersebut dikarenakan bangunan berdiri di tanah yang kontur ketinggiannya berbeda. Sehingga, anggapan posisi lantai bisa jadi berbeda di beberapa tempat. Perbedaan ketinggian juga membuat bangunan IPB dipenuhi tangga yang sukses melelahkan kaki pengunjung. Terlebih, kampus ini hanya menyediakan fasilitas lift di dua kawasan, yakni Gedung Rektorat dan Fakultas Peternakan.

 

Terlepas dari ketidaknyamanan yang timbul, faktanya kampus rakyat ini memiliki filosofi yang mendalam terkait desain bangunannya. Secara umum, desain segitiga berusaha menerapkan ideologi Tri Dharma Perguruan tinggi dan usaha harmonisasi dengan alam. Beban sebagai perguruan tinggi yang harus berkontribusi terhadap pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat ditanamkan bukan hanya pada manusia yang terlibat, tapi juga disimbolkan lewat desain bangunan.

 

Berbicara perihal hubungan desain bangunan dengan usaha harmonisasi dengan alam, ternyata perguruan tinggi ini sudah menerapkan konsep Green Campus sejak 30 tahun yang lalu. Berdasarkan penjelasan dari Kepala Departemen Arsitektur Lansekap, Dr. Bambang Sulistyantara, M.Agr, desain bangunan IPB Dramaga adalah hasil kolaborasi antara konsultan dari Amerika Serikat dengan konsultan Indonesia yang bernama Sangkuriang. Grand design-nya adalah membangun sebuah kawasan yang sesuai dengan iklim tropis dan sebisa mungkin menghemat penggunaan energi.


Rancangan kampus IPB Dramaga yang berbentuk segitiga membuat bangunan tersebut banyak memiliki ruang terbuka di bagian tengah bentuk segitiganya. Pemandangan ini akan tampak jelas apabila dilihat melalui foto udara. Ruang terbuka yang tersedia berguna untuk menjaga lingkungan tetap asri. Keasrian yang terjaga harapannya memungkinkan setiap ruangan tidak perlu difasilitasi alat pendingin. Selain itu, pemilihan ukuran jendela yang besar ditujukan untuk penghematan pemakaian lampu. Terkait keluhan perihal lantai bangunan yang membingungkan, hal tersebut pun memang sengaja dilakukan. Alasannya adalah karena pihak perancang ingin tetap mempertahankan kontur asli tanah untuk menghindari longsor atau kerusakan alam lain yang mungkin timbul jika dipaksakan harus meratakan tanah. Sistem levelling lantai bangunan dimulai dari level 1 hingga level 6. Acuan level 1 adalah Gedung Rektorat yang berada di dataran paling rendah.

 

Masih dalam upaya pengaplikasian konsep kawasan tropis dan hemat energi, bangunan kampus IPB Dramaga dibuat saling terhubung satu sama lain. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa kawasan Bogor memiliki curah hujan yang tinggi, sehingga desain bangunan yang saling terhubung seharusnya memudahkan mobilitas pengunjung jika hendak berpindah tempat dalam kondisi hujan. Misalnya saja, jika Anda bermaksud menuju Gedung Rektorat dengan posisi awal dari Pintu Berlin, Anda hanya akan melewati satu kawasan terbuka saja, yaitu saat menyebrang dari area Fakultas Teknologi Pertanian ke Perpustakaan Pusat LSI.

 

Kentalnya filosofi bangunan juga tercermin dalam desain Gedung Rektorat atau yang biasa dikenal dengan nama gedung Andi Hakim Nasution. Menurut dosen Departemen Arsitektur Lansekap, Ir.Qodarian Pramukanto, M.Si, Gedung Rektorat berbentuk piramid karena merepresentasikan bentuk Gunung Salak, “Seolah-olah ada garis imajiner yang menghubungkan Gedung Rektorat dengan Gunung Salak,” terangnya. Lebih lanjut, Qodarian menjelaskan bahwa bentuk piramida pada Gedung Rektorat selain merupakan simbolisme atas karakter lingkungan sekitar kampus, juga merupakan representasi simbolik IPB sebagai kampus pertanian. Piramida Gedung Rektorat dengan halaman teras luar pada setiap lantai bangunan mengibaratkan terasering lahan pertanian di kawasan yang berlereng pada lereng pegunungan. Terlepas dari beberapa ketidaknyamanan yang dirasakan saat menjelajahi kampus hijau, filosofi yang terkandung pada awal pembangunannya menjadi poin unggul dari kampus segitiga ini.

 

Keunggulan filosofis yang terkandung, nampaknya tetap diteruskan hingga kini, terbukti saat pembangunan gedung baru yakni Gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam serta Gedung Fakultas Ekonomi Manajemen. Kedua gedung baru tersebut menambah deretan bangunan berbentuk segitiga di kawasan kampus IPB Dramaga. Namun, diamini oleh Bambang, dalam masa kekinian, perlu juga dilakukan kajian terkait hubungan antara desain bangunan dengan kenyamanan manusia yang menggunakannya. Sehingga, keunggulan yang ada bukan hanya unggul dari segi filosofi namun menjadi kurang ergonomis saat dijajaki. “Yah, dulu mungkin hanya dilihat di maket saja, tidak dibayangkan orang yang menggunakannya,” pungkas sosok yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pendidikan Arsitekur Lansekap (APALI) kepada Retorika Kampus.

 

 

Reporter: Vivi Priliyanti & Dedeh Nurhayati