Travelling, bagi generasi zaman now sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Banyaknya destinasi wisata dan agen-agen perjalanan menambah kemudahan kita dalam mengakses hal-hal yang berkaitan dengan travelling. Apalagi dengan bantuan teknologi, jarak dan waktu tak lagi menjadi hambatan untuk menjelajah wilayah baru. Syaratnya hanya satu, kita memiliki cukup biaya untuk memuluskan hajat tersebut.

 

Biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan travelling, berapa pun besarnya, kadang tak dipermasalahkan asal kepuasan terpenuhi. Kepuasan yang didapat biasanya muncul karena didapatnya pengalaman dari hasil berkenalan dengan orang baru dan juga mengunjungi tempat-tempat baru. Selain itu, penuhnya kantung belanja dengan segala pernak-pernik khas daerah menjadi poin penyempurna. Namun, bagaimana jadinya jika kepuasan yang didapat saat travelling adalah untuk hal yang antimainstream? Yaitu kepuasan yang lahir karena telah berhasil menolong kalangan yang membutuhkan. Kepuasan antimainstream inilah yang selama kurang lebih dua tahun dijajal oleh sebuah komunitas yang menamakan dirinya Banana Pirates.

 

Banana Pirates adalah sebuah sociotraveller community yang digagas oleh empat mahasiswa IPB pada tanggal 28 November 2016. Keempat orang tersebut yakni, Kays Abdul Fattah, Ghazaly Imam Negoro, M Majid Firman Siregar, dan Bagus Wahyutomo. Banana Pirates mencoba mengkolaborasikan acara jalan-jalan dengan kegiatan menebar manfaat dalam bentuk proyek sosial. Terkait penamaan komunitas, keempat penggagas menjadikan nama banana menjadi brand kegiatannya karena terinspirasi oleh kegiatan mereka dahulu yang pernah berjualan pisang untuk menunjang biaya perjalanan mengelilingi ASEAN. Adapun kata pirates dipilih karena menggambarkan sosok tangguh yang selalu mengembara dan berpetualang mengarungi lautan. Sehingga nama Banana Pirates menjadi representasi komunitas sociotraveller ini.

 

Selama perjalanannya, Banana Pirates telah mengadakan empat kegiatan, yaitu Sedekah Kampung Cham dan Keliling Asia Tenggara, kegiatan Qurbanana, kegiatan Membangun Madrasah, serta yang terakhir adalah Bananadventure goes to Banana Island yang baru saja dilaksanakan pada awal Februari ini. Sedekah Kampung Cham dan Keliling Asia Tenggara merupakan proyek perdana Banana Pirates yang telah dilaksanakan pada tanggal 18 hingga 30 Januari tahun lalu. Kegiatan ini didanai lewat donasi yang dikumpulkan melalui akun kitabisa.com dan bantuan dari Perhimpunan Masyarakat Indonesia di Kamboja (PERMIKA). Jumlah donasi yang terkumpul adalah 7 juta rupiah dari hasil kitabisa.com serta 237 dolar Amerika Serikat, 52.500 kamboja riel, dan 60 thai bath. Keseluruhan donasi yang didapat, selain dipakai untuk biaya akomodasi, juga dibelanjakan pakaian untuk disumbangkan kepada masyarakat di sana.

 

Kegiatan kedua Banana Pirates adalah Qurbanana yang dilaksanakan pada tanggal 28 Agustus sampai 2 September 2017. Sesuai namanya, proyek ini berisi kegiatan penyaluran hewan Qurban bagi masyarakat muslim di Kamboja, yang merupakan warga minoritas di negara tersebut. Melalui hasil donasi, Banana Pirates dapat menyediakan 7 ekor sapi dan 49 slot paket qurban. Penyembelihan hewan qurban terbagi menjadi dua hari di tempat yang berbeda, yaitu 4 sapi disembelih di Kampung Trabeang Chok, District Ponhea Kraek, Provinsi Kampong Cham pada tanggal 1 September dan 3 sapi disembelih di Preak Preah, Phnom Phen sehari setelahnya.

 

Tidak berselang lama setelah kegiatan kedua, pada bulan November 2017 Banana Pirates mulai melancarkan aksinya kembali. Kali ini adalah kegiatan lanjutan dari kunjungan saat pelaksanaan Qurbanana, yakni proyek membangun madrasah. Pembangunan madrasah di Kamboja, tepatnya di Desa Sanprobey, District Mamot, Provinsi Kampong Cham. Daerah tersebut memiliki fasilitas pendidikan yang sangat kurang layak. Pembangunan madrasah ini dicanangkan akan berlangsung lama, karena hingga saat ini pun, Banana Pirates masih membuka pengumpulan donasi demi rampungnya niatan baik mereka. Secara keseluruhan, dana yang dibutuhkan untuk pembangunan madrasah adalah sebesar tiga ratus juta rupiah.

 

Walaupun masih dalam hiruk-pikuk pengumpulan dana pembangunan madrasah, Banana Pirates tetap melanjutkan kegiatannya yakni dengan melangsungkan kegiatan sosial bertajuk Bananadventure Goes to Banana Island. Kegiatan yang baru dilaksanakan pada awal Februari ini dilaksankan di Pulang Pisang, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Pemilihan Pulau Pisang sebagai destinasi berikutnya adalah karena Banana Pirates memiliki salah satu anggota yang merupakan duta pariwisata Provinsi Lampung, sehingga kegiatan ini pun bekerjasama dengan pemerintahan Provinsi Lampung.

 

Selain karena adanya kenalan, wilayah Pesisir Barat memang menarik untuk dijadikan target proyek sosial, karena lokasinya termasuk daerah pelosok. Untuk dapat mencapai daerah tersebut, diperlukan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan dari Bandar Lampung. Karena lokasinya yang pelosok, daerah ini pun masih kesulitan akses listrik dan sinyal. Kegiatan sosial yang dilangsungkan adalah sosialisasi pariwisata, mengajar di SD, kunjungan ke pengrajin sulam, serta aksi bersih-bersih pantai.

 

Sesuai dengan namanya, Banana Pirates selalu diliputi semangat mengembara dan berpetualang. Buktinya, belum masuk satu bulan dari pelaksanaan proyek keempat, tim ini sudah merencanakan akan melakukan kunjungan ke Istana Belajar yang berada di Provinsi Banten pada semester mendatang. Kays Abdul Fattah, selaku penggagas komunitas, memiliki harapan besar bahwa Banana Pirates dapat menjadi pelopor sociotravelling di Indonesia bahkan dunia. “Di dunia juga masih jarang kegiatan seperti ini,” tegasnya pada Retorika Kampus.


Reporter: Vivi P.