Mahasiswa IPB berupaya mengubah ampas tebu menjadi listrik. Memanfaatkan limbah yang ada.

BOGOR—Indonesia merupakan salah satu negara penghasil gula. Bahkan, pada medio 1930, Indonesia pernah merajai pasar gula. Ketika itu, saat dijajah Belanda, Indonesia menjadi eksportir terbesar kedua di dunia setelah Kuba. 

Pada 2017, menurut data Kementerian Pertanian,  luas perkebunan tebu di Indonesia mencapai 453.456 hektare. Memang  luas, tapi tidak menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor terbesar karena jumlah produksinya hanya 2,5 juta ton gula. Sedangkan kebutuhan konsumsi gula setahun sebanyak 3 juta ton.

Di balik produksi gula menyimpan persoalan: limbah tebu. Pohon tebu tak semuanya bisa dimanfaatkan ketika diubah menjadi gula. Ampas tebu kadang dibuang begitu saja. Ada yang memanfaatkannya menjadi pakan ternak setelah difermentasi terlebih dahulu. 

Tapi di tangan tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor, ampas tebu bisa diubah menjadi piezoelectric yang mampu menghasilkan listrik. Adalah Rachma Juwita, Iqbal Lafifa Zulfa, dan Dhea Nurlaela, mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)  yang mengubah ampas tebu menjadi listrik. 

Di bawah  bimbingan dosen, Drs. Mohammad Nur Indro, M.Sc, mereka meneliti hal tersebut. Penelitian kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) yang berjudul “"PROBIGS: Piezoelectric from Biokomposit Bagasse (Ampas Tebu) Berbasis Stronsium Titanat (SrTiO3)”.

Piezoelectric adalah perangkat yang menggunakan efek piezoelectric. Efek tersebut dipasangkan pada transducer sehingga dapat digunakan untuk mengukur perubahan tekanan, percepatan, regangan atau kekuatan yang mengubahnya menjadi muatan listrik. Tegangan listrik yang dihasilkan oleh transducer piezoelektrik sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu penerapan piezoelectric ini terdapat pada korek api gas yang apabila ditekan maka api akan menyala. Selain itu, piezoelectric juga diterapkan pada pembangkit listrik tenaga gelombang laut. “Gelombang laut menekan piezoelectric kemudian menghasilkan listrik. Piezoelectric juga dapat menghasilkan sensor,”  kata salah satu anggota tim, Iqbal Lafifa Zulfa seperti dilansir ipb.ac.id akhir Juni lalu. 

Sebetulnya bahan pembuatan piezoelectric umumnya berasal dari timbal (Pb). Timbal (Pb) merupakan sumber pencemar lingkungan yang berasal dari logam. Salah satu efek timbal yakni bisa menyebabkan keterbelakangan mental bagi anak-anak yang terpapar. World Health Organization pun memasukkan timbal sebagai logam yang berbahaya bagi lingkungan. 


Pencemaran lingkungan oleh timbal ini kebanyakan berasal dari kegiatan eksploitasi dan ekstraksi logam sebagai bahan perpipaan, amunisi, baterai, dan juga bahan pembuatan piezoelectric. Tim kemudian mencari bahan alami yang ramah lingkungan sebagai alternatif dalam pembuatan piezoelectric. 

Ditemukanlah ampas tebuh. Limbah tebu sering ditemui dalam keadaan menumpuk dan belum banyak dimanfaatkan oleh manusia. Ampas tebu ini dapat dijadikan sebagai salah satu bahan alami pembuatan piezoelectric yang ramah lingkungan.

“PKM ini bertujuan untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan, khususnya yang berasal dari logam timbal. Selain itu, penggunaan ampas tebu yang merupakan limbah merupakan salah satu upaya untuk mengurangi menumpuknya sampah atau limbah dari tebu dengan memanfaatkannya menjadi bahan material pembuatan piezoelectric,” ujar Ketua kelompok PKM-PE ini, Rachma Juwita. 

Berawal dari keresahan tersebut, tim memutuskan untuk meneliti ampas tebu. Ternyata ampas tebu mengandung silika dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan alami pembuatan piezoelectric ramah lingkungan. “Silika yang terdapat dalam ampas tebu merupakan salah satu bahan alami yang dibutuhkan dalam pembuatan piezoelectric,” kata Juwita.


Silika pada ampas tebu ini diekstrak sebagai bahan tambahan yang ramah lingkungan lalu dicampur dengan stronsium titanat menjadi bahan material piezoelectric. Setelah itu, tim akan menguji kelistrikan yang dihasilkan melalui uji tekanan dan uji tarik. 

Secara teori, seharusnya ampas tebu bisa menjadi listrik. Tinggal bagaimana memproduksi secara massal kemudian memasarkannya sehingga lebih bermanfaat bagi semua orang. 

Vivi Prilianti