Nama

:

Ahmad Wali Radhi

Ayah

:

Muhammad Taufiqur Rahman

Ibu

:

Sri Kusnaeni

Saudara

:

Muhammad Sabiq Bilhaq (Adik)

 

 

Izzah Yahya (adik)

 

 

Hayyin Yahya (adik)

 

 

Mahdi Rosyad (adik)

 

 

Kayyis Mahmud (adik)

 

Bagi massa kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), siapa tak kenal Wali? Pemilik nama lengkap Ahmad Wali Radhi saat ini diamanahi jabatan sebagai Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa (K3M) ITB tepat setelah lengser dari jabatannya sebagai Kepala Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) ITB. Tak hanya menjadi mahasiswa nomor satu di ITB, dalam setahun ke depan Wali juga dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai koordinator pusat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia (SI). Berbekal penasaran dengan sosok organisatoris ini, Retorika Kampus menemui Wali untuk membagi kisah perjalanan hidupnya hingga berada pada titik ini.

 

Lahir hingga Sekolah Dasar

 

Lahir di Medan, 08 Maret 1996 lalu pindah ke Jakarta pada usia 4 tahun dan menetap di Bogor pada saat usianya 6 tahun. Ia mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ummul Quro Bogor. Pada masa kecilnya ia bercita-cita menjadi presiden. Wali mengaku masa kecilnya tidak jauh berbeda dari anak-anak pada umumnya. Hobi bermain bola dengan kawan sekampung, dan masih sangat polos terhadap dunia. Satu yang membedakan ia dengan sebayanya adalah Wali telah memiliki hobi membaca bacaan ringan setipe komik sejak ia pandai membaca. Kegemaran membaca ini disinyalir menjadi salah satu faktor ia dan seluruh keluarganya berkacamata. “Bahkan saya baca novel Ayat-Ayat Cinta itu waktu kelas 4 SD,” tutur Wali.

 

Pengalaman pertama di Boarding School

 

Sejak muda rupanya Wali telah diajarkan untuk mandiri dengan melanjutkan sekolahnya di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Khusnul Khotimah, sebuah boarding school di bilangan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Tinggal di asrama gaya pesantren yang jauh dari orangtua banyak memberikan momen berharga dalam hidupnya. Mulai aktif berorganisasi dan sempat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Santri (MPS), hingga terpilih menjadi ketua angkatan selama 3 tahun berturut-turut. Amanah ini banyak memberinya pengalaman melerai baik pertikaian internal dalam angkatan hingga pertikaian antar angkatan. “Momen-momen pertama masuk asrama itu ya sering nangis juga, sedih juga, terus saya mulai bangkit,” ungkap anak sulung enam bersaudara ini.

 

Kembali merantau

Selepas menyelesaikan pendidikan menengah pertamanya, Ia kembali merantau di Madrasan Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia, Serpong. Memasuki usia remaja, Wali semakin hobi membaca buku dengan bobot yang lebih berat. Selain menekuni hobinya, Wali terlibat dalam organisasi siswa intrasekolah (OSIS) divisi iman dan taqwa (Imtaq). Selain itu, ia sempat terlibat dalam forum parlemen remaja Indonesia yang merupakan output dari parlemen remaja yang diselenggarakan oleh sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Kegiatan ini merupakan simulasi parlemen anggota DPR yang diwakilkan oleh siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dari masing-masing provinsi di Indonesia. “Satu provinsi 2-3 orang tergantung jumlah penduduknya. Dulu saya SMA di Banten, jadi mewakili provinsi Banten,” sebut Wali.

 

Hidup Mahasiswa!

 

Kini Wali tengah menjadi mahasiswa tingkat 4 jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB. Laki-laki beranjak dewasa ini semakin mantap menjalani hidupnya sebagai seorang organisatoris. Terbukti sejak berada di tingkat 1 atau biasa disebut Tahap Persiapan Bersama (TPB) Wali terdaftar di 6 unit kegiatan. Mulai dari Majalah Ganesha ITB, Lingkar Sastra (LS) ITB, GAMAIS ITB, Majelis Ta’lim (Mata’) Salman ITB, Tiang Bendera (Tiben) dan menjadi magangers (anak magang) Kabinet KM ITB. Memasuki tahun kedua Wali mulai disibukkan dengan amanat baru sebagai anggota divisi kajian di Himpunan Mahasiswa Pertambangan ITB (HMT-ITB). Seperti mahasiswa pada umumnya, Wali juga mengalami seleksi alam sehingga kurang aktif di Majalah Ganesha, Tiben dan LS. Di tingkat ketiga Wali masih menggeluti jabatannya di HMT, Mata, Gamais dan Kabinet namun akhirnya menjadi lebih fokus di Gamais karena diamanahi menjadi kepala. Setahun menjadi orang pertama di Gamais, Wali segera mendapat amanah menjadi K3M ITB pada tahun keempat, tepat setelah jabatan Kepala Gamais lengser.

 

Karya dan Rencana Masa Depan

 

Tak ada yang menyangka, mahasiswa Teknik Pertambangan ini rupanya memiliki sederet prestasi di luar bidang yang digeluti saat ini. Sejak duduk di bangku SMP hingga SMA, Wali kerap mengikuti Olimpiade Biologi dan pulang dengan membawa berbagai macam medali. Prestasi ini sempat menimbulkan keinginan disertai arahan dari guru dan orangtua untuk masuk di Fakultas Kedokteran. Namun, atas berbagai alasan Wali memutuskan untuk banting setir di Teknik Pertambangan. “Mikir saingan dan kuliahnya lama, saya tidak kuat untuk berlama-lama melakukan aktivitas yang sama,” ujar Wali membeberkan alasannya.

 

Di samping prestasinya di bidang akademik, Wali termasuk orang yang cukup berhasil memperjalankan hobinya. Kegemaran membacanya yang kini ia sebut menjadi sebuah kebutuhan membuahkan hasil dengan banyaknya tulisan Wali yang dipublikasikan di media online. Tulisan karyanya kebanyakan berupa sastra, esai politik dan filsafat.  Sedangkan karya untuk karya yang lebih besar saat ini Wali tengah menyusun 3 buku yang diperkirakan akan selesai di tahun ini. Genre yang diusung pada buku pertama adalah sastra, kedua terkait kehidupan kampus dan terakhir dapat dikategorikan buku agama yang berisi doa-doa pilihan dari Alquran dan hadis yang kontekstual dengan keadaan sekarang. “Dari tiga itu cuma satu yang pengen dipropose ke penerbit, dua lagi mau save dulu. Yang mau dipublish yang doa-doa,” ujar Wali.

 

Di balik kesungguhannya menekuni hobi membaca dan menulis yang mulai membuahkan, kini Wali mulai mendeklarasikan cita-cita barunya dengan lebih serius yakni menjadi politisi entah itu eksekutif maupun legislatif. Namun, Wali ingin menempuh jalur uncommon dalam mencapai ultimate goal-nya seperti yang dilakukan Walikota Bandung, Ridwan Kamil atau Wakil Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Sandiaga Uno. Wali mengaku memiliki figur politisi Indonesia yang diidolakan sejak lama, yakni Muhammad Natsir. “Mau lanjut Strata 2 (S2), wirausaha, akademisi (dosen), politisi. Kira-kira tahun 2045 masuk dunia politik, udah matang lah istilahnya,” ungkap Wali.

 

Sifat, Nilai Hidup dan Visi Misi

 

Anak sulung, hobi membaca dan menulis, berkacamata, namun hampir selalu diamanahi untuk memegang jabatan sebagai kepala organisasi sering membuat bertanya-tanya seperti apa sifat yang dimiliki oleh seorang Wali ini? Survei membuktikan berdasarkan tes psikologi yang telah ia lakukan selalu mununjukkan hasil antara Extrovert-Intuition-Feeling-Judging (ENFJ) atau  Extrovert-Intuition-Thinking-Judging (ENTJ) dengan proporsi Feeling dan Thinking yang selalu di tengah. Pun dengan introvert dan extrovert memiliki kecenderungan yang sama sehingga dapat dikatakan Kepala Kabinet KM ITB ini memiliki sifat ambivert. “Sederhananya saya perlu ada waktu untuk bersosialisasi dengan orang lain tapi saya perlu me time juga,” jelas Wali.

 

Dikatakan sebagai salah seorang yang mampu membawakan perannya dengan baik, hidup Wali tidak lepas dari nilai-nilai hidup yang ditanamkan oleh kedua orangtuanya sejak ia kecil. Setidaknya terdapat 4 nilai hidup yang dapat diambil darinya. Pertama adalah terus-menerus dekat dengan Alquran. Sejak kecil, orangtuanya selalu mengarahkan pada semua anaknya untuk terus berinteraksi dengan Alquran. Dengan kata lain, nilai keimanan dan ketuhanan yang dianutnya dimanifestasikan dengan tilawah, mempelajari dan menghafal Alquran. Tak heran mahasiswa nomor satu di ITB ini telah menyempurnakan hafalan Alquran 30 juz saat memasuki semester 6 setelah perjuangan panjangnya menghafal sejak kelas 3 SD. “Baru 4 dari 6 (saudara) yang sudah selesai hafalan 30 juz nya. Yang paling kecil adik saya masih kelas 4 SD udah mulai menghafal juga,” tutur Wali.

 

Nilai hidup yang kedua adalah intelektualitas yang diturunkan dengan pencapaian akademik. Wali mengaku benar-benar dituntut dan diarahkan dengan capaian standar atas walaupun (misalnya) tidak mampu menjadi yang terbaik. Saat ini capaian IPK Wali adalah 3.00, meskipun tidak menjadi nomor satu namun angka ini tergolong cukup tinggi bagi jurusan Teknik Pertambangan. Nilai hidup selanjutnya adalah Bahasa. Orangtuanya menekankan pada keenam anaknya untuk menguasai bahasa dari sisi nilai sosial. Wali menuturkan minimal bahasa arab dan bahasa inggris harus dikuasai. Sedangkan sampai saat ini selain menguasai kedua bahasa tersebut Wali juga dalam masa mengembangkan kemampuannya berbahasa Perancis, Jerman, dan Turki. Dan nilai hidup yang terakhir yakni berjejaring melalui organisasi.

 

Dibesarkan dalam keluarga yang menerapkan didikan khas pemimpin, Wali tumbuh menjadi pribadi yang visioner.  Ia memiliki prinsip bahwa bentuk syukur yang bisa dilakukan setelah kita berislam maupun beriman adalah kesempatan untuk terlibat dalam amal jama’i (amal bersama) sehingga Wali memiliki keinginan untuk banyak terlibat dalam proyek keumatan atau kebangsaan. Spesifiknya di dunia politik.

 

Pandangannya terhadap permasalahan bangsa saat ini

 

Isu kebangsaan yang sedang naik daun akhir-akhir ini adalah momentum 20 tahun reformasi. Wali memandang banyak gerakan-gerakan yang sifatnya mengevaluasi keberhasilan proyek reformasi. Menurut pendapatnya, dilihat dari sisi demografisnya sejak 2012, adanya bonus demografi harusnya jadi momentum Indonesia untuk bertransformasi menjadi negara maju seperti yang telah dipraktekkan oleh negara berkembang lainnya. seharusnya Indonesia juga mampu, terlebih akan menghadapi Indonesia Emas 2045. Solusinya perubahan zaman harus adaptif dan progesif terkait teknologi seperti yang ia kaitkan dengan visi Indonesia Madani pada proses pemilihannya menjadi Ketua Kabinet KM ITB. “Indonesia masih banyak PR terutama pembangunann Sumberdaya Manusia (SDM). Karena sampe sekarang pejabat public yang punya orientasi pembangunan manusia itu hanya sedikit. Padahal aset terbesar sebuah negara adalah rakyatnya. Sama kayak islam asetnya adalah ummat,” ungkap Wali.

 

Life Pattern Ahmad Wali Radhi

 

Tidak ada hidup tanpa cobaan. Pun dengan hidup seorang Wali. Ia melihat siklus masa jatuh dan bangkit dalam hidupnya memiliki pola atau patternnya sendiri. Dan yang ia lihat melalui riset kecil dalam hidupnya, semua tergantung pada interaksinya dengan alquran. Masa-masa ia mengalami mental yang menurun adalah masa-masa ia minim interaksi dengan alqura. “Dan itu kenapa saya bisa nyebutin kaya gitu karena udah jadi pattern selama 10 tahun ke belakang,” pungkas Wali.


Reporter: Nisaul Kamila