Dosen Insitut Teknologi Bandung menciptakan aplikasi yang bisa memprediksi banjir hingga lima tahun ke depan.  Aplikasi berguna juga untuk petani.

Bandung—Penduduk di sepanjang Sungai Citarum tak perlu waswas lagi dengan banjir. Bermodal telepon genggam pintar, air bah yang ujug-ujug datang dari hulu menerjang permukiman langganan banjir seperti di Baleendah dan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, kini bisa diprediksi dengan aplikasi bernama Flood Early Warning and Early Action System (FEWEAS) Citarum.

Aplikasi ini buatan pakar Meteorologi Institut Teknologi Bandung, Armi Susandi. FEWEAS Citarum bisa diunduh  di Play Store maupun App Store. Armi juga membuat versi Web agar bisa diakses menggunakan komputer jinjing dan  personal computer (PC). “Ini aplikasi pencegah banjir pertama di dunia,” kata Armi, pertengahan April lalu.

Sesuai namanya, FEWEAS Citarum memberikan data terkait cuaca, suhu, kecepatan angin, dan curah hujan di kawasan sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum melalui telepon genggam pintar. Bukan hanya kondisi saat ini saja, aplikasi buatan lulusan Max Planck Institute for Meteorology, Jerman, ini juga mampu menampilkan prediksi cuaca serta potensi banjir baik jangka pendek—interval satu jam hingga tiga hari ke depan— maupun jangka menengah—interval sepuluh hari sampai 5 tahun ke depan.

Lantas caranya bagaimana FEWEAS Citarum bisa menampilkan prediksi cuaca serta potensi banjir? Armi menjelaskan, aplikasi FEWEAS Citarum dipasok data dari 13 pos pengamatan duga air, 12 pos curah hujan, serta enam pos cuaca. Ke-13 pos duga air itu yakni di Siphon Cibebet, Jengkol Weir, Macan Weir, Gadung Weir, Salamdamra Weir, Bendungan Cikarang, Bendungan Cibeet, Siphon Bekasi, Bendungan Walahar, Tailrace, Majalaya, dan Bendungan Cisomang.

Pengamatan curah hujan dan tinggi muka air diukur sepanjang DAS Citarum menggunakan beberapa peralatan di lapangan yaitu Automatic Weather Station (AWS) untuk pengamatan cuaca, Automatic Water Level Recorder (AWLR)  mengukur tinggi muka air, dan Automatic Rain Gauge untuk mengukur curah hujan. Data dari alat-alat inilah yang kemudian dikirim ke server FEWEAS.  Selain bisa memprediksi banjir, aplikasi FEWEAS Citarum juga memberikan rekomendasi mitigasi untuk mengurangi risiko bencana.

Armi mengklaim aplikasi FEWEAS Citarum banyak bermanfaat.  Ia mengatakan dengan mengetahui prediksi potensi banjir di suatu wilayah, membantu pemerintah untuk bersiaga dan dapat mengantisipasi bencana. Begitu juga dengan masyarakat bisa mengungsikan barang-barang jauh-jauh hari sebelum air bah datang serta mencegah wabah penyakit. “Biaya pencegahan tentunya lebih murah ketimbang biaya pasca bencana,” kata Armi.

Armi mengatakan membuat aplikasi FEWEAS Citarum tak murah, terutama membangun stasiun pengamatan.  Karenanya ITB bekerja sama dengan instansi Perusahaan Umum Jasatirta II untuk  membangun 13 titik pos duga air di DAS Citarum yang terhubung dengan aplikasi FEWEAS.

Selain itu, aplikasi FEWEAS Citarum berguna juga untuk petani di sepanjang Sungai Citarum. Dengan mengetahui prediksi curah hujan ke depan, para petani dapat menghindari gagal panen karena dapat menentukan waktu tanam yang terbaik. Ia menghitung rata-rata kegagalan panen gara-gara buta informasi cuaca sebanyak lima kali dalam setahun. Sedangkan kerugian petani akibat kegagalan panen tersebut sebesar Rp 750 ribu per hektare. Jika dikalikan, maka dalam satu hektare petani rugi Rp 3,75 juta per tahun lantaran tak ada informasi mengenai prediksi cuaca. 

Kini, semua itu dapat diatasi dengan FEWEAS Citarum. Para petani, kata dia, bisa mengakses informasi prediksi cauaca dengan mudah dan cepat melalui telepon genggamnya. Jika semua petani Ia menyakini dengan aplikasi ini dapat menurunkan tingkat kemiskinan para petani.

***

Ide membuat FEWEAS sudah ada sejak 2014. Ide itu baru maujud pada 30 Maret 2016. Ketika itu Armi meluncurkan FEWEAS Bengawan Solo hasil bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah. FEWEAS generasi pertama ini sempat beberapa kali disempurnakan.

Tak dinyana, aplikasi buatan Armi ini mendapat respon positif dari berbagai pihak. Di antaranya International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), Palang Merah Indonesia (PMI), Zurich Insurance Indonesia, Perum Jasa Tirta II, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),  Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).  

Mereka ingin Armi membuat aplikasi serupa untuk Sungai Citarum. Maka terkumpullah dana sebesar Rp 1 miliar untuk membangun aplikasi tersebut.  Dengan total pembiayaan sebesar itu, Armi meyakini bahwa harga tersebut tak seberapa dibanding dengan keuntungan yang didapat melalui penggunaan aplikasi FEWEAS.

Ia kemudian mulai bekerja membuat aplikasi FEWEAS Citarum. Ia membentuk tim beranggotakan 10 orang profesional untuk menggarap aplikasi tersebut. “Kami sengaja tidak merekrut mahasiswa karena susah dikejar targetnya, jadi rata-rata di tim ini adalah alumni yang dituntut kerja profesional dan dibayar profesional juga”, ujar dosen kelahiran Padang tersebut.

Tak butuh waktu lama bagi Armi dan tim mengerjakan FEWEAS Citarum. Mereka menyelesaikan hanya dalam waktu empat bulan. Pengerjaan yang cepat, kata dia, lantaran ditunjang dengan data-data yang sudah lengkap. Semua pihak membantu untuk melengkapi data seperti data data topografi dan jenis tanah. Salah satu kendalanya mendapatkan akses ke lapangan yang memakan waktu.

Ia bercerita ketika awal-awal membangun FEWEAS, banyak instansi yang tak bersedia memberikan datanya karena tengah menawarkan kerja sama ke perusahaan luar negeri. Setelah kerja samanya dengan berbagai negara seperti Korea, Jepang dan Jerman tak membuahkan hasil, akhirnya para instansi pemilik data itu mengalihkannya kepada ‘pemain lokal. Rupanya berhasil. “Saat ini mereka justru banyak yang memberikan datanya karena akhirnya aplikasi ini mampu mengurangi operational cost mereka,” kata Armi.

Tawaran kepada dia untuk membuat aplikasi serupa mulai melimpah. Saat ini, ia mengaku tengah mempersiapkan untuk meluncurkan FEWEAS Ciliwung. Dengan tingkat akurasi 80 persen, ia menyatakan bahwa sejauh ini FEWEAS adalah aplikasi yang paling lengkap dan detail dalam memberikan informasi dan prediksi cuaca dan curah hujan dan sangat mudah untuk digunakan dikalangan masyarakat umum.

Meskipun begitu, ia tak menampik bahwa FEWEAS membutuhkan banyak pengembangan. Salah satu yang menjadi fokus adalah belum masuknya program pencegahan seperti ini ke dalam bagian rencana pembangunan pemerintah. “Pemerintah masih memakai cara lama dan tidak berpikir jangka panjang”, kata Armi

Nur Novilina A.