BANDUNG. Dalam menyambut 20 tahun pasca reformasi pada tahun 2018, Kabinet Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (KM ITB) berinisatif membentuk aliansi untuk melakukan kajian yang diberi tema besar “Evaluasi Reformasi”. Kajian dibagi menjadi 9 pokok bahasan yang akan dibahas oleh aliansi. 

Saat ini telah terbentuk 9 aliansi yaitu aliansi infrastruktur, aliansi energi listrik, aliansi energi migas, aliansi IPTEK, aliansi Sumber Daya Mineral (SDM), aliansi pangan, aliansi lingkungan, aliansi keairan dan  aliansi sejarah ekonomi politik hukum. Aliansi ini terdiri dari beberapa jurusan yang dinilai kompeten di bidang tersebut. Misalnya saja aliansi infrastruktur terdiri Himpunan Mahasiswa (HM) Sipil, Lingkungan, Planologi dan Industri. Namun untuk aliansi sejarah ekonomi politik hukum karena ITB tidak memilliki jurusan sosial (selain Sekolah Bisnis Manajemen) maka diputuskan anggotanya bebas dibawah pengawasan Kementerian Kebijakan Nasional KM ITB.

Beberapa isu strategis yang digodok dalam kajian-kajian aliansi tersebut antara lain isu Tarif Dasar Listrik (TDL) dan Program 35 Giga Watt (GW) yang akan dibahas aliansi energi listrik. Selain itu isu lingkungan yang akan dibahas adalah perubahan iklim (climate change), pengolahan sampah dan dampak lingkungan sedangkan untuk aliansi keairan akan difokuskan pada banjir di Kota Bandung. “Dari sembilan aliansi tersebut kami akan fokuskan di aliansi infrastruktur terlebih dahulu karena evaluasi pemerintahan Jokowi paling banyak bersinggungan dengan infrastruktur”, ujar Ardhi Rasy Wardhana selaku Ketua BEM KM ITB 2017/2018. 

Ia mengatakan bahwa Evaluasi Reformasi ini penting untuk melihat apakah cita-cita reformasi yang telah diperjuangkan oleh mahasiswa era 1998 dan sebelumnya telah tercapai atau belum. Setidaknya ada 6 agenda reformasi yang menjadi tuntutan para mahasiswa mencakup beberapa tuntutan, seperti adili Soeharto dan kroni-kroninya, laksanakan amandemen UUD 1945, hapuskan Dwi Fungsi ABRI, pelaksanaan otonomi daerah yang seluas-luasnya, tegakkan supremasi hukum, dan ciptakan pemerintahan yang bersih dari  Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN). 

Andriana Kumala atau yang akrab dipanggil Anna selaku Menteri Inkubasi Kajian KM ITB mengatakan bahwa aliansi-aliansi yang dibentuk tersebut tidak akan sendiri. Akan dibentuk pula Tim Evaluasi Reformasi yang bertugas sebagai Satgas (Satuan Petugas) untuk mengolah dan mematangkan hasil kajian menjadi sebuah output berupa pengambilan sikap. Perlunya Tim Evaluasi Reformasi ini untuk mencegah adanya bias dalam diskusi karena setiap himpunan akan membawa perspektifnya masing-masing. “Saat ini ketua Tim Evaluasi Reformasi sudah terpilih, Usair dari Teknik Kimia 2016”, ujar Anna yang merupakan mahasiswa Teknik Sipil 2014. 

Evaluasi Reformasi ini diharapkan menjadi gerakan yang menstimulus pemuda untuk lebih aware kepada bangsa Indonesia, seperti spirit Gerakan Anti Kebodohan yang dilakukan oleh mahasiswa ITB angkatan 1977 untuk memberikan kesadaran akan pentingnya berlepas dari keterjajahan dan kebodohan. “Semoga nanti hasil kajian ini bisa dijadikan buku yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas”, ungkap Ardhi. Meskipun ada rencana membukukan hasil kajian Evaluasi Reformasi namun ia mengaku khawatir karena selama ini banyak pula buku-buku mahasiswa yang dinilai terlalu tajam mengkritik sehingga harus dibredel. Mahasiswa Teknik Pertambangan 2013 ini mengaku tidak akan turun ke jalan atau demonstrasi apabila tidak didukung dengan kajian-kajian yang matang. “Demonstrasi itu sebenarnya jalan terakhir setelah ada dialog, jika dialog tidak bisa menyelesaikan masalah baru mahasiswa bisa turun ke jalan. Tapi sekarang banyak aksi demonstrasi tanpa kajian sehingga kesannya seperti mengugurkan proker (program kerja) saja”, tandasnya.