BANDUNG. Elidawati Ali Oemar, CEO Elcorps Indonesia menjadi pembicara di Adiwidya 5 Institut Teknologi Bandung (ITB) Selasa, 31 Oktober 2017. Dalam kesempatan tersebut, El sapaan akrab Elidawati memaparkan formulasi dan strategi dalam persaingan industri halal yang ia geluti sejak tahun 2012. Ia membagikan pengalamannya memimpin bisnis fashionnya hingga dapat berkembang pesat dalam kurun waktu relatif singkat. Brand-brand yang bernaung di bawah Elcorps antara lain Elzatta, Dauky dan yang terbaru adalah produk makanan El & Bread dan Elfood.


Wanita yang mendapatkan penghargaan Masterclass Women Enterpreneur of the Year 2017 ini mengatakan bahwa kunci utama menjalankan bisnis Elcorps adalah sinergisitas. Ia mengatakan bahwa untuk memulai sebuah usaha penting untuk mengetahui kekuatan pribadi kita, kemudian mensinergiskan hal tersebut dengan kekuatan yang dimiliki oleh orang lain. “Modal itu bukan hanya perkara uang saja, relasi dan jaringan juga merupakan modal yang sangat penting”, tutur wanita yang mendapat penghargaan Praktisi Ekonomi dan Keuangan Syariah berpengaruh dari Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia.


Sinergisitas Elcorps juga terlihat dari banyaknya industri hulu yang digandeng. Ada kurang lebih 40 vendor yang menyediakan bahan baku dan produksi Elcoprs. Industri hulu ini menopang ekonomi 2500-an keluarga yang berarti sekitar 7600 orang. Tak hanya di hulu, bisnis hilir Elcorps pun merambah 35 mitra untuk produk hijab saja dan mampu menopang ekonomi 1800 orang. Meskipun begitu ia merasa bahwa industri hulu di Indonesia masih sangat lemah. Misalnya saja, untuk memproduksi hijab ia membutuhkan kerjasama dengan industri tekstil. Namun menurutnya untuk mendapatkan kualitas kain yang baik ternyata masih harus impor sehingga menurutnya dalam hal ini pemerintah perlu turun tangan. “Kita menuntut pemerintah untuk bergerak supaya kita tidak bergantung pada orang-orang dari luar”, ujarnya.


Wanita yang lahir di Kediri, 54 tahun silam ini mengatakan bahwa harga produk lokal di pasaran menjadi lebih mahal karena banyak faktor. Salah satunya pemenuhan bahan baku yang terbaik harus impor sehingga akhirnya harga prosesnya menjadi lebih tinggi. “Tetapi semua unsur-unsur yang mahal ini akan menjadi murah kalau orang-orang di Indonesia pada mau beli produk dalam negeri”, jelas wanita berdarah Padang. Menurutnya kepedulian masyarakat akan industri lokal akan menguatkan perekonomian kita. Ia menyayangkan bahwa masih banyak brand-brand dari luar yang menguasai konsumen dalam negeri. Padahal menurutnya kita memiliki potensi untuk mandiri. “Kalau mau jadi kiblat kita harus kuat terlebih dahulu”, ujar lulusan Universitas Padjajaran yang memiliki prinsip alam takambang jadi guru, belajar dari semua yang ada.