BANDUNG. Jumat (6/7/2018) menjadi hari yang bersejarah bukan hanya bagi Khoiruddin (30 tahun) tetapi juga bagi dunia pendidikan di Indonesia. Pasalnya pada hari itu Khoiruddin genap menyelesaikan masa studi doktornya di Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) secara spektakuler. Bukan hanya berhasil menyelesaikan program doktor hanya dalam waktu 4 tahun, Khoiruddin pun tercatatat sebagai satu-satunya mahasiswa yang dapat menyelesaikan S3 nya dengan menuliskan 36 jurnal internasional berindeks scopus. Belum cukup sampai disitu, dari 36 jurnal internasional tersebut, 9 diantaranya bahkan memiliki kualitas Q1 atau kualitas terbaik dalam dunia publikasi ilmiah.


Khoiruddin, dibawah bimbingan Ketua Promotor Prof. I Gede Wenten mengatakan bahwa hal ini tak lepas dari sistem kerja di laboratorium yang dipimpin oleh Prof. Wenten. Iklim di laboratorium yang memaksa dirinya untuk terus menulis. Ia juga mengaku dibutuhkan kolaborasi yang baik antar anggota di laboratorium untuk menghasilkan banyak karya tulis. “Hal seperti ini tidak akan bisa terlaksana jika mengandalkan kekuatan perorangan”, ujarnya.


Khoiruddin juga meyakini bahwa menulis adalah aktivitas yang bisa dilatih. “Semua orang pasti mengalami kesulitan menulis di awal, tapi kalau dilatih terus menerus lama-lama akan terbiasa”, tambahnya.


Pemuda yang sudah mendapat banyak tawaran mengajar di berbagai Perguruan Tinggi ini mengaku belum memutuskan kedepannya akan bekerja dimana. Yang pasti ia ingin terus mengembangkan ilmu yang diperolehnya selama duduk di bangku doktor.


Prof. Wenten sendiri menceritakan bahwa tim penguji yang terdiri dari Guru Besar Universitas Indonesia dan dosen Teknik Kimia ITB ini kebingungan untuk menentukan predikat apa yang layak diberikan kepada Khoiruddin karena tentunya capaian ini melebihi ekspektasi sehingga gelar cum laude pun dianggap kurang. “Di luar negeri pun gak ada yang seperti ini, kalau pun ada sangat jarang sekali”, ujar Prof. Wenten.


Menurut pakar membran Indonesia ini, ITB harus menjadikan momen ini sebagai milestone untuk berubah. Dengan pemberian penghargaan yang layak kepada mahasiswa sseperti Khoiruddin tentu akan membuat semangat mahasiswa lainnya, sehingga mereka akan terpacu untuk melakukan sesuatu yang istimewa atau exceptional.


Prof. Wenten membocorkan rahasia sistem yang dibangunnya di lab yang dipimpinnya. “Tidak ada tawar menawar di lab. Kami ada group meeting yang sudah 23 tahun berjalan”, ujarnya. Ia mengatakan bahwa ketat sekali peraturan di lab. Untuk anak tingkat Strata 1 (S1) pun sudah diwajibkan mereview 5 artikel selama seminggu. Kemudian didiskusikan dalam group meeting. Penulisan jurnal dilakukan bersama-sama. Menurutnya dengan pola seperti itu, mahasiswa S3 memiliki kapasitas untuk menghasilkan satu artikel dalam satu bulan. “Informasi saat ini sudah sangat melimpah. Dengan tim yang solid sangat mungkin satu bulan satu jurnal. Pola-pola ini bisa diadaptasi tentu saja”, paparnya.


Ia pun menjelaskan bahwa tak perlu lagi sebagai bangsa kita mengeluhkan nasib. “Kita memang saat ini seperti ini, lalu mau nangis sampai kapan? Yang perlu dilakukan adalah kerjakan apa yang bisa dikerjakan, jangan banyak mengeluh”, papar guru besar yang saat ini sedang bertugas sebagai Visiting Professor di National University of Singapore (NUS). Ia juga meyayangkan belum optimalnya program-program pemerintah seperti World Class University dan LPDP yang menggelontorkan banyak uang namun belum tepat sasaran. “Coba berapa banyak karya ilmiah yang bisa dihasilkan dari program LPDP? Jangan sampai salah prioritas”, pungkasnya. Ia pun berharap ke depannya ITB dan Indonesia dapat menjadikan peristiwa ini sebagai momen untuk berubah menjadi lebih produktif, terutama dalam penulisan karya tulis ilmiah.


Nur Novilina A.