BANDUNG.  Sebagai perguruan tinggi tersohor di Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB) tidak hanya unggul pada sisi akademik saja. Kampus berlogo gajah ini juga unggul dalam berbagai hal non akademik. Tak lain hal ini disebabkan oleh tumbuh suburnya unit kegiatan mahasiswa (UKM) di almamater Bung Karno tersebut. Salah satunya adalah UKM Liga Film Mahasiswa (LFM).

 

LFM merupakan salah satu UKM yang berdiri sejak lama, tepatnya pada 21 april 1960. Penghibahan proyektor dari kedutaan besar Amerika Serikat untuk ITB menjadi asal mula berdirinya LFM. ITB, yang menerima proyektor tersebut kemudian menyerahkan pada mahasiswa untuk dikelola. Sejak saat itu pemutaran film dengan nama ‘Bioskop Kampus’ mulai dan terus dilakukan hingga sekarang. “Dulu Bandung salah satu bioskopnya di LFM, di ruang kuliah 9009,” ungkap Manajer Hubungan Masyarakat (Humas) LFM, Anisa Natalia.

 

Seiring berjalannya waktu dengan bertambahnya kru LFM, UKM yang berusia hampir 6 dekade ini berkembang tidak hanya pada pemutaran film. Kini LFM menaungi 3 bidang lain yang tak kalah menarik yakni videografi bagi yang berminat dalam pembuatan film, fotografi dan kineklub untuk menyalurkan minat menulis resensi film. Dibuatnya 4 bidang tersebut dimaksudkan untuk menyalurkan bakat dan minat kru LFM yang pada masa bakti ini jumlahnya mencapai lebih dari 240 orang. Di sisi lain berkembangnya LFM diharapkan mampu menjadi oase massa kampus di tengah penatnya menuntut ilmu, serta turut andil dalam kancah perfilman dan fotografi di Indonesia khususnya di Kota Kembang, Bandung.

 

Meskipun keempat bidang tersebut sama-sama diminati oleh kru, Nisa mengaku massa kampus dan umum paling tertarik dengan pemutaran film. Bioskop kampus yang menjadi altrnatif pemutar film pendek nasional rutin melaksanakan agendanya 5 kali dalam setahun. Tiap pemutaran film memiliki satu tema unik. Misalnya pada pemutaran film yang baru saja diadakan pada desember 2017 mengangkat tema ‘mesin waktu’. Pemutaran film pendek karya beberapa komunitas film se Indonesia ini menayangkan segala hal yang berbau memori masa kecil, dilanjutkan dengan bedah film. “kemarin bahkan kita undang sineas dan psikolog anak, jadi dibahas bukan hanya dari segi film tapi juga dari dunia nyata sehari-hari,” tutur mahasiswi jurusan fisika angkatan 2015 tersebut.

 

Nisa mengatakan minat massa kampus dan masyarakat umum terhadap film pendek semakin merangkak naik. Hal ini dikarenakan pada era ini film pendek mampu menjadi media bagi siapa saja. Era digital dimana setiap orang memegang kameranya sendiri baik karena profesional maupun kamera telepon seluler, lalu membuat video blog (VLOG) atau film untuk dokumentasi pribadi maupun mengunggahnya di internet. Tak heran peminat LFM juga bertambah. Nisa menambahkan, bahkan banyak mahasiswa yang tidak memiliki kamera atau tidak memiliki bakat ikut mendaftar. Sebagai UKM professional, LFM telah menyiapkan pendidikan khusus bagi calon anggota yang akan melatih kemampuan menulis, fotografi serta videografi. Bahkan setelah menjadi kru tetap diadakan workshop dan kelas-kelas pendidikan. “Aku tadinya di fotografi, tapi setelah jadi kru aku tetap bisa ikut workshop video, bikin film dan lain-lain,” jelas Nisa.

 

LFM termasuk UKM ITB yang produktif mengadakan agenda bagi kru, massa kampus maupun umum. Beberapa agenda unggulan yang rutin diadakan tiap periode selain bioskop kampus yakni Ganesha Exhibition Program (GEP) dan Ganesha Film Festival (Ganfes). GEP yang diadakan sekali dalam setahun menampilkan hasil karya kru bidang fotografi, photo booth, review dan pemutaran film. Sedangkan Ganfes merupakan acara rutin dua tahunan berupa kompetisi film pendek nasional yang mengundang massa umum serupa komunitas film seluruh Indonesia sebagai peserta. Ganfes yang tahun ini akan diselenggarakan pada 23-25 Februari di ITB Kampus ganesha ini mengambil tema ‘Jendela’. “Karena Ganfes pengen bisa memperkenalkan film seluruh Indonesia ke masyarakat Bandung, dan sebaliknya,” jelas Nisa.

 

Selain sebagai tuan rumah agenda besar, LFM juga memiliki program ‘bertamu’ ke berbagai komunitas film baik komunitas dalam kampus maupun komunitas umum. Studi banding ini menjadi salah satu agenda penting yang dikenal dengan sebutan ‘belanja bahan baku’ referensi film dan lainnya. Beberapa komunitas yang rutin dikunjungi antara lain komunitas film Universitas Sebelas Maret Surakarta (Cine-UNS), Universitas Muhammadiyah Malang (Cine-UMM) dan Universitas Brawijaya (Societo UB). Agenda bertamu yang baru saja dilakukan oleh LFM yakni event internasional rutin bertajuk ‘Jogja Asia Netpark Festival’ (JAF). Bukan egenda bertandang biasa, JAF merupakan sharing event yang mempertemukan komunitas film se-Asia. Event bergengsi ini sangat diminati oleh berbagai komunitas film, sehingga terdapat mekanisme pendaftaran dan seleksi terlebih dahulu. “LFM daftar, selama 4 tahun berturut-turut keterima,” ungkap Humas LFM tersebut.

 

Banyaknya agenda dalam dan luar kampus yang dilakukan LFM tentu membutuhkan support dana yang tidak sedikit. Selain mendapat dukungan dana dari ITB, LFM juga menhasilkan dana mandiri dari berbagai kegiatan wirausaha. Wirausaha terbesar LFM adalah mengurus dokumentasi resmi wisuda. LFM membuka stand foto yang menawarkan paket dokumentasi berupa foto salaman, video after show wisuda dan foto jurusan. “Itu kita dapat uang dari situ, sekaligus melatih soft skill dan professional, hasilnya kita pakai buat berkarya,” jelas Anisa Natalia.

 

Di samping agenda mandiri dalam dan luar kampus, banyak UKM lain yang mengajak kerjasama dengan LFM. Dengan himpunan mahasiswa dan UKM, LFM lebih banyak melakukan kerjasama pemutaran film dan dokumentasi sosial. Selain itu, LFM menjadi pusat dokumentasi pengarsipan foto bagi seluruh lembaga dan Kabinet Mahasiswa (KM) ITB. Kerjasama ini diberi nama Artefak Ganesha. Focus utama dari program kerjasama ini adalah mengarsipkan foto kegiatan dari seluruh lembaga, UKM, himpunan mahasiswa dan KM secara berkelanjutan dari masa ke masa. Nisa mengaku kerjasama ini baru dibuka sejak 2 tahun yang lalu. Perjalanan dua tahun Artefak Ganesha ini menuai minat dan antusiasme yang besar. Terbukti dengan ikut bergabungnya 55 lembaga dari total kurang lebih 80 lembaga.

LFM mempersilakan lembaga ITB untuk memasukkan foto kegiatan mereka. Program ini diinisiasi LFM dan KM ITB atas dasar kepedulian. Pasalnya, lembaga selalu menyimpan foto kegiatan dengan rapih pada periode 2-3 tahun, namun kegiatan sebelum dan setelah itu tidak terinventarisasi dengan rapi. Kebiasaan ini menimpulkan dampak yang terlihat bila tiba-tiba dibutuhkan dokumentasi suatu acara penting. “Udah sering dari angkatan 1980-an ke LFM buat minta foto,” ungkap Nisa.

 

Di tengah banyaknya program yang digalakkan dengan segala lika-likunya, UKM yang dipimpin oleh mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) angkatan 2014, Elba Andera memiliki tempat tersendiri bagi warga Bandung. Di antara banyaknya komunitas film yang ada seperti ruang film Bandung atau Bandung Film Council, LFM masih sangat diminati oleh massa kampus dan warga sekitar. Banyaknya dukungan dan antusiasme ini membuat LFM memiliki harapan tersendiri. “Pengennya de depannya makin banyak dan makin punya dampak buat sekitar kayak massa kampus dan komunitas lain,” pungkas Manajer Humas LFM yang akan mengakhiri masa bakti pada bulan Maret ini (04/02).


Reporter: Nisaul Kamila