BANDUNG. Mikroplastik saat ini menjadi sebuah kekhawatiran baru bagi masyarakat internasional. Baru-baru ini, Indonesia juga dikejutkan dengan maraknya pemberitaan mengenai keberadaan partikel plastik dalam air mineral kemasan. Hal ini memicu rasa ingin tahu publik tentang apa itu mikroplastik dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan, walaupun air mineral kemasan yang beredar pada dasarnya sudah memenuhi standar BPOM. Menurut Prof. Ad Ragas, seorang ilmuwan berkebangsaan Belanda yang saat ini juga fokus pada penelitian mengenai hal tersebut menjelaskan bahwa mikroplastik adalah partikel plastik yang berukuran sangat kecil. “Tidak ada definisi universal dari mikroplastik, tetapi kebanyakan peneliti menganggap partikel plastik dengan ukuran kurang dari 5 milimeter sebagai mikroplastik”, ujar profesor yang memperoleh gelar PhD dari Radboud University di Nijmegen, Belanda.

 

Untuk mempermudah mengenali mikroplastik yang ada di lingkungan, ia menerangkan bahwa mikroplastik dapat diklasifikasikan menjadi mikroplastik primer seperti microbeads dalam kosmetik, partikel dari gesekan ban mobil dan serat dari pakaian, sedangkan mikroplastik sekunder berasal dari degradasi sampah plastik besar menjadi fragmen plastik yang lebih kecil setelah terkena proses fisik kimia di lingkungan.

 

Sebagai profesor yang ahli dalam bidang pemodelan risiko bahan kimia terhadap manusia dan ekologi, termasuk nanomaterial dan mikroplastik, ia menyebutkan bahwa ada banyak hipotesis tentang bagaimana mikroplastik dapat mempengaruhi tubuh manusia. Setelah berada di usus, mikroplastik dapat menyebabkan efek fisik, misalnya radang dinding usus dan gangguan proses pencernaan. Partikel yang sangat kecil (<100 nanometer) juga dapat diserap dalam aliran darah, menghasilkan realokasi partikel-partikel plastik ke organ-organ lain.

 

“Partikel-partikel ini dapat bertindak sebagai kendaraan untuk mengangkut polutan ke dalam tubuh manusia. Mikroplastik juga dapat bertindak sebagai permukaan untuk melekatnya bakteri dan patogen. Bakteri dan patogen ini kemudian dapat memasuki saluran gastrointestinal bersama dengan partikel plastik. Meskipun proses tersebut diketahui terjadi, namun hingga saat ini belum bisa dipastikan apakah proses ini merugikan”, jelasnya.

 

Menyadari bahwa mikroplastik merupakan masalah baru bagi mahluk hidup, ia mengatakan bahwa penelitian mengenai hal ini sudah mulai dilaksanakan oleh otoritas terkait di berbagai negara “Penelitian mengenai hal ini sudah dimulai pada kawasan Eropa, Amerika Utara dan Asia. Konsentrasi tertinggi telah dilaporkan di perairan pantai Korea, yaitu hingga 150.000 partikel per meter kubik”, papar pria yang memimpin komite penasihat ilmiah Belanda tentang standar kualitas udara dan air.

 

Ia menerangkan bahwa pada wilayah perairan pesisir Indonesia masih menunjukkan konsentrasi yang relatif rendah, yaitu 0,5 partikel per meter kubik, dimana pengukuran ini dilakukan di daerah yang relatif murni. Namun, sangat mungkin jika konsentrasi mikroplastik di daerah pesisir padat penduduk Indonesia, misalnya Jakarta atau Semarang akan jauh lebih tinggi.

 

Profesor Ragas yang menjadi salah satu pembicara pada workshop tentang mikroplastik di ITB 19 Maret yang lalu, mengatakan bahwa membersihkan lautan mikroplastik bukanlah pilihan yang tepat. Satu-satunya solusi adalah mengurangi emisi mikroplastik yang masuk ke badan air. “Kami memperkirakan bahwa 80-90% dari mikroplastik di lautan berasal dari degradasi makroplastik. Jika angka ini benar, pertama-tama kita harus mengurangi emisi makroplastik ke lingkungan. Oleh karena itu kita perlu lebih meningkatkan pengumpulan dan pengolahan limbah, terutama untuk limbah plastik”, papar dosen yang pernah berperan aktif dalam beberapa proyek penelitian di Eropa seperti NoMiracle dan PHARMAS.


Ia juga menjelaskan bahwa membuat orang sadar akan masalah ini dan memberi mereka alternatif yang baik untuk menangani sampah plastik dengan cara yang bertanggung jawab adalah hal yang sangat penting. Pajak atas kantung plastik sekali pakai bisa membantu. Uang dari pajak ini dapat digunakan untuk merangsang alternatif plastik ramah lingkungan, misalnya bahan pengemasan dari produk alami seperti daun singkong dan pohon palem. Pengembalian dana untuk botol plastik juga merupakan pilihan yang menarik. Orang tidak akan lagi membuang botol jika ini bernilai uang; dan jika mereka melakukannya, botol akan dikumpulkan oleh orang miskin untuk menghasilkan pendapatan. “Tapi saya rasa tidak ada "satu solusi emas" untuk masalah mikroplastik. Banyak solusi yang berbeda dibutuhkan. Ini adalah masalah berbahaya yang membutuhkan kreativitas dan kolaborasi dari orang-orang di seluruh dunia”, ujarnya mengakhiri sesi wawancara.


(Wa Ode Siti Warsita)