BANDUNG. Dunia pendidikan tinggi tidak melulu berbicara tentang sisi akademik. Terdapat beberapa warna lain dari kampus yang menarik untuk dikuak. Salah satunya adalah kesenian. Institut Teknologi Bandung (ITB) mewadahi minat seni mahasiswanya dalam berbagai unit baik unit daerah maupun unit kesenian. Kesenian Nusantara yang akan dibahas kali ini yakni kesenian Pulau Dewata.


Maha Gotra Ganesha (MGG) merupakan salah satu unit kesenian yang ada di ITB. Nama Maha Gotra Ganesha ITB diambil dari bahasa Sansekerta. Maha artinya besar, dan Gotra artinya keluarga. Secara harfiah Maha Gotra Ganesha memiliki arti keluarga besar Ganesha ITB. MGG ITB didirikan pada tanggal 15 September 1971, dipelopori oleh Prof. Dr. Ir. I Dewa Gede Raka, guru besar Teknik Industri ITB. MGG ITB memfokuskan kegiatannya pada kesenian Bali, khususnya pada seni tabuh dan tari. Meskipun demikian, anggota MGG ITB tak hanya terbatas pada orang-orang yang berasal dari Bali. Keanggotaan MGG ITB terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk mempelajari dan melestarikan kesenian Bali. “Yang unik adalah kebersamaannya, orang Bali dan yang bukan Bali semua akrab. Banyak yang dari luar Bali,” ungkap Ayu Trisna, pelatih Tari Putri.


Ayu, yang saat diwawancara tengah melatih Tari Pendet mengatakan MGG termasuk kesenian yang menjadi primadona di ITB. Meskipun demikian, Ayu mengaku peminat kesenian tradisional secara umum kian tahun kian menurun. Hal ini terlihat dari total anggota tari putri yang hanya berjumlah sekitar 10 orang tiap angkatan. “Saya juga kurang tahu, mungkin lebih suka ke modern,” tutur mahasiswi Sains dan Teknologi Farmasi (STF) 2016.


Pendet, Cendrawasih dan Puspawresti merupakan tiga tari utama yang berkembang di MGG ITB lengkap dengan seni tabuhnya. Dengan 30 anggota tari putri dan banyaknya jenis tari yang diajarkan, MGG ITB mengaku sering mengikuti pentas dan perlombaan. Bahkan, MGG rutin menyelenggarakan lomba Tari Bali yang diikuti oleh sanggar-sanggar di sekitar area kampus ITB Ganesha. “Kesenian Bali di Bandung cukup lumayan, semoga bisa lebih berkembang untuk memajukan kesenian Indonesia,” tukas Jegeg Bali pada Retorika Kampus (30/01).