Olahraga panahan kian populer di kampus. Di ITB muncul komunitas panahan Kamil Archery dengan tagline kembali ke sunah nabi.


BANDUNG—Panahan menjadi salah satu olahraga yang tengah naik daun di Indonesia. Olahraga sunah nabi ini digemari bukan hanya oleh kalangan orang dewasa, tapi juga oleh anak-anak. Tak heran di tengah popularitasnya yang kian melejit, komunitas-komunitas panahan yang ada selalu dibanjiri banyak peminat yang berakibat semakin menjamurnya komunitas salah satu olahraga tertua di dunia ini.


Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia setidaknya memiliki dua komunitas panahan untuk mewadahi minat mahasiswanya. Komunitas pertama yakni Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pasopati. Mengambil nama dari anak panah Arjuna, UKM yang sempat diberi nama Unit Panahan ITB (Upani) ini telah ada sejak 10 Oktober 1995.


Selain Pasopati, komunitas panahan lainnya adalah Kamil Archery. Komunitas tersebut baru seumur jagung, lahir pada 11 Januari lalu.  Berbeda dengan Pasopati, Kamil Archery merupakan sebuah program kerja departemen syiar di bawah organisasi Keluarga Mahasiswa Islam Pascasarja (Kamil) yang ke depannya direncanakan akan menjadi komunitas.


Ketua divisi internal Pasopati, Ratna Adriani Djohan,  menjelaskan tujuan pembentukan Pasopati untuk menghimpun peminat panahan khususnya di ITB dan memperkenalkannya pada masyarakat luas. Di ITB, UKM ini termasuk yang populer. Sekitar 150 anggota yang aktif berlatih.  “Komposisi cowok cewek sama, paling tua angkatan 2010-2011 masih ada,” ujar mahasiswi Teknik Elektro 2015 ini.


Lain Pasopati lain Kamil Archery. Windy Satria Agung, pendiri Kamil Archery mengatakan tujuan berdiri komunitas ini untuk mengajak orang berolahraga sesuai sunah nabi. Panahan termasuk olahraga yang disarankan nabi selain berkuda serta berenang. “Kami mengajak orang kembali ke sunah,” kata mahasiswa Pascasarjana Rekayasa tambang angkatan 2016 ini.


Selain melatih kesehatan badan, menurut Windy, olahraga panahan juga dapat melatih konsentrasi serta ketengan berpikir dalam mengambil keputusan. Kedua komunitas panahan ITB ini mengaku tidak memiliki pelatih khusus yang membimbing dan mendampingi selama proses latihan.


Kamil Archery sebagai pemain baru di dunia panahan mengandalkan Subhan Arif (PIC Panahan Kamil), Bani Asraf dan Windy untuk mengarahkan anggotanya dalam memanah. Sedangkan Pasopati yang telah lama berkiprah mengandalkan senior-seniornya untuk melatih anggota yang baru.


Meskipun tak memiliki pelatih professional khusus, Pasopati membuktikan kelayakannya untuk disandingkan dengan komunitas panahan lainnya melalui beberapa piala yang berhasil disabet dari berbagai perlombaan. “Yang terakhir di Universitas Indonesia (UI) Open 2018, juara beregu putra-putri dan juara III Indovidu putra,” tutur Ratna. Sedangkan Kamil Archery yang belum genap berumur satu tahun mengaku belum pernah mengikuti ajang perlombaan panahan.


Sebagai kamonitas baru, Kamil Archery tengah mempersiapkan agenda turnamen internal pertamanya yang direncanakan akan diadakan tahun ini. Windy menuturkan, sebagai yang punya gawe Kamil Archery sedang ada dalam tahap mempersiapkan kader panahan dari tiap depatemenen Kamil yang akan dilombakan dengan menghadirkan berbagai komunitas panahan.


Sedangkan bagi Pasopati, selain aktif mengikuti perlombaan ke luar mereka juga aktif mengadakan turnamen. Salah satu turnamen yang rutin diadakan tiap dua tahun sekali yakni Ganesha Open yang merupakan turnamen umum dan mahasiswa tingkat nasional. “Tahun ini Pasopati juga mau ngadain kompetisi khusus mahasiswa dan pelajar, namanya Pasofest,” kata Ratna.


Selain perlombaan keluar dan mengadakan turnamen, kedua komunitas yang sama-sama ada di bawah naungan ITB ini mengaku pernah melakukan latihan bersama. Beberapa kali Pasopati ikut serta dalam latihan Kamil Archery untuk sekedar sharing pengetahuan dan memperkenalkan komunitas satu sama lain.


Kedua komunitas ini memiliki harapan yang hampir sama, yakni untuk mengembangkan olahraga panahan yang belakangan semakin hits. “Khususnya mahasiswa ITB ketika nanti kembali ke daerahnya bisa mengembangkan olahraga panahan,” tambah Windy, alumni Teknik Pertambangan Institut Teknologi Medan.


Belum genap berumur satu tahun, Kamil Archery telah memiliki empat buah busur panah latih merek Polaris dan Sammick lengkap dengan anak panahnya yang siap menemani latihan bagi anggota maupun umum. Kamil Archery memiliki waktu latihan khusus yakni setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 07.00-11.00 di Lapangan Rumput Barat, Masjid Salman ITB.


Sedangkan Pasopati sebagai komunitas panahan yang lebih senior setidaknya memiliki belasan busur panah berbagai merek yang digunakan dalam latihan tiga kali seminggu. Yakni pada hari Selasa (16.00-18.00), Sabtu (10.00-18.00) dan Minggu (10.00-14.00) di Lapangan Tenis C Sasana Olahraga (Saraga) ITB.


Bagi yang berminat untuk mengikuti latihan, Kamil Archery dan Pasopati mengajak bergabung secara cuma-cuma. “Banyak juga bapak-bapak atau keluarga yang ikut ngajarin anaknya panahan. Karena kalau untuk ngadain (latihan) sendiri kan mahal,dan nggak ada yang latih, kalau disini tinggal datang aja langsung latihan,” kata Windy.


Nisaul Kamila