BANDUNG. Gempa bumi berkekuatan 7 Skala Richter (SR) telah mengguncang kawasan Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu, (5/8/2018) lalu. Akibat gempa tersebut, selain merusak bangunan juga banyak menelan korban jiwa. Dosen Kelompok Keahlian Geodesi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano menjelaskan ihwal peristiwa gempa tersebut.

Sebelum terjadi gempa, sekitar tahun 2016, dirinya dan beberapa dosen ITB melakukan riset di kawasan tersebut. Lalu hasilnya ditemukan potensi sumber gempa di bagian utara Flores dengan magnitudo mencapai 7.4 SR. Melihat potensi gempa tersebut, ia menilai bahwa yang terjadi pada Minggu lalu merupakan mainshock atau gempa utama dari runtutan gempa yang terjadi sebelumnya.

Seperti diketahui, sebelumnya juga terjadi gempa dengan kekuatan 6,4 Skala Richter di daerah yang sama pada 29 Juli. Menurut Irwan, kedua gempa tersebut tidak terjadi di tempat yang sama melainkan hanya berdekatan namun sumbernya sama dari Patahan Flores.

Dijelaskan Irwan, secara teori gempa bumi yang terjadi dua kali di waktu berdekat dengan magnitudo cukup besar tidak lazim terjadi. Dua kali gempa tersebut biasa disebut gempa doublet atau gempa yang terpicu oleh gempa lain. "Gemba doublet itu sebuah gempa biasanya melepaskan energi dan energi tersebut kemudian meningkatkan terjadinya gempa di tempat yang berdekatan, itu bukan sesuatu yang mudah kita fahami," katanya saat live bersama Metro TV di Aula Barat ITB.

Dia mengatakan, ada pembelajaran penting dari gempa yang terjadi di Lombok. Sesudah gempa besar masyarakat harus waspada akan kemungkinan terjadi gempa susulan. Bahkan terhadap gempa yang lebih besar magnitudo-nya. "Ketika kami pertama kali mengetahui ada gempa di Utara Lombok, kami pun cukup kaget. Secara ilmiah potensi gempa di sana di atas 7 SR," ujarnya.

Tetap Waspada
Meskipun secara teori gempa yang telah terjadi 7 SR adalah gempa utama, namun masyarakat sekitar harus tetap waspada. Sebab kemungkinan gempa susulan masih terjadi. Ditambah lagi, kondisi bangunan yang sudah retak. Dikhawatirkan jika terjadi gempa 5 SR saja bisa menimbulkan kerusakan. "Kami khawatir gempa kecil pun yang bangunannya sudah retak akibat gempa utama, bisa cukup berdampak. Kami berharap warga pulau Lombok masih kuat bertahan dan waspada," ungkapnya.

Saat ditanya apakah ada jaminan tidak terjadi gempa dengan kekuatan yang lebih besar, dijelaskan Irwan, jaminan tersebut tidak ada. Akan tetapi yang harus diperhatikan adalah potensi gempa yang terjadi di segmen yang berdekatan dengan Lombok, misalnya Bali dan arah timur. Itu bisa juga berdampak ke Lombok. "Kalau ditanya apakah ada jaminan, itu tidak ada. Tapi secara keilmuan energi utamanya sudah rilis," ucapnya.

Kemudian, yang harus menjadi perhatian selanjutnya ialah apakah gempa tersebut juga berpotensi ke aktivitas vulkanik. Sebab seperti diketahui lokasi gempa dekat dengan Gunung Agung di Bali dan Gunung Rinjani sebagai dua gunung yang masih aktif. "Di Indonesia kita punya banyak bukti riset dari aktivitas tektonik memicu aktivitas vulkanik. Misalnya terjadi kenaikan aktivitas Gunung Talang, Merapi dan Sinabung itu terjadi setelah gempa tektonik. Ini PR kita untuk lebih detail melihat bagaimana dengan Rinjani dan Gunung Agung, mata kita harus waspada untuk memahami potensi kenaikan aktivitas di gunung tersebut," tukasnya.

BMKG sendiri menyatakan, gempa Lombok yang terjadi pada 5 Agustus 2018 pukul 18:46:35 WIB sebagai lindu utama. Sumber gempa terletak pada koordinat lintang -8.37 dan bujur 116.48 bermagnitudo 7.0 dengan kedalaman 15 kilometer. Lokasinya berjarak 18 kilometer arah barat laut Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Sumber gempa Lombok itu dekat dengan sumber gempa bermagnitudo 6,4 tepat sepekan sebelumnya, Ahad, 29 Juli 2018, pukul 05:47:39 WIB di garis lintang -8.26 dan bujur 116.55 berkedalaman 10 kilometer. Lokasinya berjarak 28 kilometer arah barat laut Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Berita ini diambil dari: https://www.itb.ac.id/news/read/56731/home/penjelasan-pakar-geodesi-itb-terkait-gempa-di-lombok