BANDUNG. Wiradeva Arif Kristawarman, atau lebih dikenal dengan Devon merupakan alumnus Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia menerima gelar sarjana dan magister dengan tesisnya dalam topik Gamification. Sebelum menjadi kepala pengembangan, Devon adalah seorang programmer game, produser game, dan kepala keuangan dan tim pendukung. Dengan pengalamannya di industri game, dia saat ini berhasil memimpin tim pengembangan di Agate. Agate merupakan perusahaan pengembang permainan video asal Indonesia yang berbasis di Bandung. Motto perusahaannya adalah "Live the Fun Way" (Hidup dengan cara yang Menyenangkan). Ia percaya bahwa kehidupan akan lebih baik ketika suasana senang dan permainan adalah salah satu cara untuk mencapainya.


Bersama enam belas orang temannya, diantaranya Arief Widhiyasa, Andrew Pratomo Budianto, dan Aditia Dwiperdana, ia memutuskan untuk mengeksplorasi kecintaan mereka terhadap game dengan memberanikan diri untuk membuat game yang akan diikutsertakan pada berbagai lomba. Karena kesamaan visi dan misi, mereka memutuskan untuk mendirikan perusahaan pembuat game di Indonesia agar aktivitas di dunia menjadi bahagia.


Tentunya merupakan hal yang tidak mudah bagi Devon dan tim untuk mempertahankan bisnis ini selama 9 tahun. Dalam sesi wawancara, Devon yang ditemui reporter Retorika Kampus usai menjadi salah satu pembicara di Kreatif Boom 2018, Aula Barat ITB, 30 Agustus yang lalu, Devon menjelaskan bahwa Agate memiliki banyak tantangan sejak proses berdirinya hingga saat ini. Ia mengatakan bahwa tantangan yang dihadapai tak sedikit namun tantangan terbesarnya adalah membangun bisnis sustainable, “Kita ingin fokusnya jangka panjang. Jadi decision yang di ambil memang impactnya bisa jangka panjang. Dan itu cukup challenging”, lanjutnya.


Namun atas dasar kesukaan dan passion dan yang sama, semua masalah dapat dilalui dengan baik. Hingga saat ini Agate telah menciptkan lebih dari 250 games dan lebih dari 180 karyawan. Agate membagi bisnisnya menjadi 2 macam yaitu games yang bersifat entertainment dan ada juga yang fokus pada pengembangan serious game. Produk game yang sudah mereka hasilkan misalnya bidang edukasi islami, game tersebut akan diperuntukan bagi anak-anak usia dini guna menunjang pengetahuan serta kegiatan ibadah mereka. Hal tersebut juga menghilangkan konotasi negatif terhadap game. Menurutnya masih banyak orang yang berpikir bahwa gaming hanya untuk menghabiskan waktu saja. Selain games edukasi, mereka juga membuat games yang diperuntukkan untuk marketing, edukasi, periklanan, dan sebagainya.


Menyadari akan kesuksesan bersama teman-temannya, Devon memberikan wejangan kepada anak-anak muda jaman now. Tips untuk anak muda, “Jangan sungkan-sungkan untuk bermimpi besar. Kita selalu kalau di awal-awal (merintis) Agate ada tagline nya nih, kita miskin tapi sombong. Jadi walaupun pas awal mulai kita gak punya apa-apa tapi kita pasti selalu pinginnya banyak, mimpinya yang gede-gede walaupun belum kesampaian selama bertahun-tahun, at least sudah tercapai beberapa persen”, ujarnya. Ia juga menambahkan agar menjadi generasi yang mau berkerja keras, fokus, tidak mudah menyerah, dan tidak cepat puas. “Karena effort, hardwork itu ga akan bohong”, pungkasnya.

 

 

 

Reporter: Wa Ode Sitti Warsita