Direktorat Kerjasama dan Hubungan Alumni IPB University menggelar Workshop Alumni Connectedness dengan mengusung tema “Peranan Contact Point dalam Peningkatan Alumni Connectedness” di Auditorium FMIPA, Kampus IPB University Dramaga, Bogor (14/6). Kegiatan ini merupakan salah satu upaya IPB University dalam meningkatkan peran alumni dalam rebranding IPB University.


“Beberapa waktu lalu Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan perubahan penyebutan menjadi IPB University. IPB University sebagai brand akan mempunyai asosiasi lebih luas dan menjanjikan value lebih tinggi. Civitas akademik dan alumni harus memiliki visi yang sama, semuanya memiliki basis pengetahuan yang sama tentang kenapa kita melakukan rebranding,” kata Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Sistem Informasi, Prof. Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc.F.Trop.


“Ini sangat penting sekali disampaikan dengan baik, karena akan banyak pertanyaan dari alumni IPB. Akan muncul pertanyaan seperti kenapa Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi IPB University, bukankah kata pertanian sangat penting? Iya betul pertanian memang sangat penting dan tetap sangat penting dan IPB akan tetap konsen terhadap pertanian. Hanya saja pertanian dalam arti luas bukan hanya teknik tanam menanam akan tetapi perlu ada dukungan dari yang lainnya misalnya, dukungan mekanisasi, ekonomi, ilmu sosial, perbankan, information technology (IT) dan komputer. Maka dari itu nama pertanian dan keilmuan pertanian itu sendiri sebetulnya sudah ada di dalam IPB University,” tuturnya.


Sementara itu, Direktur Kerjasama dan Hubungan Alumni, Dr. Heti Mulyati menyampaikan bahwa alumni IPB University merupakan bagian penting di dalam rebranding. Alumni sangat berperan signifikan untuk bersama dengan institusi untuk meningkatkan rebranding IPB University.


Sementara itu, Branding Consultant & Ethnographer Etnomark, Amalia E. Maulana, Ph.D menjelaskan, dalam rebranding, IPB University tidak bisa sendirian tetapi perlu juga dibantu oleh alumni-alumninya. Salah satu alumni yang terdekat adalah alumni yang menjadi dosen di IPB University. 


“Bagaimana kita dapat masukan-masukan yang penting untuk IPB University, karena mereka berada di dua kaki sebagai alumni tetapi mereka juga sebagai service provider untuk IPB University. Jadi branding IPB University siapa yang mengerjakan, ya para dosen ini. Mereka yang sehari-hari bertemu dengan berbagai stakeholder seperti masyarakat, pelajar, industri, dan orang tua, sehingga sebagai contact point para dosen itu berperan sebagai wakil IPB University tetapi dalam hal ini juga sebagai contact point untuk alumni yang lebih luas agar bisa datang ke IPB University,” ujarnya.


Menurutnya, dengan saling bersatu sama lain kekuatan ini akan lebih cepat maju dan berkembang. Rebranding IPB University ini harus terus dilanjutkan dengan semangat yang tinggi untuk melanjutkan cita-cita baru IPB University yaitu Inspiring Innovation with Integrity. Terutama bagi para pimpinan IPB University seperti rektor, para wakil rektor, para dekan dan pimpinan lain untuk terus memberikan semangat kepada sivitas akademika IPB University.


Karena layanan dalam pendidikan tinggi ini bersifat jasa yang mempunyai multiple stakeholder, pendekatan Ethnography Marketing yang dipilih dalam riset dalam rangka rebranding ini merupakan jalan panjang penelusuran untuk memahami konsumen secara holistik dari berbagai sudut dan perspektif.


“Saat ini IPB tidak hanya merupakan singkatan, tetapi juga sebagai sebuah brand. Ada sejumlah corporate brand yang menempuh strategi ini untuk tidak hanya memberikan simplicity dalam pengucapannya, tetapi juga agar lebih solid dalam exposure dan menjelaskan janji brand-nya. Untuk itulah IPB mengubah brandnya menjadi IPB University,” tandasnya. 

 

 

Sumber: ipb.ac.id