Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sukses mengelola bisnis nonpendidikan atau pendapatan negara bukan pajak (PNBP), di antaranya bisnis perhotelan. BNBP tersebut berkontribusi separuh lebih pada pembiayaan operasional universitas.


Dalam pidato Dies Natalis ke-55 UNY, di GOR setempat, Selasa, 21 Mei 2019, Rektor UNY Prof Sutrisna Wibawa menyatakan, pendapatan bukan pajak selama 2018 mencapai Rp 250 miliar. Adapun pendapatan selama kurun waktu empat bulan pada 2019 mencapai Rp 24,85 miliar. Pendapatan 2018 melampuai target sebesar Rp 190 miliar.


Dengan pendapatan mandiri yang dikelola oleh universitas tersebut, UNY yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU) bisa mandiri dalam biaya operasional. “Pendapatan non pajak berkonstribusi sebagai biaya operasional universitas sebesar 55,71 persen,” ujar Sutrisna.


Suksesnya bisnis nonpendidikan tersebut memiliki makna UNY bisa mengisi dan mengelola peluang bisnis di lingkungan kampus yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU) tersebut dan memanfaatkan hasil untuk meringankan beban anggaran universitas.


Dia merinci pendapatan hotel universitas membantu secara signifikan dalam pendapatan non pajak, bisnis, sumbangan terbesar sebanyak Rp 1,7 miliar, penyewaaan auditorium sebesar Rp 1,3 miliar.


Adapun serapan anggaran dalam setahun, rektor menyaakan, UNY bisa menggunakan anggaran sebesar Rp 705,7 miliar atau 93,4 persen dari target awal. Serapan tersebut naik dibanding tahun sebelumnya hanya mencapai Rp 403,3 miliar atau 81,95 persen atau 81,95 persen dari target.


Menurut dia, sistem menganggaran harus dikelola secara semakin baik untuk menjaga peningkatan tahunan yang telah dicapai UNY. Sejauh ini pengawasan berjalan optimal, ini bisa dibuktikan dari hasil audit laporan keuangna universitas ini mencapai wajar tanpa persyaratan (WTP). Selain itu, UNY mendapat penghargaan peringkat tiga BLU terbaik dalam pelaksanaan program, kegiatan, dan anggaran 2018.


Inovasi pembelajaran


Menyinggung proses pembelajaran, Sutrisna Wibawa menyatakan universitasnya telah menrapkan model inovasi pembelajaran modal top-down maupun bottom up. Model tersebut berjalan beriringan. “Para dosen mengimplementasikan inovasi pembelajaran dalam tataran praktis maupun penelitian dan pengabdian masyarakat.”


Karakter perkuliahan mencakup interaktif, holistik, integratif, saintifik, kontekstual, tematik, efektif, kolaboratif. Sejumlah teknik diterapkan seperti media quiet book untuk pembelajaran peningkatan kemampuan menulis dan membaca, teknik digital dengan pendekatan student center learning terpadu Backward Learning. Kemudian model pembelajaran genetika berbasis hasil penelitian dan pengembangan multimedia pembelajaran interaktif berbasis aplikasi smart phone pada mata pelajaran sistem kontrol terprogram di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), media dartcount game, media ayo belajar bangun datar, dan model lain yang seluruhnya berjumlah 34 model.


Sumber: www.pikiran-rakyat.com