Wacana untuk lebih mengedepankan para profesional di kabinet Jokowi II telah direspon, salah satunya oleh para cendekiawan Bali. Berawal dari polling kecil di lingkungan grup WA Forum Tri Hita Karana (FTHK), Forum Para Cendekiawan Bali, terkait dengan pertanyaan: Siapa tokoh Bali yang layak jadi Menteri pada kabinet Jokowi II? Setelah membahas banyak tokoh Bali, dengan semua pertimbangan yang ada, mencuat nama Prof. I Gede Wenten sebagai sosok kandidat terkuat. Hasil polling tersebut kemudian dipublikasikan dan direspon secara luas oleh masyarakat Bali. Prof. I Gede Wenten adalah salah satu Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB). Tim Retorika Kampus berkesempatan untuk mengenal Prof. I Gede Wenten lebih dalam.

 

Siapa sebenarnya Prof. Dr. Ir. I Gede Wenten, M.Sc., M.H., IPU. ?


I Gede Wenten dilahirkan dari keluarga buruh nelayan di Desa Pengastulan, Seririt, Buleleng,  Bali. Terlahir sebagai anak bungsu dari 11 bersaudara, hidup I Gede Wenten tak mudah. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil. Dalam kehidupan serba sulit tersebut kebanyakan kakak-kakaknya tidak dapat menyelesaikan pendidikan SD. Berkat kemauan yang kuat, I Gede Wenten dapat menyelesaikan pendidikan SMA di SMAN Seririt.


Kalau memang sudah takdirnya, terjadilah. Ternyata, setamat SMA, dari awalnya hanya berniat menemani kawannya ikut tes Perintis Masuk PT di Malang, dia ikut-ikutan tes dan memilih jurusan Teknologi Kimia ITB. Jurusan itu, bahkan ITB, sebenarnya tidak dikenalnya sama sekali. Suatu ketika saat sedang menjalani keseharian di laut, datang kerabatnya yang merantau di Surabaya membawakan berita koran. Berita tentang pengumuman ujian perintis yang sudah satu bulan berlalu. Singkat cerita, dalam kemustahilan, dengan segala keajaiban, I Gede Wenten akhirnya menjadi mahasiswa ITB angkatan 1982.


Takdir terus bergulir. Walaupun di tengah masa belajarnya itu, I Gede Wenten harus kehilangan ibu dan kakak kandung yang menjadi tulang punggung keluarga, ternyata perkuliahannya di ITB dapat diselesaikan dengan sangat cepat. Setelah tamat ITB, Ir. I Gede Wenten sempat bekerja sebagai profesional, sebelum melanjutkan studi S2 ke Denmark tahun 1988. Dengan semangat belajar yang luar biasa ia dapat menyelesaikan pendidikan S2nya dalam satu tahun, kemudian melanjut beasiswa S3 di tempat yang sama. Karir cemerlangnya dimulai ketika mendapat kesempatan menjadi visiting researcher di RPI, New York-USA tahun 1991 dan pada dua tahun terakhir masa studinya menjadi staf ahli di X-FLOW BV, suatu perusahaan membran Belanda yang mengkomersialkan invensi yang dipatenkannya di Amerika,  UNITED STATES PATENT US5560828. Penemuan tersebut mendapat perhatian cukup luas dan telah melambungkan namanya di Eropa. Setelah menjalani pendidikan dan karir profesional di Eropa dan Amerika, dia menempuh program post doctoral di UNESCO Center UNSW, Sydney-Australia. Akhirnya, pertengahan tahun 1995 kembali ke Indonesia dan meniti karir sebagai dosen di ITB.


Banyak orang bilang, bila sudah di Indonesia maka kecemerlangan prestasi itu akan sirna. Tapi tidak untuk seorang I Gede Wenten. Entah kenapa, dia selalu dihindarkan dari jalur birokratif. Tanpa disadari, situasi tersebut, membuatnya lebih fokus dalam melakukan penelitian, menghasilkan teknologi yang langsung dikomersialkannya. Karena kegigihannya sebagai innovator itulah maka ia mampu berprestasi di kalangan dosen dan peneliti. Bahkan, ia adalah pendiri perusahaan membran pertama dan satu-satunya di Indonesia http://www.gdpfilter.co.id/. Teknologi Membran Non-Modular yang telah dipatenkan dan kemudian dikomersialkannya, mendapat pengakuan ASEAN Outstanding Engineering Award dari ASEAN Federation of engineering Organisation (AFEO) 2010 di Hanoi-Vietnam. Disamping itu, IGW GREEN ULTRAFILTER yang dioperasikan tanpa listrik dianugrahi GOLD MEDAL-GANESHA INNOVATION AWARD 2013 oleh ikatan alumni ITB. Bahkan, Produk HOME ULTRAFILTER yang dipasarkan PT. Ifaria Gemilang terpilih sebagai teknologi terobosan inovasi Indonesia 2015.


Prof. I Gede Wenten, putra asli Bali, adalah inovator sejati yang dimiliki Indonesia. Seorang akademisi yang juga berkarir dibidang profesional dan bisnis. Banyak kontrak industri telah dikerjakan selama karirnya. Atas karyanya yang luar biasa, pada tahun 2014 dia diangkat sebagai Guru Besar ITB dan tahun 2017 dikukuhkan sebagai Insinyur Profesional Utama, IPU. Pahit getir perjalanan membangun bisnis dari karir keilmuan telah dilaluinya. Pengalaman yang sangat pahit di tahun 2012 bahkan telah mendorongnya untuk menjadi ahli hukum dengan menempuh Pendidikan Magister dibidang hukum. I Gede Wenten dikenal sebagai sosok yang sangat cepat dalam bekerja. Disela kesibukannya yang luar biasa, dia masih bisa meluangkan waktu untuk sharing ilmu ke luar negeri sebagai visiting professor.


Profesor I Gede Wenten adalah juga sosok ilmuwan yang sangat cemerlang dengan konsistensi yang sangat mengagumkan. Sebanyak 19 penghargaan prestisius telah diraihnya sebagai pengakuan atas karir profesionalnya. Bahkan, Habibie Award diraihnya tahun 2000, dalam usia yang sangat muda. Publikasinya yang begitu banyak di jurnal-jurnal ilmiah telah menempatkannya diurutan teratas science and technology index (SINTA) ITB. I Gede Wenten juga mempunyai reputasi keilmuan yang luar biasa mumpuni di dunia internasional https://www.researchgate.net/profile/I_Gede_Wenten.


I Gede Wenten adalah contoh sosok putra Indonesia terbaik, putra Bali yang takdirnya terkuak dari tengah-tengah gelombang dan hantaman ombak di pantai Bali utara. Pastaskah FTHK merekomendasikan I Gede Wenten sebagai sosok putra terbaik yang dimiliki Bali saat ini ? Layakkah I Gede Wenten menjadi Menteri sekaliber Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi? Pembaca dapat mengikuti idenya yang visioner untuk membangun IPTEK bangsa yang berdaya saing tinggi di link berikut  http://retorikakampus.com/berita/rubrik/suara-untuk-indonesia/profesor-i-gede-wenten-indonesia-krisis-iptek.