Lahirnya riset yang aplikatif merupakan sebuah perkembangan yang positif, para mahasiswa tidak hanya berorientasi pada textbook saja tetapi penelitiannya betul-betul berangkat dari permasalahan yang riil di lapangan. Ini adalah poin yang harus diapresiasi, karena apapun yang mereka kerjakan merupakan sebuah bentuk solutif untuk masalah aktual di lapangan sehingga ini bukan hanya keberhasilan karya ilmiah yang sifatnya scientific tetapi ada sebuah upaya untuk memberikan kontribusi langsung terhadap pemecahan masalah di lapangan. Mahasiswa bukan hanya sukses dalam hal apa yang diprediksikannya saja tetapi diperlukan kolaborasi, perlu adanya kerja sama sinergis dengan banyak pihak atau antar lembaga untuk mensosialisasikan kerja mereka, sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

Pernyataan tersebut ditegaskan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., saat meninjau pelaksanaan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 5 Bidang Tahun 2019 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi di Museum Pendidikan Nasional (Mupenas) UPI Jalan Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Sabtu (29/6/2019).

Lebih lanjut dijelaskan, sebagai host, ini merupakan sebuah kesempatan bagi UPI untuk memberikan kontribusi yang lebih besar lagi bagi penyelenggaraan Monev Ekternal PKM ini. Selain sebagai tuan rumah, UPI juga tampil sebagai peserta, sehingga memiliki double opportunity, pertama suskes sebagai peserta, yang berkontribusi dalam menghadirkan peserta yang berkualitas tetapi juga sukses sebagai penyelenggara dengan memberikan pelayanan yang terbaik, bukan hanya untuk UPI tapi untuk seluruh peserta dari berbagai universitas agar mereka bisa mengikuti kegiatan ini dengan nyaman, sukses dan melaksanakan tugasnya dengan baik.

Sementara itu, di ruang presentasi Rizki Mochamad Fauzi mahasiswa UPI anggota dari kelompok PKM-Karya Cipta yang beranggotakan Rizki Mochamad Fauzi, Lukman Arif Purwanto dan Dicky Rustandi mempresentasikan Gemong. Gemong atau Gelas ngomong adalah sebuah alat yang diciptakan sebagai media bantu minum bagi penyandang tunanetra. Kelompok ini berkarya di bawah bimbingan Drs. Yoyo Somantri, S.T., M.Pd.

Dalam kesempatan yang sama, Rizki Mochamad Fauzi juga tergabung dalam kelompok PKM-Teknologi beranggotakan Rizki Mochamad Fauzi, Febryana Sri Waranti dan Ikhyasul Kuspriza Rais. Mereka menciptakan Abujat yaitu sebuah alat penyiram jamur tiram otomatis. Abujat merupakan alat budidaya jamur tiram berbasis IOT solusi wanita tani nova jamur. Kelompok ini dibimbing oleh Drs. Yoyo Somantri, S.T., M.Pd.

Diungkapkannya,”Abujat adalah sebuah alat yang memiliki teknologi untuk menyiram jamur tiram dengan otomatis secara vertikal yang terhubung dengan aplikasi android Abujat. Abujat mengotomatisasi budidaya jamur tiram, sehingga mitra atau petani tidak perlu lagi melakukannya secara konvensional. Permintaan pasar yang besar atas jamur tiram inilah yang menjadi salah satu penggerak latar belakangnya, kemudian faktor keselamatan kerja para penyiram jamur juga perlu perhatian, serta tidak terjaganya iklim mikro kumbung jamur yang mengakibatkan suhu dan kelembaban udara tidak stabil menyebabkan gagal panen. Berdasarkan hal tersebut, Abujat diciptakan bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan kelompok wanita tani nova jamur terkait teknis penyiraman jamur dengan memperhatikan faktor suhu dan kelembaban udara.”

Sementara itu, gemong adalah sebuah gelas ngomong yang diciptakan untuk memberikan informasi berupa suara kepada penyandang tunanetra ketika menakar air ke dalam gelas, jelasnya. Proses dimulai dari mengisi air hingga menyentuh level takaran gelasnya. Jika sudah mencapai takaran, maka akan muncul nada atau suara yang keluar melalui speaker. Gelas ini portable, bisa dibawa kemana mana dan bisa dicuci sesuai keinginan sendiri.

“Gemong diciptakan untuk mengembangkan media bantu minum bagi penyandang tunanetra, dan memudahkan mereka untuk menuangkan air ke dalam gelas. Latar belakangnya karena para penyandang tunanetra mengalami kesulitan saat menuangkan air minum ke dalam gelas, terkadang mereka harus merasakan kepanasan saat mencelupkan jarinya ke dalam air panas untuk memastikan airnya sudah penuh atau belum,” bebernya.

Gemong akan berbunyi ketika kita menyalakan tombol On, ungkapnya lagi, bunyinya adalah gemong siap melayani anda, pastikan gelas dalam keadaan kosong. Kemudian ketika mengisi air, gemong akan berbunyi sedang mengisi air. Ketika posisi air sudah setengah terisi maka akan berbunyi setengah penuh. Lalu ketika air penuh gemong akan berbunyi air sudah penuh, silahkan berhenti. Kemudian ketika gelas diangkat dan air diminum maka akan berbunyi selamat minum, terima kasih, dan ketika gelas disimpan kembali maka akan berbunyi air belum habis atau air sudah habis.

Menyikapi prestasi mahasiswanya yang lolos untuk ikut monev eksternal ini, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FPTK UPI Dr. Ana, S.Pd., M.Pd., menjelaskan,”FPTK memiliki tim reviewer yang disebut Tim 26, anggotanya reviewer dari berbagai prodi. Setiap reviewer di tingkat prodi diberikan amanah untuk membimbing 5 proposal PKM. Setelah itu secara berkala dilakukan pendampingan mulai dari penyusunan proposal hingga memandu submit, sampai hal terkecil pun ikut diperhatikan, kemudian setelah lolos mereka diarahkan ke reviewer internal yang lebih kecil lagi, dilakukan pembinaan secara intensif. Reviewer nasional Dr. Hj. Tri Indri Hardini, M. Pd., pun kami undang untuk melakukan pengarahan, sehingga reviewnya sama seperti kondisi riil.”

Seluruh stakeholder saling mendukung dan bersinergi untuk membimbing, ujarnya. Fakultas memberikan banyak bantuan seperti dukungan dana, bantuan publikasi internasional secara gratis, dan membantu pendaftaran HKI. Semua dikontrol dari awal hingga akhir karena beban mahasiswa cukup berat.

 

Sumber: upi.ac.id