Ini merupakan kali pertama pelantikan Rektor ITS di era berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) dan dilakukan sendiri oleh MWA ITS. Prof Mochamad Ashari yang merupakan Guru Besar Teknik Elektro ITS ini melanjutkan tugas kepemimpinan Rektor ITS periode 2015 – 2019, Prof Ir Joni Hermana MScES PhD yang merupakan rektor ITS ke-11.


Selain dari jajaran pimpinan ITS, pelantikan yang dilaksanakan secara khidmat ini juga dihadiri sejumlah pejabat perwakilan institusi pemerintah dan perusahaan-perusahaan ternama yang menjadi mitra kerja ITS selama ini. “Kedatangan para undangan ini bukan sekadar kewajiban menghadiri upacara pelantikan saja, tapi juga wujud dukungan penuh kepada ITS agar dapat lebih berkembang,” tutur Prof Mohammad Nuh yang juga ini.


Menurut mantan Rektor ITS periode 2003-2006 yang akrab disapa Nuh ini, pergantian rektor ini bukanlah pertanda pergantian kebijakan dan visi ITS ke depan, melainkan sebagai estafet yang berkesinambungan antara rektor satu dengan lainnya untuk mewujudkan ITS sebagai kampus kelas dunia yang bermanfaat bagi masyarakat.


Dalam sambutannya, Nuh menyampaikan banyak terimakasih kepada Prof Joni Hermana sebagai rektor selama empat tahun ke belakang, atas segala usaha dan kerja kerasnya dalam memimpin ITS hingga sukses menjadi kampus berstatus PTN-BH dan menuai banyak prestasi di tingkat dunia. “Mudah-mudahan Allah menerima segala kebajikan Prof Joni dalam kerjanya sebagai Rektor ITS selama ini,” harap mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 2009-2014 ini.


Prof Nuh juga berpesan agar ITS sebagai public university, tidak mengabaikan dan menghilangkan esensi kata “public” tersebut. Salah satu caranya dengan diberikannya akses luas dan terbuka bagi seluruh lapisan masyararakat, terutama golongan yang berprestasi namun kurang mampu.


Dirinya juga mengapresiasi kerja Prof Joni selama ini yang telah membeberkan “karpet merah” bagi mereka untuk bisa menjadi bagian dari ITS. “Kemuliaan kampus bukan dilihat dari banyaknya mobil mewah yang parkir, melainkan dari kesediaannya membukakan jalan bagi mereka yang berprestasi namun kurang mampu secara finansial,” ungkap mantan Menteri Komunikasi dan Informatika RI periode 2007-2009 ini.


Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga menyampaikan harapannya kepada ITS ke depan, agar bisa berkontribusi untuk Indonesia, khususnya Jawa Timur. Menurutnya, di era Revolusi Industri 4.0 ini, ITS sebagai kampus teknologi dapat menjadi referensi berbagai hal, seperti digitalisasi ekonomi, mekanisasi perekonomian, teknologi pangan, kelautan, perikanan dan lain sebagainya.


“Kami harap Pemerintah Provinsi Jawa Timur dapat membangun strong partnership dengan keluarga besar ITS, terutama dengan pendidikan vokasi yang dapat memberikan support penguatan pendidikan SMK di Jawa Timur,” pungkas mantan Menteri Sosial RI periode 2014-2018 ini.


Terkait tantangan ITS di masa kepemimpinannya nanti, Prof Mochamad Ashari mengakui bahwa ITS telah memiliki ekspektasi yang tinggi dari berbagai pihak. Ekspektasi ini terkait dengan pandangan bahwa ITS merupakan perguruan tinggi yang luar biasa dan bukan sembarangan. Beberapa cara yang akan dilakukan untuk memenuhi ekspektasi tersebut yakni dengan diteruskannya upaya perubahan kultur sebagai PTN-BH, peningkatan inovasi, serta peningkatan reputasi internasional.


“Ini merupakan titik awal saya untuk bekerja keras, nanti bersama-sama kita tingkatkan performa segala sektor sehingga banyak penelitian yang luar biasa dari para dosen serta punya lulusan yang berkualitas,” tutur pria kelahiran Sidoarjo yang akrab disapa Ashari ini. (mad/HUMAS ITS)