BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan) tandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) di Jakarta (24/5). Lingkup kerjasama meliputi kerjasama berbagi keahlian,  kerjasama dalam bidang teknologi dan informasi, penyelenggaraan BPJS bagi mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan.
 
Dalam sambutannya, Direktur BPJS Kesehatan, Prof. Fahmi Idris menyampaikan tentang  public expose yang dilakukan BPJS tahun 2018. Di tahun 2018 BPJS masuk ke dalam era digitalisasi.  Sehingga hal ini mengubah lanskap. Ia menilai jika tidak dikembangkan secara digital, tidak mungkin bisa efektif, efisien dan bermutu karena begitu banyaknya sebaran faskes.


“Ada begitu banyak layanan yang diberikan BPJS. Satu medical record kita melakukan verifikasi dalam jangka satu bulan bisa melakukan sekitar 8 juta berkas, sehingga otomatis akan banyak berkas yang diperiksa. Kita tidak bisa bayangkan betapa tinggi berkas tersebut jika ditumpuk. Sehingga di situ kita kembangkan verifikasi digital claim,” ujarnya.


Selain itu jumlah peserta kini mencapai 221 juta jiwa. Dengan sebaran penduduk yang tersebar luas di seluruh Indonesia dari Barat hingga Timur, BPJS mengelola sekitar 29.767 faskes. Dengan jumlah mitra sebanyak 30 ribu dan 640 ribu pemanfaatan harian. 


“Bayangkan jika tidak memiliki teknologi informasi dan digitalisasi sebagai backbone pelayanan, tidak direkam dalam sistem digital maka akan sulit,” tambahnya.


Layanan BPJS yang sedang dikembangkan saat ini adalah upaya agar peserta tidak lagi datang ke kantor BPJS. Semua selesai di peserta. Dan semakin banyak peserta yang menggunakan mobile device. 


“Cukup download di android, 90 persen selesai di mobile device. Seperti cek iuran bayar iuran, semua data sudah ada. Terlayani dengan baik di tempat seharusnya. Lebih efektif dan efisien. Selain itu harapannya Rekam Medik tidak perlu disimpan di Rumah Sakit (RS). Rekam medik milik pasien, dokumen di suatu Rumah Sakit. Tinggal simpan secara terkomputerisasi agar aman sehingga dimana pun membutuhkan rekam medik di RS manapun, data bisa kita tarik. Cukup dengan password yang dimiliki pasien. Tidak ada lagi data pasien disimpan di satu tempat. Hal tersebut sebagai gambaran nanti contoh digitalissi yang akan dikembangkan di pelayanan. Kami juga mengembangkan pelayanan kesehatan melalui finger print. Ini kenyataan di era digital. Di Turki cukup membawa telapak tangan untuk cek kesehatan, di Korea, orang cukup bawa sidik jari,” ujarnya.


Sementara itu Rektor IPB, Dr. Arif Satria bahwa data di era smart society itu sangat penting. Menurutnya BPJS sudah bagus dengan antisipasi ke sistem digital. Dengan banyaknya data yang dimiliki, harus juga dipikirkan kerahasiaan data riwayat peserta.

 
Menurut Rektor, Big Data adalah kekuatan besar dunia saat ini. Dulu, negara berkuasa karena pangan atau minyak, saat ini orang berkuasa karena data. Era revolusi industri 4.0 ini akan mengancam jika tidak berbenah. 


“Saat ini karakteristik bisnis berubah. Bisnis saat ini adalah dengan platform. Lebih luas lagi, melalui platform bisa ke mana-mana, mungkin saja suatu saat misal saat beli makanan melalui go food, dengan masuknya data dari BPJS, sehingga muncul riwayat sakit, maka makanan tersebut tidak bisa dipesan dan disarankan makan yang lain. Jika data interaktif dengan bisnis lain, semua bakal terjadi. Untuk itu, regulasi pun harus segera menyesuaikan,” ucap Rektor.


Contoh lainnya, melalui kolaborasi yang dilakukan ini maka kita bisa melihat link riwayat kesehatan mahasiswa IPB. Saat ini Poliklinik IPB sudah menjadi Faskes BPJS. “Melalui link data kita dapat mengetahui bagaimana kesehatan mahasiswa. Dengan platform BPJS yang semakin bagus, monitoring kesehatan dan big data yang dimiliki, semakin akurat dan canggih, hasil bisa diketahui dengan real time dan semakin banyak data semakin bagus. Dengan penelitian ke depan, IPB siap support, untuk bersama mengelola manajemen big data. Riset IPB akan membantu pengembangan ilmu dan bagaimana mengolah data. Di IPB sudah ada data sains untuk kebutuhan riset tersebut,” tandasnya.

 

 

Sumber: ipb.ac.id