BANDUNG. Riset konsorsium kendaraan listrik yang dimotori Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Massachusetts Institute of Technology (MIT) dalam empat tahun, 2017-2021, menargetkan untuk meluncurkan motor roda tiga untuk alat pengangkut barang serta bus.

 

Menurut Sigit Puji Santosa, Direktur Centre for Collaboration Research (CCRs) dan National Center for Sustainable Transportation Technology (NCSTT), pilihan bus karena terkait dengan angkutan massal. Sementara motor roda tiga sebagai angkutan barang yang akan dipakai PT Pos Indonesia.


Ujung riset kolaborasi itu menghasilkan teknologi baterai yang andal dan kendaraan listrik siap dikomersialisasi. Kini selain menjalani riset selama setahun berjalan, tim sudah menggaet beberapa industri komponen dan manufaktur. “Agustus lalu kita tanda tangan MoU dengan sebuah asosiasi manufaktur internasional,” ujar Sigit, Senin, 12 November 2018.

Ada sekitar 5.000 pemasok komponen di Indonesia, Asia, Amerika, dan Eropa yang akan mendukung implementasi dan produksi massal bus dan motor roda tiga bertenaga listrik. “Pada tahun pertama ini kami siapkan komponen dan desain kendaraan listriknya,” kata dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB itu. Target tahun kedua pada 2019 mulai validasi kendaraan.


Riset ini merupakan bagian dari kerja sama pembuatan mobil listrik berjangka 2017-2021. Proyek riset itu bagian dari program Sustainable Higher Education Research Alliances (SHERA) yang didanai pemerintah Amerika Serikat (United States Agency for International Development/USAID). Programnya bermitra dengan sejumlah kampus di Indonesia, antara lain untuk riset kesehatan publik dan penyakit infeksi, ketahanan pangan, lingkungan, energi, kemaritiman, serta teknologi inovasi. Penandatangan kerja samanya pada September 2017.


ITB kebagian untuk memimpin konsorsium pembuatan moda listrik termasuk riset baterai generasi ketiga bersama MIT. Konsorsium ini juga melibatkan peneliti dari Universitas Sriwijaya, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Kalimantan di Balikpapan, dan Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Sebanyak 50-an peneliti dari ITB, 50-an peneliti lain dari enam kampus mitra.

 


sumber: https://tekno.tempo.co