Beberapa waktu lalu ada seorang warga negara Nigeria yang menderita Monkeypox saat mengikuti lokakarya di Singapura. Kejadian ini mengakibatkan 23 orang yang kontak erat dengan penderita dikarantina untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengawasan  lebih lanjut. Kejadian ini sempat menggemparkan dunia.


Untuk itu Pusat Studi Satwa Primata (PSSP), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University menggelar Half Day Seminar on Monkeypox and Papilloma Virus (Human Cervical Cancer) di Pusat Studi Satwa Primata, Bogor (17/6). 


Dalam kesempatan ini, Dr.drh.Diah Iskandriati, peneliti dari PSSP dan Ditte Rahbaek Boilesen, peneliti dari Copenhagen University memberikan penjelasan tentang Monkeypox. 


Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, Dr. Diah mengatakan bahwa Wabah Monkeypox Virus (MPXPV) pertama kali terjadi di Denmark tahun 1958. Virus ini ditemukan pada 31 monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) asal Singapura atau Malaysia yang digunakan untuk penelitian vaksin polio di Statens Serum Institut Copenhagen. Pada kasus ini, semua monyet terlihat sehat, hanya terlihat pustuler, mengering dan lepas atau mengelupas. 


Tahun 1959, MPXPV ditemukan kembali di USA yakni di Biological Development and Control Laboratories of Merck Sharp and Dohme, West Point, Pennsylvania, USA. Mayoritas menginfeksi Monyet kera (M. Fascicularis) dan sebagian kecil monyet Rhesus (M. mulatta). Tahun 1962, terjadi lagi di USA dan menginfeksi dua ekor M. fascicularis yang diberi paparan radiasi untuk penelitian. Gejala klinis yang timbul meliputi skin eruption, edema daerah muka, kesulitan bernafas, lesi berdarah, diare berdarah dan berakhir dengan kematian. Tahun 1964, MPXPV menyerang Kebun Binatang Rotterdam. 


“Pada tahun 1970 lah pertama kali terjadi kasus pada manusia. Yakni di Republik Demokratik Kongo. Kemudian tahun 2003 terjadi di Amerika pada manusia yang memiliki kontak dengan hewan peliharaan eksotis yang terinfeksi dari tikus Afrika yang masuk ke Amerika. Tahun 2017 terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Monkeypox di Nigeria dan tahun 2018 dilaporkan di Inggris dan Israel. Kemudian Mei 2019 dilaporkan terjadi di Singapura,” terangnya.


Menurutnya hingga saat ini belum ada laporan kejadian Monkeypox di Indonesia. Penularannya bisa dari hewan ke hewan, hewan ke manusia dan manusia ke manusia. Adapun gejalanya mirip seperti cacar air.


Sementara itu pada kesempatan yang sama Ditte menyampaikan paparan tentang THERIN: Therapeutical Removal of Infection- A Vaccine That Can Remove Established HPV Infection. Menurutnya vaksin penting dilakukan untuk membersihkan virus.


Human papillomavirus atau HPV adalah virus penyebab kanker mulut rahim pada wanita. HPV merupakan kanker penyebab kematian terbesar kedua pada wanita setelah kanker payudara. Selain menyebabkan kanker serviks, papilloma adalah virus yang umum dan dapat menyebabkan infeksi di permukaan kulit dan lapisan mukosa manusia dan hewan. Infeksi virus ini ditandai dengan tumbuhnya kutil pada kulit di berbagai area tubuh seperti lengan, tungkai, mulut, serta area kelamin.


“Vaksin yang tersedia di pasaran saat ini adalah vaksin untuk pencegahan kanker. Tetapi karena banyaknya jenis (lebih dari 100) virus papilloma maka vaksin yang tersedia hanya bisa mencegah beberapa jenis virus papilloma. Akibatnya tingkat kematian akibat penyakit ini masih tinggi,” ujarnya.


Menurut Dr. Huda Kadarusman, Kepala PSSP IPB University, saat ini Copenhagen University bekerjasama dengan PSSP IPB University sedang melakukan kerjasama penelitian di bidang vaksin HPV untuk penyembuhan. Kerjasama ini telah berlangsung sejak 2011 dan akan terus dilanjutkan.

 

 

Sumber: ipb.ac.id