BANDUNG—Institut Teknologi Bandung kembali menggandeng swasta dalam pembangunan sarana dan prasarana belajar mengajar. Setelah dengan PT Freeport Indonesia, giliran Sinar Mas Group dan Astra International yang digaet ITB. Kedua perusahaan yang bergerak salah satunya di bisnis sawit itu tengah membangun Gedung Science and Techno Park di lahan seluas 3.000 meter persegi di kompleks kampus ITB, Bandung, Jawa Barat.

 

Pembangunan dimulai secara simbolis dengan peletakan batu pertama akhir April lalu. Managing Director Sinar Mas Saleh Husin mengatakan pembangunan gedung tersebut sebagai wujud swasta dalam memfasilitasi perkembangan teknologi. Ia berharap dari gedung tersebut lahir inovasi berbasis teknologi serta perusahaan rintisan yang bermanfaat bagi masyarakat. “Pembangunan ini juga sebagai jawaban kepada pemerintah yang mendorong swasta agar lebih berperan di bidang riset,” kata Husin dalam siaran

persnya.

 

Gedung berkonsep green building ini akan dibangun setinggi empat lantai. Anggaran pembangunan menelan dana sekitar Rp 36 miliar. Tujuan pembangunan gedung tersebut mempertemukan para peneliti, mahasiswa, dan pelaku usaha serta menjadi tempati inkubator bagi perusahaan rintisan (start up).

Karenanya, fasilitas gedung tersedia ruang serbaguna, ruang kantor koperasi, co-working space, hingga private space. “Akan menjadi sumber komersialisasi teknologi yang dihasilkan kami,” kata Leo Aldianto, Head of Division Innovation Park, Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB.

 

Sebelum kerja sama dengan Sinar Mas dan Astra, ITB pernah menggandeng Freeport dalam pembangunan Gedung Laboratorium Teknologi XIV Sekolah Bisnis Manajemen. Biaya pembangunan gedung setinggi enam lantai dengan luas 5.482 meter persegi tersebut menelan dana Rp 75 miliar melalui mekanisme dana Corporate Social Responsibility (CSR). Kini, gedung berkonsep hijau tersebut sudah berdiri tegak. Tak hanya ruang kelas belajar mengajar, fasilitas gedung tersebut ada ruang kantor, ruang teleconference, fitness center dan ruang karaoke.

 

Namun pembangunan gedung-gedung ini menuai kecaman dari mahasiswa. Anna Kumala, perwakilan mahasiswa dalam Majelis Wali Amanat ITB, misalnya. Ia mengatakan seharusnya kampus tak asal menggandeng swasta. “Harus melalui serangkaian pertimbangan yang matang,” kata dia. 

 

Salah satu yang harus dipertimbangkan adalah rekam jejak perusahan tersebut apakah pernah bermasalah atau tidak. Selain itu, ia khawatir tak ada kritik dari sivitas kampus jika di kemudian hari perusahaan penyumbang itu bermasalah. “jadi kesannya dibeli dengan gedung,” kata dia.

 

Menteri Sosial Politik Keluarga Mahasiswa ITB, Galih Norma Ramadhan, menyayangkan kampusnya menggandeng perusahaan tambang asal Amerika tersebut. Menurut dia, Freeport penuh dengan catatan hitam. “Mereka belum memberikan keuntungan lebih bagi Indonesia dan Papua. Sangat timpang antara apa yang mereka dapatkan dan mereka berikan”, ujar mahasiswa jurusan Teknik Planologi itu. 

 

Lebih lanjut menurutnya, memang secara aturan tidak masalah, tapi kurang etis saja. Baik Sinar Mas dan Freeport pernah tersandung masalah di Indonesia. Sinar Mas pernah terbukti membakar hutan di Kabupaten Ogan Komering Ilir pada 2014. Pengadilan Tinggi Palembang, Sumatera Selatan, menghukum Sinar Mas untuk membayar ganti rugi sebesar Rp 78,5 miliar karena kejadian itu. 

 

Begitu juga dengan Freeport. Laporan Badan Pemeriksa Keuangan tahun lalu menyebut penambangan Freeport menimbulkan kerusakan lingkungan dengan potensi kerugian Rp 185 triliun. Penanggung jawab pembangunan Gedung Labtek XIV, Budi Permadi Iskandar justru heran dengan sejumlah kritikan terkait pembangunan gedung oleh Freeport. “Apa masalahnya? Freeport adalah perusahaan legal yang taat aturan,” kata dia. 

 

Saat ditanya potensi hilangnya indepedensi, Budi menjawab, “ITB itu punya integritas kalau Freeport salah ya salah.” 

 

Begitu juga dengan Sinar Mas. “Mereka ini perusahaan legal,” kata Leo.

 

Tak hanya kepada ITB, rupanya Sinar Mas menyumbang sejumlah bus serta membangun pintu gerbang otomatis kepada IPB. Menteri Kebijakan Kampus BEM KM IPB Wisnu Dewa berharap kampus memilah perusahaan berdasarkan rekam jejaknya.

 

Soalnya, “Kalau suatu perusahaan punya catatan buruk lalu kampus kerjasama, itu sama saja kampus mendukung perusahaan tersebut.” 

 

Ihwal bus dari Sinar Mas, Wisnu pasrah. “Bus sudah tidak ada lagi. Ketika dikasih, ya terima saja. Padahal kami tahulah sepak terjang Sinar Mas kaya gimana,” kata dia.

 

Adapun Kepala Biro Komunikasi IPB Yatri Indah Kusumastuti tak mempersoalkan apapun latar belakang pemberi hibah. “Selama mereka masih mempunyai itikad baik untuk membantu mahasiswa, maka kami terima,” kata dia.

 

 

 

Deden Nurodin, Vivi Priliyanti, Nur Novilina