Kampus berupaya melahirkan perusahaan rintisan melalui berbagai macam program inkubasi. Salah satu cara mendukung Gerakan Nasional 1.000 startup yang digagas pemerintah.

 

BOGOR—Sejumlah kampus kini menjadi basis penghasil berbagai macam startup atau perusahaan rintisan. Institut Teknologi Bandung, misalnya, telah menelurkan sekitar 80 startup melalui Program Inkubasi Bisnis (PIB) yang dikomandani oleh Divisi Inkubator Industri dan Bisnis di Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) sejak 2002

 

Namun, tidak semuanya perusahaan rintisan tersebut bertahan di dunia bisnis. Ada yang mati tapi tak sedikit yang masih berjalan. SOROT (Smart Online Reporting and Observation Tool) dan Kazee merupakan segelintir startup yang masih bertahan dan bahkan berkembang sejak  mulai diinkubasi oleh LPIK-ITB  pada 2015. Kedua startup tersebut ‘diwisuda’di  ITB akhir Mei lalu seperti dilansir itb.ac.id.   

 

I Made Ariya Sanjaya pendiri SOROT dan Kazee, mengatakan selama menjadi  incubatee di inkubator LPIK-ITB mendapat banyak manfaat. Selain pengetahuan, Made juga mendapat pendanaan dari berbagai instansi seperti dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada 2016.

Adapun SOROT merupakan aplikasi yang memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memberikan saran, pengaduan, laporan atau aspirasi guna terwujudnya konsep smart city di Indonesia. Beberapa pemerintah daerah, di antaranya Kota Bekasi, Semarang, dan Kabupaten Sleman menggunakan aplikasi ini.

Sedangkan Kazee merupakan perusahaan rintisan yang menyediakan platform media analytics kepada pelaku bisnis maupun pemerintah, dengan moto media analytics is easy. “Saat ini, Kazee telah digunakan oleh beberapa perusahaan baik BUMN, swasta, dan pemerintah kota sebagai uji coba,” kata Made.

 

ITB juga bekerja sama dengan Badan Intelejen Negara (BIN) untuk menghasilkan produk-produk teknologi berbasis intelejen. Kedua lembaga ini akan bahu membahu mengembangkan produk-produk intelejen yang menerapkan sistem kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kini tengah gandrung.

 

Kepala BIN Budi Gunawan mengapresiasi kerja sama ini. “Saya berharap kolaborasi ini bisa terus berlanjut dan ditingkatkan untuk mendukung tugas dan intelijen dalam mengatasi ancaman-ancaman terhadap ketahanan dan keamanan negara,” kata Kepala BIN Budi Gunawan. Begitu juga dengan Rektor ITB Kadarsah Suryadi. “Kerja sama ini sejalan dengan arah ITB sebagai Enterpreneurial University,” ujar Kadarsyah.


Untuk mewujudkan menjadi basis penghasil wirausahawan di bidang teknologi, selain membuat inkubator, ITB juga membangun Co-working Space di sekitar kampus yang dibuka pada April 2016. Co-working Space untuk para perusahaan rintisan ini memiliki luas 188.14 meter persegi. Area ini dibikin bukan hanya untuk menghasilkan berbagai inovasi tapi mengerjakan berbagai proyek.


ITB tak sendirian dalam upaya menelurkan perusahaan-perusahaan rintisan. Universitas Indonesia melalui Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis juga membuat program penghasil startup. Nama programnya UI Incubate. Saat ini, program tengah menjaring para peserta yang inkubasi (tenant).


Seperti tertuang dalam situs diib.ac.id, tujuan program UI Incubate salah satunya mengerek jumlah perusahaan rintisan yang berasal dari sivitas akademik UI. Selain itu untuk meningkatkan keterampilan manajemen perusahaan rintisan. Melalui program ini, peserta bisa mengajukan dana sebesar Rp 50-200 juta.


Selain mendapatkan dana, peserta inkubasi juga akan didampingi selama mengikuti program UI Incubate. Pendampingan oleh orang-orang kompeten di dunia bisnis. Mereka mengajarkan soal produksi, keuangan, mengatur sumber daya manusia, hingga pemasaran. “Pendampingan dilakukan agar produknya diterima masyarakat,” bunyi dokumen panduan seleksi UI Incubate 2018.  


Universitas Gadjah Mada (UGM) juga turut berternak perusahaan-perusahaan rintisan. Dalam upaya menghasilkan startup tersebut, kampus berkolaborasi dengan berbagai instasi pendidikan, bisnis, serta pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika lewat Gerakan Nasional 1.000 startup. Gerakan tersebut digawangi oleh Yansen Kamto, pendiri Kibar.


Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital telah hadir di 10 kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, DIY, Semarang, Malang, Medan, Bali, Makassar, dan Pontianak. Tujuan gerakan ini untuk mewujudkan potensi Indonesia menjadi The Digital Energy of Asia pada 2020 dengan mencetak 1.000 startup digital yang diharapkan menjadi solusi atas berbagai permasalahan bangsa.


Dengan adanya gerakan tersebut, Indonesia menjadi basis ekonomi digital dengan melahirkan startup-startup unicorn (valuasi di atas US$ 1 miliar) seperti Gojek, Traveloka, dan Bukalapak pada 2020. Selain itu, valuasi bisnis digital ditargetkan mencapai Rp Rp 135,364 triliun dengan nilai transaksi Rp 1.759 triliun.


Di Yogyakarta, Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital hadir melalui Innovative Academy, sebuah program inkubasi  dikembangkan oleh UGM melalui pengelolaan Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi, serta diarahkan untuk membentuk startup digital dengan karakter Indonesia berbasis universitas.


Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital di UGM yang telah masuk tahap ignition. Sekitar 150 peserta program inkubasi di undang dalam acara bernama Entrepreneur Simulation Program: Econosphere 2 di Grha Sabha Pramana, UGM, pada pertengahan Mei lalu.


Entrepreneur Simulation Program: Econosphere 2 merupakan program simulasi gaming untuk pengembangan kewirausahaan. Program ini dikembangkan sejak 1995 oleh Rahmat Hidayat, Dosen Fakultas Psikologi UGM. Program tersebut telah dipergunakan secara luas dalam pengembangan kewirausahaan di perguruan tinggi.


Rahmat menjelaskan program simulasi gaming ini memiliki landasan model proses pasar dan makro ekonomi yang kuat: demand-driven market (J.M. Keynes) dan entrepreneurial market (I. Kizner). Ia menambahkan elemen permainan dalam simulasi ini membekali peserta dengan pengalaman menyadari, mengenali, menemukan, dan menciptakan peluang usaha. “Dalam simulasi melibatkan proses judgment, pengambilan keputusan, pengelolaan risiko, kerja sama dan pengendalian diri dalam situasi penuh tekanan,” kata Rahmat seperti dilansir dalam situs ugm.ac.id.


Kepala Subdit Inkubasi Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi, Henry Yuliando, mengatakan  Econosphere 2 ini pertama kalinya digunakan dalam proses penjaringan peserta Innovative Academy. Tujuannya, kata Henry, untuk memetakan profil peserta khususnya karakter dan komitmen peserta yang mengikuti inkubasi.


Hasil dari Econosphere 2 tersebut adalah pengelompokkan peserta berdasarkan karakter yang terkait dengan kemampuan kepemimpinan, manajerial, dan eksekusi. Program ini juga mendapat dukungan dari PIJAR Psikologi, salah satu startup binaan Innovative Academy. “Dengan demikian program innovative academy dapat disusun lebih efektif untuk mengakomodasi peserta sesuai dengan karakter atau profilnya,” kata Henry.



Reporter: Nisaul Kamila