Universitas Indonesia (UI) merancang purwarupa rumah masa depan berbasis listrik nan ramah lingkungan. Rumah itu bahkan juga disebut-sebut cocok untuk daerah rawan bencana. Rumah dengan teknologi listrik dual power pertama di Indonesia ialah hasil kreasi Tropical Renewable Energy Center Fakultas Teknik UI. Dinamai Sofwan House TREC FTUI. Disebut berteknologi listrik dual power karena menerapkan pembangkit listrik berbasis fuel cell(bahan bakar) dan solar cell (panel surya).

Sofwan House TREC FTUI juga akan menjadi laboratorium riset inovasi energi terbarukan yang ramah lingkungan. Konstruksi utama dari kotak kontainer lalu didesain sedemikian rupa agar kebutuhan listriknya dapat dipenuhi sendiri. Sementara itu, listrik dari PLN hanya digunakan sebagai cadangan.

“Listrik yang dihasilkan berasal teknologi fuel cell (sel bahan bakar) dan solar cell (panel surya) yang kemudian disimpan dalam baterai, untuk kemudian disebut dengan istilah dual cells,” kata Direktur TREC Fakultas Teknik UI, Eko Adhi Setiawan, kepada wartawan, Kamis, 15 November 2018.

Rumah Futuristis dan Cocok untuk Daerah Rawan Bencana Rancangan UI

Listrik yang dihasilkan dari alat itu, katanya, mampu menyalakan berbagai peralatan elektronik rumah tangga. Berkapasitas 2.500 sampai 4.000 watt dan dapat digunakan untuk satu-dua rumah di perkotaan.

Teknologi DCON yang dikembangkan TREC itu diklaim lebih stabil. Sebab, listrik DC dapat dibangkitkan langsung oleh panel surya yang dapat dipasang di atap rumah. Maka tidak terjadi perubahan konversi energi listrik dari DC ke AC yang menggunakan inverter yang umum digunakan.

“Alat DCON ini belum ada di pasaran, oleh karena itu, hasil penelitian ini ke depannya akan menjadi teknologi alternatif bagi para pengguna energi terbarukan agar sistem kelistrikannya menjadi lebih efisien dan lebih terjangkau harganya,” kata Dekan Fakultas Teknik UI, Hendri DS Budiono.

UI berharap model rumah masa depan dengan teknologinya menjadi terobosan teknologi di Indonesia, sehingga dapat lebih mengoptimalkan penggunaan listrik dari energi terbarukan, seperti panel surya dan turbin angin.

“Ide konsep dan istilah ini dicetuskan pertama kali oleh para peneliti TREC FTUI, dengan harapan menghadirkan listrik yang ramah lingkungan dan andal untuk peralatan di rumah tangga dan perkantoran,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat UI, Egia Tarigan.

Rumah dengan tenaga listrik dan tenaga surya berbahan kontainer itu, katanya, bisa juga digunakan untuk daerah rawan bencana. “Jadi konsepnya bukan ke arah rawan bencana, tapi sangat memungkinkan dikembangkan ke arah rawan bencana," tuturnya.

"Karena dari segi kelistrikannya," Egia menjelaskan, "Enggak perlu terpaku sama aliran listrik dari PLN saja, yang biasanya kalau sedang bencana kerap terputus aliran listriknya”.


DIkutip dari viva.co.id