Dosen dan mahasiswa Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) melaksanakan penelitian  di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta pada 19 – 21 April 2019. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan perkuliahan mata kuliah Keanekaragaman Hayati Laut (KHL) 2019 mengambil tema “Urban Coral Reef Ecosystem”. Pengamatan dilakukan pada  ekosistem utama yang menjadi tolak ukur keadaan keanekaragaman hayati dan biodiversitas spesies pada wilayah kunjungan, yaitu ekosistem terumbu karang, mangrove, dan lamun, ancaman seperti marine debris serta hal-hal terkait jasa lingkungan.




“Pulau Untung Jawa merupakan salah satu contoh lokasi yang bisa dikategorikan sebagai Urban Ecosystem di laut karena berdekatan dengan kota megapolitan Jakarta,” ungkap Dr. Hawis Madduppa, selaku penanggungjawab mata kuliah KHL. “Kajian tentang urban ekosistem saat ini salah satu penelitian yang sedang tren di dunia termasuk salah satunya keanekaragaman hayati di daerah tersebut’,"  imbuh pakar Biodiversitas Laut IPB ini.




Raihan Hadi Syahputra, mahasiswa peserta kegiatan menyampaikan bahwa kondisi terumbu karang dan keanekaragaman ekosistem pada perairan Pulau Untung Jawa tergolong rendah. Biota yang mendominasi pada wilayah tersebut adalah bulu babi. Lingkungan ekosistem banyak dicemari sampah dan memiliki perairan yang keruh. “Keadaan terumbu karang pada perairan Untung Jawa memiliki tutupan terumbu karang yang rendah. Banyak ditemukan pasir, patahan karang, dan karang mati pada lokasi pengamatan. Kami menjumpai sedikit ikan dan makro bentos. Ekosistem ini mengalami cukup banyak tekanan seperti pencemaran sampah dan limbah domestik," jelasnya.


 


Peserta lainnya, Frend Muhammad menambahkan bahwa kondisi mangrove di wilayah pesisir Untung Jawa tergolong cukup baik dan beragam dari setiap spesiesnya. Kerapatan yang ditemukan pada lokasi cukup tinggi terutama pada bagian barat pulau. Hal ini disebabkan karena wilayah tersebut merupakan tempat konservasi mangrove dimana terdapat banyak tumbuhan mangrove yang menghuni lokasi. Spesies yang mendominasi pada wilayah mangrove Untung Jawa adalah Rhizopora mucronate. 





Sementara itu, Bagus Ade Prasetyo yang juga turut dalam penelitian ini mengatakan bahwa kondisi ekosistem di wilayah pesisir Untung Jawa tergolong buruk. Hal ini disebabkan oleh faktor seperti sampah dan aktivitas pariwisata. Hal ini cukup memprihatinkan, dimana pencemaran ini sangat berpengaruh terhadap kelangsungan pertumbuhan lamun di wilayah ini. ”Biota asosiasi yang dijumpai pada ekosistem lamun cukup beragam meliputi bivalvia, teripang, ikan-ikan kecil, bulu babi dan cacing pipih," ungkapnya.





Pengamatan selanjutnya adalah marine debris.  Kegiatan pengamatan dilaksanakan pada sore hari (19/4) dan pagi hari (20/4) dengan tujuan mengetahui pengaruh kelimpahan sampah. Pengamatan diawali dengan survei kepadatan sampah kemudian mengukur komposisinya pada wilayah pesisir.  Berdasarkan survei kelimpahan sampah plastik pada wilayah timur  didominasi oleh sampah kaca sedangkan  kepadatan sampah pada wilayah selatan di dominasi oleh sampah plastik.




Selanjutnya hasil-hasil penelitian ini akan dipublikasikan melalui berbagai media. “Kami akan membuat video dokumenter, buku ilmiah populer, pameran foto, diskusi ilmiah dan jurnal ilmiah," ungkap Dondy Arafat, M.Si selaku penanggungjawab kegiatan penelitian. “Dengan menggunakan berbagai media ini kami berharap hasil-hasil penelitian dapat menjangkau berbagai kalangan," ungkap peneliti terumbu karang ini.

 


 

Sumber: ipb.ac.id