PreciPalm adalah sebuah aplikasi yang bisa memberikan informasi kebutuhan hara pada perkebunan Kelapa Sawit dengan memanfaatkan citra satelit sentinel dan drone. PreciPalm ini tercipta berkat kerjasama Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan Yayasan Pupuk Kaltim dan PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) III, V dan VII. 


“Eksperimen aplikasi dan uji performansi sudah kami lakukan di kebun demplot di tiga PTPN. Sistem ini diharapkan menjadi salah satu alternatif solusi sistem pendugaan hara dan rekomendasi pupuk pada kebun kelapa sawit berbasis pertanian presisi dan real-time data analytic. Aplikasi ini merupakan bagian dari karakteristik agroindustri 4.0 dengan pemanfaatan sensing devices, drones, satelites dan internet of things,” ujar Rektor IPB, Dr. Arif Satria saat pengujian PreciPalm di PTPN VII, Lampung (22/4).


Menurutnya penggabungan antara satelite dan drone adalah untuk saling mengoptimalkan fungsi sistem ketika harus berhadapan dengan kendala tutupan awan (untuk satelite) dan luasan tangkap image yang terbatas (untuk drone). Hal ini menjadi bagian dari manifestasi perbaikan proses bisnis pemupukan yang biayanya mendominasi proses produksi minyak sawit (kurang lebih 60 persen) dari keseluruhan biaya produksi sawit.


“Untuk menentukan jumlah hara yang dibutuhkan kebun sawit berbasis uji laboratorium, dibutuhkan waktu analisis tujuh hari sampai enam bulan tergantung antrian dan kelengkapan sarana laboratorium. Bagi perkebunan yang tidak memiliki sarana laboratorium tentu ini menjadi kendala karena sampel tanah dan daun harus diambil dari lapang dan dikemas atau dibungkus untuk dikirim ke laboratorium terdekat. Selain itu, ada risiko biaya, penurunan kualitas dan kerusakan sampel ketika dalam perjalanan. Saat ini PreciPalm masih dalam pengujian kinerja dengan melakukan uji demplot di tiga PTPN. Semoga bisa bertambah uji demplotnya di perkebunan sawit lainnya. Tak ada sistem yang sempurna, melainkan harus melalui suatu proses riset dan eksperiman yang kontinyu dan progresif,” ujarnya.


Sementara itu, menurut Dekan Fakultas Teknologi Pertanian, Prof. Kudang Boro Seminar, dengan PreciPalm petani bisa menentukan jumlah pupuk yang diperlukan atau yang direkomendasikan dalam satu wilayah tertentu. PreciPalm sudah memenuhi kaidah-kaidah tentang pertanian presisi. Yaitu kita memupuk dengan variabilitas nutrisi yang ada di lahan. 


“Jadi akan terlihat mana wilayah yang kandungan nutrisinya rendah sehingga harus dipupuk lebih. Jika sudah cukup nutrisinya maka tidak perlu ditambah pupuk lagi. Sehingga dalam satu lahan jumlah pupuk yang diberikan memiliki dosis yang berbeda. Ini disesuaikan dengan variabilitas nutrisi. Kita bisa dengan mudah melihat kondisi suatu lahan di perkebunan sawit sehingga bisa ambil keputusan, dengan berapa pupuk yang diperlukan,” ujarnya.

 

Sumber: ipb.ac.id