Unit Robotika (URO) Institut Teknologi Bandung menorehkan prestasi gemilang pada Kompetisi Robot Indonesia (KRI) Regional II tahun 2019 yang diselenggarakan di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung pada 2-4 Mei 2019.

KRI adalah sebuah kompetisi robotika yang diikuti oleh berbagai mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. KRI 2019 terdiri atas enam divisi, yaitu Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI), Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI), Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Humanoid, Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Beroda, dan Kontes Robot Tematik Indonesia (KRTMI). Pada kompetisi ini, URO-ITB berhasil meraih 3 penghargaan dari 2 sektor lomba yang ada, yaitu Juara 1 untuk divisi KRSTI serta Juara 1 dan Strategi Terbaik untuk KRSBI Beroda.

Pada tahun ini, tema yang harus dibawakan oleh peserta pada divisi KRSTI adalah tari Jaipong, di mana terdapat dua robot penari yang akan tampil di depan juri. Laras, manajer dari Tim KRSTI ITB, mengaku bahwa tarian yang diperlombakan lebih sulit dibandingkan tahun – tahun sebelumnya. “Tari Jaipong ini lebih lincah dan luwes, dan dari segi artistik, banyak menggunakan warna – warna yang cerah,” ucap Laras. 

Berbeda dengan KRSTI, divisi KRSBI Beroda berfokus pada perlombaan sepak bola, dimana 1 tim terdiri atas 2 robot penyerang dan 1 robot penjaga gawang. Pada saat lomba, tim KRSTI dan KRSBI Beroda dari ITB berhasil melalui segala rangkaian kompetisi tanpa adanya kendala dan mendapatkan skor tertinggi.

Dalam rangka persiapan untuk kompetisi ini, terdapat banyak persiapan yang harus dilakukan bagi para tim yang akan berlomba. Persiapannya diawali dengan evaluasi dari perlombaan tahun lalu, studi banding, serta riset terhadap ketentuan perlombaan yang akan diikuti. Robot yang dibuat juga dilakukan beberapa pengembangan dari tahun sebelumnya, yaiturangka yang dibuat lebih ringan, serta gerakan yang lebih cepat dan fleksibel.

“Untuk tahun ini, desain robot KRSBI Beroda diubah agar lebih stabil. Gerakannya juga lebih cepat, lincah, dan fleksibel. Pemrosesan dan pengolahan gambarnya juga lebih advanced,” ujar Ule selaku manajer dari Tim KRSBI Beroda ITB.

Selain faktor teknis masing – masing robot, para tim juga memerhatikan faktor – faktor lain, salah satunya keselarasan dan interaksi antar robot dalam mengembangkan robot mereka. Tim juga melakukan pengujian guna memastikan bahwa robot yang dibuat memenuhi kriteria lomba dan siap untuk bertanding. “Tim kami memutuskan untuk memastikan bahwa kedua robot kami berjalan sinkron dan tidak hanya satu saja yang berjalan dengan sempurna,” jelas Laras. 

Dalam melakukan persiapan untuk lomba ini, terdapat berbagai proses dan kendala yang harus dilalui. Salah satu masalah utama yang dihadapi dari tim – tim tersebut adalah dari segi sumber daya manusia. Tim – tim yang berkompetisi pada KRI Regional II ini terdiri atas mahasiswa – mahasiswa yang berasal dari fakultas berbeda, seperti FTI, STEI, FMIPA, FTMD, dan fakultas lainnya. Oleh karena itu, salah satu kesulitannya adalah dalam hal berkoordinasi dengan mahasiswa yang berbeda – beda tersebut. Beberapa kesulitan lain adalah beban akademik yang cukup tinggi, serta banyaknya kesibukan lain yang tidak bisa ditinggalkan oleh para mahasiswa. 

“Dalam satu tim biasanya ada banyak orang yang berbeda jurusan, oleh karena itu, kami harus jelas dalam membuat timeline, menentukan PJ (penanggungjawab), Kadiv (kepala divisi), dan manajer, serta follow up perkembangan dari tiap anggota tim,” ucap Ule. 

Selain segi SDM, beberapa aspek lain yang menjadi tantangan adalah dana yang terbatas dan perizinan untuk latihan lomba. Namun, dalam menghadapi hambatan tersebut, para anggota tim cenderung proaktif dan senantiasa mencari cara untuk mengatasi masalah tersebut. “Agar bisa mendapatkan dana yang cukup, tim kami juga melakukan beberapa proyek sampingan,” ucap Ule. Selain itu, koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak juga menjadi kunci utama penyelesaian masalah.

Setelah KRI Regional II, para tim yang menang harus mempersiapkan diri dalam menghadapi KRI Nasional. Oleh karena itu, para tim berencana untuk memperbaiki dan meningkatkan performa dari robot – robot mereka. “Dari nilai yang keluar dan evaluasi lebih lanjut, kami yakin bahwa masih banyak hal yang bisa ditingkatkan dari robot kami. Kami juga harus mencari referensi dan pendapat orang lain untuk pengembangan robot,” ujar Laras. 

Selain itu, tim – tim yang berlanjut ke tingkat nasional ini juga berharap ke depannya bisa kembali menang dan mengharumkan nama ITB. Mereka juga berharap di masa depan, URO ITB bisa lebih maju lagi dan menorehkan prestasi di kancah internasional.

URO ITB sendiri adalah unit kegiatan mahasiswa yang berdiri pada 19 Mei 2008 untuk mewadahi minat dari para mahasiswa yang ingin belajar dan mengembankan skill dalam bidang robotika. Di dalamnya terdapat beberapa tim yang memiliki fokus pengembangan di bidang robot sepak bola, robot tari, robot pemadam api, hingga membuat muatan untuk roket.


Sumber: www.itb.ac.id