Universitas Padjajaran menggelar acara retrospeksi Christine Hakim. Acara tersebut menampilkan berbagai film yang dibintangi sang maestro perfilman Indonesia ini.

 

BANDUNG—Perempuan itu muncul dari pintu di sebelah panggung. Mengenakan kebaya modern berwarna merah bermotif wayang, dipadupadankan dengan kain batik senada pula. Tak lupa ia sematkan syal merah di lehernya. Sepatu sneakers putih dan kacamata merah mencolok yang kontras dengan usianya seperti berbicara bahwa perempuan itu tak akan lekang oleh zaman. Tepuk tangan riuh dan siulan beberapa mahasiswa memenuhi auditorium menyambut sang legenda perfilman Indonesia. Christine Hakim.

 

Senyum bintang tak lepas dari wajah Christine. Perempuan usia 62 ini mengaku teramat senang menghadiri Retrospeksi Christine Hakim yang pertama kali diadakan di Indonesia. Ironis ketika acara sejenis telah diadakan di Jepang, Korea, Jerman dan beberapa negara lainnya. Bertajuk “Skenario Hidup Sang Sineas”, retrospeksi ini diadakan di Auditorium Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (Fikom Unpad), Jumat 4 Mei 2018.

 

Christine mengaku tak pernah membayangkan dirinya akan berkecimpung di dalam dunia perfilman. Ia bercita-cita menjadi arsitek dan psikolog. Namun ternyata sutradara kehidupan berkehendak lain. Melalui tangan sutradara Teguh Karya, namanya meledak melalui debut pertamanya di film Cinta Pertama (1973). Usianya yang baru 17 tahun kala itu tak menghalanginya menyabet Piala Citra perdananya sebagai Pemeran Wanita Terbaik. Ia mengaku saat itu belum sadar betul apa yang sebenarnya terjadi. Padahal menurutnya aktingnya dalam film itu biasa-biasa saja.

 

Seiring berjalannya waktu ia semakin menikmati perannya sebagai aktris. Dibawah asuhan Slamet Rahardjo dalam film Ponirah Terpidana (1984) ia menemukan passionnya untuk mengenali lebih dalam permasalahan yang dihadapi masyarakat, utamanya kaum marjinal dan masyarakat kelas bawah. Dalam film Ponirah Terpidana, Christine yang saat itu berusia 28 tahun harus memerankan Trindil, perempuan paruh baya yang menjadi pelacur untuk mengasuh Ponirah, anak majikannya yang dibawa lari karena dianggap membawa sial oleh keluarganya sendiri.

 

Ia mengaku kesulitan mendalami peran tersebut karena sangat berbeda dengan kesehariannya. Sampai Slamet mengajaknya untuk mengunjungi sebuah lokalisasi dan berbicara diantara ribuan wanita tuna susila. “Saya katakan kepada mereka, setiap dari kita pasti punya kekurangan, mbak-mbak disini punya, saya juga punya. Saya punya kelebihan, begitu pula mbak-mbak disini, pasti punya kelebihan. Langsung semua nangis sambil melukin saya”, kenang Christine.

 

Ia pun diajak untuk berkeliling ‘tempat kerja’mereka. Meskipun takut, namun sisi kemanusiaan Christine membuatnya tak sampai hati menolak. Peristiwa itu begitu berbekas dalam benaknya, ia menyadari banyak perempuan yang terpaksa menjajakan dirinya karena tuntutan hidup. Dari film itu ia banyak belajar untuk memahami permasalahan sosial dan memiliki kecenderungan untuk memihak yang lemah. Sampai-sampai suatu hari ketika ia bekerja sama dengan sutradara asal Jepang ia mendapat sindiran halus, “Christine, so are you an actress or social activist?” ujar Christine menirukan sutradara Jepang tersebut sambil tertawa.

 

Perjalanan Sang Legenda Sineas tak berhenti sampai di situ. Tjoet Nja’ Dhien (1988) adalah film yang menjadi turning point perempuan yang telah berkecimpung selama 45 tahun di dunia perfilman ini. Ia mengaku saat menerima peran sebagai Cut Nyak Dien tak memiliki referensi apapun tentang pahlawan wanita asal Aceh tersebut meskipun ia telah menetap di Aceh selama 1 tahun guna melakukan riset terkait tokoh tersebut. “Tak seperti Kartini, sejarah Cut Nyak Dien begitu sulit ditemukan”, ujar perempuan yang telah mengumpulkan 9 Piala Citra tersebut.

 

Menyelami Cut Nyak Dien tak disangka turut membuat Christine menyelami Tuhan. Ia berkontemplasi dan mencari tahu apa yang Tuhan inginkan terhadap dirinya dengan mengetahui sedikit demi sedikit sejarah Cut Nyak Dien. Selama proses pendalaman karakter Cut Nyak Dien yang samar-samar ini, ia memutuskan untuk bermunajat kepada sutradara di atas semua sutradara, penulis skenario diatas semua penulis skenario di sepertiga malam. “Saya minta tuntunan Tuhan agar Ia meridhoi dan mengizinkan saya mampu memaknai apa yang dilakukan oleh Cut Nyak Dien selama hidupnya”, ujar perempuan yang pernah menjadi juri dalam Festival Film Cannes ini.

 

Tiga tahun lamanya pasca film Tjoet Nja’ Dhien rilis, Christine tak bisa lepas dari karakter Cut Nyak Dien. “Selama itu saya masih selalu menangis setiap disinggung tentang Cut Nyak Dien”, kenangnya. Tak heran sepanjang 2,5 jam diskusi dan tanya jawab tersebut diwarnai nuansa religius yang kental. Christine bahkan membocorkan garapan teranyarnya berupa film tentang kematian dan hidup sesudah mati serta masa transisi yang ia yakini pasca melakoni peran Cut Nyak Dien.

 

Film Daun di Atas Bantal (1998) memberikan warna tersendiri dalam hidup Christine. Ini adalah film pertama ia bertindak bukan hanya sebagai aktris namun juga sebagai produser. Berlatar belakang mati surinya perfilman Indonesia, Daun di Atas Bantal adalah pioneer tumbuh kembali jagat perfilman Indonesia. Dibuat pada saat dolar mengalami kenaikan dari Rp 2500 menjadi  Rp 15000, film ini didera dengan berbagai permasalahan pelik mulai dari pengambilan gambar ulang hingga masalah ekonomi. Christine dihadapkan pada dua pilihan, menyerah dan membuat semua hal yang telah dilakukan berakhir begitu saja atau tetap menuntaskan pembuatan film tersebut.  

 

Memutuskan terus berjuang, film yang disutradarai Garin Nugroho ini akhirnya berhasil mendapat apresiasi luar biasa bukan hanya di dalam negeri namun dalam kancah perfilman internasional. Film Daun di Atas Bantal pernah mewakili Indonesia dalam ajang Academy Award sebuah ajang penghargaan film tertinggi dunia dan pernah diputar dalam Festival Film Cannes 1998.

 

Menyaksikan Retrospeksi Christine Hakim membuat kita menapaktilasi kisah hidupnya dan mengenal prinsip hidup yang dijunjungnya hingga berada pada titik ini. Meskipun kiprahnya telah diakui dunia, namun Christine merasa setiap bangun pagi ia bangun dengan semangat untuk menggali lagi sesuatu yang tak ia ketahui. “Saya tidak pernah merasa hebat, saya ingin terus belajar dan bersyukur kepada Tuhan”, ujarnya. Acara yang diselenggarakan oleh Program Studi Televisi dan Film Unpad ini diadakan mulai tanggal 2 hingga 4 Mei 2018. Acara ini juga memutarkan film-film Christine Hakim yaitu Kawin Lari, Ponirah Terpidana, Pengemis dan Tukang Becak, Daun di Atas Bantal dan film dokumenter berjudul Serambi.

 

“Acara ini adalah upaya kita untuk menjadikan film bukan hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan”, ujar Dadang Rahmat Hidayat Dekan Fikom Unpad dalam sambutannya. Ia mengatakan bahwa sudah banyak film-film yang menjadi kajian akademik yang menarik. Di level sarjana, magister bahkan doktor telah lahir banyak kajian tentang film. Salah satu topik kajian yang pernah diangkat dengan apik oleh mahasiswa TV dan Film Unpad adalah film-film karya Garin Nugroho. “Jadi ini bukan sekedar acara memutar film tapi ada nilai-nilai budaya, sosial yang didapat. Bahkan kita bisa mempelajari film sebagai bentuk komunikasi yang efektif”, tambahnya.

 

Pada acara ini juga terdapat pameran yang menampilkan naskah film Cinta Pertama, Kawin Lari, Cut Nyak Dien, dan Di Balik Layar Kelambu. Selain itu sederet piala penghargaan yang diterima Christine baik di dalam negeri maupun di dunia internasional pun ditampilkan di ruang pameran. Jasmine Shafira, selaku ketua acara menyatakan pemilihan Christine Hakim sebagai tokoh yang diangkat akan memotivasi mahasiswa untuk berkarya kedepannya. “Karya-karya beliau, tak hanya ketika menjadi aktris adalah sesuatu yang kami kagumi hingga kini”, ujar mahasiswa Televisi dan Film angkatan 2016 ini.

 

Acara Retrospeksi Christine Hakim ini dapat berlangsung berkat kerjasama dengan Pusbangfilm, Sinematek dan Pikiran Rakyat. Maman Wijaya selaku Ketua Puslitbangfilm mendukung penuh acara sejenis ini. Ia pun mengatakan komitmennya untuk merestorasi arsip perfilman Indonesia yang saat ini kian memprihatinkan dan mengajak Unpad untuk melanjutkan kerjasama yang baik di bidang perfilman. Ia berencana untuk membangun Episentrum Perfilman Jatinangor yang didalamnya memuat kegiatan pendokumentasian dan pelestarian perfilman Indonesia.

 

Tak lupa ia menegaskan bahwa prinsp perfilman di Indonesia adalah Berketuhanan Yang Maha Esa sehingga sudah semestinya film-film Indonesia mengandung unsur yang dapat mendekatkan penontonnya kepada nilai-nilai Ketuhanan. “Cerita bisa berubah tetapi prinsip ini tidak boleh berubah”, pungkasnya diiringi angguk yakin Chritsine Hakim dan jajaran tamu VIP.

 

Nur Novilina A.