Yogyakarta—Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada meresmikan Ruang Riset dan Inkubasi Pengolahan Kakao atau laboratorium pengolahan kakao, pertengahan April lalu. Dalam acara tersebut, UGM mendapat bantuan sepuluh alat pengolah kakao dari PT Mayora Indah Tbk. “Indonesia adalah salah satu penghasil kakao terbesar tapi selama ini hanya menjual mentahnya saja. Kami ingin mengubah itu, dari penjual kakao menjadi produsen cokelat,” ujar Dekan Sekolah Vokasi UGM, Wikan Sakarinto seperti dilansir situs resmi UGM.

Wikan mengatakan pengembangan produksi olahan kakao ini menjadi langkah awal bagi program pemberdayaan masyarakat yang sedang dipersiapkan UGM di Kabupaten Kulon Progo. Peralatan ini, ujarnya, bisa dimanfaatkan oleh seluruh sivitas akademika Sekolah Vokasi maupun dari fakultas lain di UGM sebagai sarana untuk kegiatan pembelajaran maupun pengabdian. Dengan adanya peralatan baru ini, ia berharap sumber daya manusia di UGM  lebih kreatif, terampil, dan inovatif, terutama dalam mengembangkan produk kakao. “Ini menjadi satu langkah awal dalam payung besar program teaching industry yang akan memberdayakan masyarakat lokal,” ujar dia.

Dalam rencana pengembangan tersebut, kata Wikan, UGM perlu bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dari sektor industri. Dalam bidang agroindustri, salah satu mitra yang digandeng adalah PT Mayora yang juga bergerak di bidang pengolahan makanan. “Ini adalah bagian dari proses link and match yang terus berkembang. Kerja sama ini diawali dengan nota kesepahaman yang di dalamnya ada upaya untuk kemaslahatan masyarakat, khususnya dalam bidang agro dan pangan,” kata Wikan.

Sepuluh alat yang diterima dari PT Mayora adalah alat ukur kadar air biji kakao tipe digital (digimost), mesin sangrai kakao (roaster), alat uji belah kakao, mesin pemecah kulit dan pemecah biji kakao sangrai (desheller), mesin pemasta kasar cokelat, mesin penghalus lanjut (refiner), mesin koncing, perangkat pencetak adonan cokelat, pengempa lemak manual, serta mesin pembubuk cokelat.

Perwakilan dari PT Mayora Johan Budi, mengungkapkan antusiasmenya untuk bekerja sama dengan UGM. Ia memuji semangat dan tekad UGM untuk terlibat langsung dalam menggerakkan berbagai sektor perekonomian masyarakat. Ia pun menyatakan dukungan terhadap upaya-upaya kerja sama dalam bentuk lain yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas. “Masih banyak hal lain yang bisa kita kerjakan bersama, dan saya harap di waktu mendatang kerja sama kita bisa berbuah banyak,” ujarnya.

Vivi Priliyanti