Amarah terlihat mengepul di ubun-ubunmu,

denting gelas dan sendok yang beradu, kau pikir suara mereka yang sedang mengadu.

Mereka tertawa, kau memicingkan mata,

argumen berbeda, dosa!

 


Jika ikan memakan otakmu, mereka tak akan lagi mau mendekati jaring dan pancing.

Andaikan pelangi ditempeli matamu, yang ada di langit hanyalah kelabu.


 

Ubun-ubunmu bagaikan cerobong asap tua,

dari kereta api yang terus-menerus melaju,

menguarkan asap hitam awal polusi,

membuat tumbuhan mati,

hewan-hewan berhenti berlari,

dan manusia lain teracuni tanpa disadari.


 

Saat mereka menangis,

kau melepas dahaga dengan air berbau amis.