Satu per satu bola mata menggelinding dari rongganya, dan akulah yang bertugas memunguti benda busuk itu. Kusebut busuk karena memang begitulah adanya. Bola-bola itu menguarkan bau yang menusuk hidung, juga lendir yang membuat tanganku lengket. “Arghh—“, mulai terdengar jerit sahut-menyahut, saat Garang menjahit bola mata baru pada rongga mata pasien. Spontan kuusap mataku, teringat peristiwa beberapa tahun lalu, ketika aku berada di posisi mereka yang kini terbaring lemah.

 

Setelah memotong benang terakhir, Garang mencuci tangannya lalu melenggang menyusuri koridor menuju segerombolan pasien bisu yang sudah tidak sabar ingin segera bisa berkata-kata. Lelaki paruh baya itu memberi isyarat agar aku mengikutinya. Dengan terpogoh kumenyusul langkahnya yang panjang. Terpogoh pula kami melanjutkan rutinitas ini. Pekerjaan rutin yang betul-betul tidak mengenal hari libur, tidak memihak pada ketenangan pikiran, juga seringnya membuat gundah perasaan.

 

Asal kalian tahu, dalam satu hari kami bisa menangani puluhan hingga ratusan pasien. Paling banyak pasien yang datang adalah mereka yang buta, bisu, dan tuli. Tak terbayangkan lagi bagaimana menjelaskan rasa lelah ini, karena bukan hanya menyangkut fisik. Selama memberikan pengobatan, selain tangan sibuk dengan peralatan bedah, otak kami pun sibuk mengenyahkan pikiran buruk ihwal penggerebekkan yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi.

 

Garang sudah mengalami penggerebekkan sebelumnya, namun berhasil meloloskan diri dan kembali membuka praktik hingga hari ini. Sebuah praktik terlarang yang bisa menghilangkan nyawa pelakunya, seperti yang dulu telah menimpa satu rekan kami. Aku pernah bertanya pada Garang ihwal mengapa pekerjaan menyembuhkan penyakit ini dianggap sebagai aktivitas terlarang, namun sampai hari ini, laki-laki yang sudah kuanggap sebagai ayahku itu tetap saja bungkam.

 

Masih dengan pikiran yang berkecamuk dan perasaan gundah, aku membantu Garang memotong pita suara lama para pasien, untuk diganti dengan pita suara yang baru. Kami memiliki banyak persediaan organ-organ tubuh, yang hingga hari ini tidak kuketahui dari mana asalnya. Aku tidak pernah melihat ada orang yang mengirimkan organ-organ tubuh ini, tidak pula memergoki Garang membawa semua itu dari luar. Mereka tiba-tiba saja sudah berada di situ, memenuhi seluruh lemari di ruangan pendingin.

 

Di tengah keanehan-keanehan yang terjadi, aku masih merasa aktivitas yang kami lakukan adalah hal yang benar. Begitu pula dengan anggapan mayoritas orang-orang sekarang ini. Kian hari, pasien kami semakin banyak, beberapa di antara mereka adalah orang yang awalnya menyangsikan penyembuhan ini, hingga akhirnya mereka merasakan segala manfaatnya. Manfaat yang tidak hanya berdampak pada individu, tapi juga bagi lingkungan sosial. Lingkungan menjadi semakin sehat, lebih sejahtera karena orang-orangnya sudah berdaya, dan semakin bahagia akibat hilangnya kekurangan yang selama ini ada.

 

Seharusnya, pemerintah mendukung praktik penyembuhan kami ini, bukannya mengecam dan menjadikan kami sasaran tembak. Seharusnya itu yang terjadi, ya—dan seharusnya bukan pemandangan seperti detik ini pula yang kudapati. Pemandangan ganjil tentang pasien di ranjang nomor 52. Pasien yang sedang menunggu giliran operasi itu seharusnya berbaring, bukannya berdiri sambil menodongkan senapan. Seharusnya juga, orang-orang berbaju dan bertopeng hitam itu tidak mengetahui tempat praktik kami yang tersembunyi di balik lereng. Menyadari ketidakberesan ini, cawan berisi pita suara yang kugenggam terjatuh, membuat Garang menoleh dan melihat keberadaan orang-orang itu.

 

Tidak sesuai dengan namanya, ekspresi Garang sangat tenang. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya, kendati pun mulut senapan sudah menempel di pelipis keriputnya. Barulah, setelah selesai dengan urusannya, ia menoleh padaku untuk memberikan isyarat bahwa kami harus tetap tenang. Dan betulan, dengan penuh ketenangan, Garang berhasil mengubah posisi mulut senapan menjadi di pelipis lawannya.

 

Perlawanan Garang menyulut anarkisme orang-orang berkostum hitam. Dengan membabi-buta, mereka menyerang kami, juga berusaha menghancurkan bangunan ini. Peralatan medis juga organ-organ manusia berjatuhan. Ratusan bola-bola mata menggelinding, dan pita-pita suara menghasilkan bunyi bising yang sungguh mengganggu. Di tengah kegaduhan ini, untuk beberapa saat tak kulihat lagi sosok Garang. Terlebih, pandanganku terpaku ketika segerombolan perusak ini membuka topeng mereka. Ternyata, di balik topengnya, mereka tidak memiliki mata, pita suara, juga daun telinga. Kengerian menyeruak saat memikirkan leher dan kepala orang-orang itu penuh dengan rongga.

 

Rongga-rongga menganga paling mengerikan yang kulihat adalah rongga dari sesosok tubuh yang baru saja menimpaku. Sangat kukenali janggut tipis yang menghiasi dagu runcing, juga tahi lalat di dahi lebar itu. Garang tumbang di hadapanku. Entah bagaimana caranya, walaupun sudah tak memiliki bola mata, kusadari ia memberikan isyarat seperti biasanya. Isyarat yang menyatakan bahwa kini sudah tiba waktuku untuk menyusulnya, dan tiba juga waktu kami buat menyudahi ini semua.

 

Di tengah gelindingan bola-bola mata, diiringi jeritan pita-pita suara yang tak bertuan, dan saat berhamburannya daun-daun telinga dari toples kaca, kusadari bahwa inilah jawaban dari pertanyaanku selama ini. Pertanyaan yang jawabannya tetap disimpan oleh Garang sampai mati. Aku menyadari bahwa hampir seluruh makhluk di dataran yang kutinggali tak memiliki segala yang berhamburan di bangunan ini. Leher dan kepala mereka berongga, mereka adalah makhluk yang tak bisa melihat, mendengar, dan berbicara.

 

Kami dan Garang menyebarkan penyakit di tengah kenormalan yang kami anggap tidak normal. Kami perusak makhluk seperti mereka. Dan akibat bagi perusak adalah juga harus dirusakkan, begitulah adanya, sekarang kurasakan perih menjalar waktu sesosok hitam mencabut sebelah bola mataku dan melemparkannya dengan ringan. Kumelihat kejadian itu dengan sebelah mata kiriku, atau mata kananku, entah.


Oleh: Vivi P.