By : dewiiqu

 

Aku menyambar jaket sekenanya dan segera berlari menuruni tangga asrama. Kalimat singkat yang kudengar barusan berdengung di telingaku tak berhenti ‘Kondisinya kritis’. Tak lama aku telah sampai di rumah wakil kepala sekolah bidang keasramaan untuk ikut menuju rumah sakit tempatnya dirawat. Napasku masih tersengal ketika aku sampai dan tanpa pikir panjang kami segera berangkat.

***

Juli 2008

“Halo nama saya Anin, senang berkenalan denganmu.” Katanya sambil tersenyum lebar.

“Ah ya, senang bertemu denganmu juga.”

Itu adalah hari pertama aku berkenalan dengannya, tepat saat siswa baru harus masuk asrama. Aku bersekolah di sebuah boarding school di Sulawesi, dan siswa disini berasal dari berbagai daerah dengan suku yang bermacam-macam.

“Nesia darimana asalnya?” ia bertanya sambil tersenyum, aku baru menyadari suaranya yang lembut itu kali kedua ia bicara. Menurutku logat bicaranya agak aneh dan sangat cepat, hampir sulit kutangkap kalimatnya barusan, entah mungkin karena aku baru kali ini mendengar logat seperti ini.

“Aku berasal dari daerah selatan Jawa Timur, mungkin kalau kusebutkan kamu gak akan tahu.” Kataku sambil tertawa sedikit karena kebanyakan teman-teman baruku tak tahu daerah yang kusebutkan. Lalu kulanjutkan, “Kamu sendiri darimana?”

“Oh saya dari Makassar. Saya sudah datang dari satu minggu lalu tapi masih sepi orang.” Oke telingaku tak menangkap hampir semua kalimatnya yang terlalu cepat ia ucapkan. Aku tertawa sebentar.

“Bisakah kamu memelankan kecepatan bicaramu?” kataku hati-hati takut ia tersinggung “Aku tak bisa menangkap hampir semua kalimatmu. Maaf.” Dia tertawa sampai air matanya keluar.

“Maafkan saya, saya terbiasa berbicara dengan sangat cepat disana. Saya akan mencoba bicara lebih pelan. Saya sudah satu minggu disini, tapi baru beberapa orang yang datang.” Katanya mengulang kalimatnya tadi.

“Oooh” kataku mengerti dan tertawa. Kami bertetangga kamar di asrama jadi ia mulai sering berkunjung ke kamarku. Setiap kamar diisi empat siswa lengkap dengan dua tempat tidur bertingkat, dua kamar mandi, empat meja belajar, dan dua lemari baju dengan dua pintu. Demi kenyamanan siswanya semua telah disiapkan termasuk makan dan makanan ringan selama kami disini. Jadi tugas kami disini hanyalah belajar tanpa memikirkan hal lain.

Sejak hari itu aku mulai sering melakukan kegiatanku bersama Anin. Semakin lama aku mengenalnya, aku semakin tahu bahwa ia memiliki hati yang sangat lembut. Namanya Anindya Raihani, saat itu ia masih berusia 15 tahun. Ia lahir dan besar di Makassar kemudian melanjutkan sekolahnya di sekolah kami, di Gorontalo.

***

Juni 2009

Kami berjalan berdua menuju gedung pendidikan siang itu seusai makan siang di kantin pusat. Tiba-tiba ia menggandeng tanganku.

“Nes, akhir-akhir ini saya merasa sering sakit perut deh.” Logatnya sudah banyak berubah karena terlalu lama bergaul denganku. Aku sendiri juga mengalami perubahan logat semenjak disini.

“Kamu salah makan kali, atau masuk angin. Makanya jangan suka mandi malam.” Protesku yang tahu kebiasaan buruknya itu.

“Bukan Nes, tidak sama. Saya rasa.” Katanya sambil mengedikkan bahu.

“Sudah ke poliklinik?”

“Mmmm belum sih. Mungkin nanti sore deh.”

“Baiklah, tapi maafkan aku, aku tak bisa menemanimu karena harus berlatih voli untuk persiapan agustus nanti.”

“Tak apa, kau kira saya anak kecil.” Katanya sambil tertawa.

Malam harinya ia mengatakan padaku bahwa perawat yang bertugas di poliklinik hanya mendiagnosa masuk angin saja dan melarangnya mandi setiap malam. Kebetulan dokter tak bisa datang sore itu. Saat itu aku hanya bersyukur karena bukan penyakit yang serius yang sering dialaminya itu.

***

Juli 2009

Aku merasa ada yang aneh dengannya, seringkali ia menghindariku ketika sedang berada di masjid. Ia lebih sering duduk sendiri di bagian ujung. Aku berprasangka baik bahwa ia sedang ingin sendiri untuk semakin mendekat pada Tuhannya. Aku tak ambil pusing kala itu, toh setelah itu ia tetap baik-baik saja bersamaku.

“Nes, ayo. Saya sudah sangat lapar.” Katanya berusaha ceria, aku tahu ia menyembunyikan sesuatu dariku. Wajahnya pucat seperti menahan rasa sakit tapi ia masih tersenyum sangat tulus seperti tak merasakan apa-apa. Aku terdiam sebentar karena mengamatinya. “Nes, ayolah. Saya punya perut sudah minta diisi ini.”

“Oh ayo ayo.” Jawabku gelagapan dan berdiri. Kami kemudian berjalan menuju kantin pusat. “Astaga, ikan lagi.” Kataku menggelengkan kepalaku. Anin tertawa.

“Ya namanya dekat dengan laut, jelas saja kau makan ikan tiap hari. Sudah terima saja, bersyukur kita masih bisa makan.” Aku langsung mengiyakan sebelum ceramahnya tentang keberuntungan dan ketidakberuntungan dimulai lagi setiap menyangkut menu kantin yang selalu ikan.

Kami menuju antrian dan menyapa teman-teman kami yang lain. Obrolan ketika mengantri makan selalu dapat membunuh waktu. Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah meja makan bagian laki-laki.

“Alwan ulang tahuuuuuunnnnnn” diikuti sorakan yang menggema seperti di stadion bola. Aku menyikut Anin sambil mengedipkan mata.

“Apa sih, saya tidak ada apa-apa dengan dia” jawabnya dengan pipi bersemu merah.

“Loh aku tak mengatakan apapun kok, ih kamu mikir apa hayoo” kataku menggodanya, aku tertawa puas.

Kami segera mencari tempat duduk kosong setelah mendapat jatah makan malam. Satu suap, dua suap, tiba-tiba Anin berdiri.

“Nes, saya mau ke kamar mandi dulu” katanya dan langsung berlari, aku tak sempat menjawabnya. Ah mungkin ia hanya sudah tak tahan menahan pipis, kataku dalam hati. Cukup lama aku menunggunya hingga kembali. Wajahnya justru semakin pucat.

“Nes, saya sudah ya makannya. Sudah tidak enak makan. Besok saja saya sarapan.”

“Wajahmu pucat loh, ayo kita ke poliklinik saja.” Kataku membujuknya.

“Saya tidak apa-apa. Hanya sakit perut kok. Palingan hanya masuk angin biasa.”

“Yasudah, aku antar saja kau ke kamar ya? Nanti biar aku yang minta izin ke ustadz kalau kau sakit.” Ia hanya mengangguk, mungkin sudah terlalu lemas untuk bicara. Malam itu aku tak menyadari bahwa sahabatku sudah sangat kesakitan, karena ia satu-satunya orang yang tak mau membuat orang lain khawatir. Jadi sesakit apapun ia, ia akan tetap tersenyum di depanku.

***

Keesokan harinya, aku membujuknya untuk beristirahat saja di poliklinik. Karena wajahnya masih sangat pucat, aku sadar ia pasti masih menahan rasa sakit perutnya itu.

“Aku pergi dulu ya, nanti istirahat aku kesini. Istirahat makan siang juga nanti aku sempatkan menengokmu.” Ia hanya mengangguk dan tersenyum. Tak kudengar suaranya.

Aku sempat menanyakan kondisinya pada perawat poliklinik, katanya ia hanya terkena maag sehingga aku tak perlu terlalu khawatir. Aku berpamitan dan segera berangkat. Aku tak tahu pagi itu ia telah memuntahkan bubur sarapannya, lama setelah itu aku baru mendapatkan cerita lengkapnya.

Sore hari sepulang sekolah, aku menjenguknya kembali, perawat memintaku untuk memanggil pembina asrama. Aku ingin bertanya lebih lanjut, tapi aku melihat kondisi Anin. Kuurungkan niat bertanyaku dan aku berlari menuju rumah pembina asrama. Tak butuh waktu lama, kami segera menuju poliklinik.

Ustadzah, dia harus dibawa ke rumah sakit. Kondisinya tak juga membaik.” Dokter jaga hari itu mengatakan kabar yang cukup mengejutkan untukku. Aku beranjak dari sana dan menghampiri Anin.

“Kenapa kamu masih tersenyum?” kataku menahan tangis, hingga kugigit bibirku untuk membantu menahan tangisku.

“Saya tidak apa-apa kok, cuma sakit sedikit, Nes.” Jawabnya lirih masih dengan senyumnya. “Ih kau cengeng, buat apa kau menangis, saya masih disini dan baik-baik saja kok.”

Aku menghapus air mata di ujung mataku, “Ah tidak, siapa juga yang nangis.” Kataku sambil pura-pura tertawa. Tapi kugenggam tangannya erat, agar ia tahu bahwa ia tak pernah sendiri. Malam itu juga ia dipindahkan ke rumah sakit. Sayang aku tak bisa mengantarnya dan menemaninya selama ia disana. Aku harus memenuhi tanggung jawabku untuk tetap mengikuti kegiatan sekolah.

***

Hari Jumat itu, kabar bahwa kondisi nya kritis telah sampai padaku. Aku tak peduli jika pembina asrama melarangku untuk ikut, aku tetap berangkat bersama wakil kepala sekolah bidang keasramaan untuk menjenguknya. Sesampai di rumah sakit, aku melihatnya tidur dengan tenang tanpa merasa kesakitan, tapi selang oksigen telah dipasang di hidungnya.

“Sekarang kondisinya sudah kembali stabil, tadi sempat drop beberapa saat.” Dokter menjelaskan, “Bapak, tolong ikut saya sebentar ke ruang kerja saya.” Kata dokter itu melanjutkan.

“Nes, kamu disini saja ya, temani Anin. Ya walaupun dia sedang tidur setidaknya kamu bisa menemaninya.” Kata bapak wakil kepala sekolah padaku dan aku hanya mengangguk patuh. Aku bersyukur karena tak terjadi hal buruk padanya. Malam itu aku hanya menunggunya hingga pukul sembilan, karena aku harus berada di asrama sebelum pukul sepuluh.

***

Keesokan hari.

Siang hari itu tiba-tiba semua siswa dari kelas X hingga XII diminta untuk berekumpul di masjid. Aku benar-benar tak mengerti dan tak berpikir tentang apapun ketika kami diminta berkumpul. Tak lama, bapak wakil kepala sekolah bidang keasramaan maju dan berdiri diatas podium. Beliau mengucap salam dan doa, kemudian berkata.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Anak, kakak, adik, dan sahabat kita telah kembali padaNya.” Beliau berhenti sebentar, aku terdiam dan belum bisa memahami semua ini, hingga akhirnya seseorang memelukku dari belakang dan berbisik “Nes, ini yang terbaik.” Seketika itu aku sadar apa yang terjadi, aku sudah tak bisa melihat kedepan, semuanya buram tertutup air mataku yang menderas.

“Hasil diagnosa dokter ternyata salah, saudari kita tidak terkena maag, tapi terdapat tumor di ginjalnya sebesar 13 cm. Tadi pagi tepat pukul 10 kami pihak sekolah dihubungi untuk segera ke rumah sakit karena kondisinya semakin drop. Dan alhamdulillah saudari kita sekarang telah dibebaskan dari rasa sakitnya. Nanti sore jenazah akan diantarkan ke sekolah, dan kalian dapat mengucapkan kata terakhir untuknya nanti. Nanti langsung kita mandikan dan sholatkan, dan besok pagi akan dipulangkan ke Makassar.” Penjelasan beliau masih sayup-sayup terdengar olehku. Aku ingin bertemu dengannya.

Sore harinya, aku berjalan bersama teman-temanku yang lain menuju rumah bapak wakil kepala sekolah bidang keasramaan. Aku melihatnya, ia dibaringkan di ruang tamu, ditutup kain batik, tapi aku bisa melihat wajahnya. Aku mendekat, menggigit bibir, menahan tangis yang hampir tak bisa kutahan. Aku melihatnya, ia masih tersenyum sangat tenang, dan wajahnya tetap pucat. Hal yang berbeda, ketika kucium pipinya dan mengucap pisah, badan Anin sudah sedingin es. Aku hampir menangisinya, aku sadar inilah yang terbaik, agar ia tak menahan sakit yang teramat lagi. Ia adalah bidadari, dan ia tersenyum padaku.

***

 

Cerita ini saya persembahkan untuk sahabat dan saudari saya tercinta, Akifah Rahmat.