Beberapa hari yang lalu kita dikejutkan oleh berita tentang seorang aktivis mahasiswa yang juga merupakan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Zaadit Takwa, yang ‘menyemprit’ dan memberikan kartu kuning kepada Presiden Jokowi usai memberikan pidato di acara Dies Natalis UI. Bicara tentang aktivis pergerakan mahasiswa saya teringat senior Zaadit ini. Seorang mahasiswa Fakultas Sastra UI, aktivis pergerakan mahasiswa angkatan 66, meninggal muda saat mendaki ke puncak Gunung Semeru karena menghisap gas beracun tepat sehari sebelum hari ulangtahunnya. Yup siapa lagi kalau bukan Soe Hok Gie. Sejauh pembacaan sekilas saya, saya tidak menangkap banyak kemiripan antara Zaadit dan Soe (panggilan akrab Soe Hok Gie). Kalau lihat secara fisik Zaadit cukup berisi sedangkan Soe kerempeng, Zaadit dikabarkan dekat dengan salah satu partai islam, Soe justru sering bentrok terhadap organisasi islam, terlepas dari ideologi apa yang mereka bawa tapi satu kesamaan mereka, bersikap kritis terhadap penguasa. Dan saya tertarik mengulas kembali buku harian Soe Hok Gie yang sudah mencapai cetakan ke-15 pada tahun 2015.

 

Buku Catatan Seorang Demonstran (CSD) yang merupakan catatan harian Soe Hok Gie ini dicetak pertama kali pada tahun 1983, diterbitkan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Beruntung saya memiliki buku cetakan ke-10 tahun 2011 yang sudah dilengkapi ulasan pers tentang peluncuran buku tersebut sehingga saya bisa membayangkan situasi kondisi di masa tersebut. Maklum saya belum lahir saat buku ini diterbitkan pertama kali. Beberapa tokoh merasa catatan harian tersebut terlampau pribadi dan tak layak untuk menjadi konsumsi publik. Sebut saja Salim Said yang menulis di Tempo, 6 Agustus 1983 merasa bahwa buku tersebut cukup ‘aneh’ diterbitkan jika niatnya untuk meneruskan usaha yang telah dimulai Soe Hok Gie. “Mengapa justru bukan karangan-karangan almarhum yang dikumpulkan untuk diterbitkan?” tulisnya.

 

Setali tiga uang dengan pendapat Salim Said, Hidayat Sutarnadi dalam Optimis September 1983 menuliskan bahwa buku catatan harian semacam CSD belum mencerminkan penulisan buku secara utuh. Bahkan menurutnya buku tersebut mirip cerita silat dimana Soe Hok Gie-lah jagoan silatnya sedangkan semua yang berlawanan dengan dia adalah penjahatnya. Ia merasa bahwa bacaan tersebut kurang layak untuk direnungkan guna menambah pengetahuan mengenai kehidupan kemahasiswaan khususnya.

 

Barangkali karena itu pula penerbit dan Yayasan Mandalasiliwangi menerbitkan buku kumpulan pemikiran Soe Hok Gie yang dimuat di surat kabar berjudul Zaman Peralihan. Namun tulisan kali ini tidak akan membahas Zaman Peralihan. Tulisan ini justru akan mengungkap sisi terpribadi dari seorang Soe Hok Gie.

 

Catatan harian yang dibukukan tampaknya memang selalu mengalami dilema besar terutama di kalangan orang-orang terdekat (biasanya buku catatan harian diterbitkan jika penulisnya sudah tiada). Lihat saja buku Diary of Anne Frank, sebuah catatan dari gadis kecil berkebangsaan Yahudi yang menuliskan kekejaman Nazi. Sebelum diterbitkan, konon ayahnya membaca lagi dan lagi tetapi masih juga ragu haruskah ia merelakan hal terpribadi dari putrinya disebarluaskan. Namun ada banyak hal dan pemikiran dari buku tersebut yang layak untuk diketahui publik akhirnya pihak keluarga merelakan buku tersebut disebarluaskan. Sama seperti buku CSD. Kita seperti menelanjangi Soe, membaca pikiran terdalamnya yang mungkin saja tidak dikeluarkannya saat di depan publik. Soe dikabarkan cukup banyak dibenci orang karena seringnya mengkritik dan beradu argumen. Meskipun begitu dalam catatan hariannya kita akan sering menemukan kalimat seperti “Aku diam saja, nanti dia marah”. Artinya sekeras apapun Soe dalam kehidupan nyata, ia tetap juga memikirkan pertimbangan sosial meskipun dalam kadar yang tidak terbaca oleh khalayak luas.

 

Belum banyak buku harian yang diterbitkan dan disebarluaskan di Indonesia, barangkali yang termasyhur selain CSD adalah Catatan Harian Ahmad Wahib dan Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru. Sehingga barangkali masih menjadi sesuatu yang tabu dengan kultur budaya kita untuk membicarakan seseorang secara pribadi. Berkebalikan dengan pendapat Salim Said, saya justru menikmati kalimat-kalimat ‘receh’ di sela pemikiran-pemikiran berat Soe. Misalnya saja setelah membahas Revolusi Indonesia, Revolusi Perancis dan Rusia, tentang disintegrasi dan sikap acuh tak acuh yang melahirkan korupsi dan ademokrasi di bawah kepemimpinan Soekarno, Soe mengakhiri tulisannya dengan mengatakan “Pamanku sekarang ribut ngobrol di depan. Dia pun klik pemeras dan borjuis gede”. Bagi saya ini mendekatkan saya pada Soe. Kita seakan-akan mengenalnya secara personal.

 

Meskipun benar juga pendapat Hidayat Sutarnadi yang mengatakan bahwa kelemahan buku tersebut adalah ketidaktaatasasan penyebutan nama-nama tertentu. Beberapa nama dibiarkan asli ketika menggambarkan adanya tindakan korupsi, indikasi suap dan komunis, pengkhianatan dan lain-lain. Sebut saja Mr. Suprapto, Sudigo, Hendrayogi, Mr. Soebardjo, dll. Hal ini tentu akan berdampak pada kehidupan mereka yang namanya tercantum. Minimal adanya persepsi negatif dari masyarakat kita karena mendapat sebuah gambaran subjektif dari seseorang.

 

Buku tersebut dibagi menjadi beberapa bagian, penerbit sengaja mengklasifikasikan rentang waktu menulis Soe sesuai dengan konten yang ada pada tulisan-tulisan di catatan hariannnya. Ada enam episode yaitu: Masa Kecil; Di Ambang Remaja; Lahirnya Seorang Aktivis; Perjalanan ke Amerika; Politik, Pesta dan Cinta; dan yang terakhir Mencari Makna. Pada jeda antara tahun 1964 dan 1968 catatan hariannya justru hilang dan digantikan sebuah tulisan tanpa tanggal berjudul Catatan Seorang Demonstran yang menjadi judul buku tersebut. Saya cukup menyayangkan hal tersebut padahal periode ini adalah periode terpenting Soe sebagai seorang aktivis pergerakan mahasiswa. Meskipun begitu, saya tetap menikmati bagaimana Soe menggambarkan aksi long march nya di depan Kementerian. Rombongan mahasiswa terus menerus bernyanyi yel-yel yang menurut saya atraktif dan sangat bergelora.

 

Menteri goblok, menteri goblok, goblok apa sekarang

 

Goblok benar, goblok benar, goblok benar sekarang

 

Jadi saya rasa kartu kuning? Belum ada apa-apanya. Zaadit masih sangat santun.

 

Sebagai mahasiswa sastra terlihat memang kecenderungan Soe pada aliran Manifestasi Kebudayaan (Manikebu) yang merupakan lawan aliran Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Ia adalah penentang keras Soekarno dan ideologi Nasionalisme, Agama dan Komunisme (NASAKOM), ia anti-komunis namun entah mengapa ia pula yang paling keras dalam pembunuhan massal simpatisan komunis di Bali, menurutnya itu tidak sesuai dengan keadilan dan kemanusiaan. Sayang perihal itu tak banyak dibahas dalam buku ini.

 

Buku ini juga banyak membahas kisah percintaan Soe dengan ketiga wanita yang akhirnya kandas karena isu materialisme dan rasialisme. Orang tua perempuan-perempuan tersebut tidak pernah merestui kedekatan anak mereka dengan Soe karena dinilai tidak memiliki masa depan. Saya suka membaca pendapatnya tentang perempuan, tentang konsep berkeluarganya meskipun tak sepenuhnya setuju. Misalnya saja pada tanggal 20 Juni 1969 ia menulis:

 

Saya ingin punya istri yang dapat diajak dalam ‘gila-gilaan’ dan ‘kluyur-kluyuran’. Hidup bukanlah sekedar kerja rutin, bikin anak dan gosip. Rasanya saya relax kalau ngobrol dan tertawa-tawa dengan dia (Sunarti). “Persoalan kita adalah bagaimana kita dapat menipu diri kita”, kata saya.

 

Selain Sunarti, Soe juga terlibat perasaan emosional dengan Rina dan Maria seperti ditulisnya pada 20 Agustus 1969.

 

Saya pulang bersama Rina. Saya merasa mesra berjalan di lapangan rumput menuju rumah Harsja dan I do know I feel very lonely after “emotional trouble with Maria”, sometimes I do feel that I want to put my hand in her shoulder, but I know these means something for her. So I try to be fair. I do not want to make any difficulties, but when somebody feels lonely he needs a girl whom be can love and beloved.

 

Sisi-sisi ‘buaya’ Soe memang tak disembunyikan dalam buku tersebut, namun saya lebih berfokus pada rasa kesepian yang seringkali hinggap dalam dirinya. Rasa kesepian dan terasing itu melahirkan penderitaan yang barangkali membuat amarahnya begitu besar kepada kehidupan. Hal ini menjadi dapat dimaklumi mengingat Soe juga mengaku dirinya adalah seorang atheis yang tidak percaya adanya Tuhan. Seandainya ia sedikit saja meyakini adanya Tuhan, barangkali ia tak akan se-kesepian itu.